Rabu, 27 Mei 2015
Tribunnews.com

Bergantung di Pelepah Daun Pohon Kepala

Selasa, 27 Desember 2011 00:20 WIB

Bergantung di Pelepah Daun Pohon Kepala
SERAMBI Banda Aceh/BUDI FATRIA
Pekerja merehab monumen tsunami kapal diatas rumah di Desa Lampulo, Banda Aceh, Minggu (25/12). Untuk mengenang tujuh tahun bencana gempa dan tsunami masyarakat dikawasan tersebut akan menggelar doa bersama. (SERAMBI/BUDI FATRIA)

Lailahailallah, Lailahailallah, Lailahailallah...

HANYA kalimat itu yang terus kuucapkan berulang kali, begitu juga dengan para tetanggaku yang sedang terduduk di halaman rumahku di Desa Pulo Blang Kecamatan Kuta Blang Bireuen ketika sedang gempa bumi 26 Desember 2004.

Kami saling menatap dan tidak mampu berkata apa-apa selain mengucapkan kalimat-kalimat yang memuja Allah SWT pemilik alam Semesta. Suara tangisan beberapa anak kecil tetangga membuat kami semakin ketakutan menanti berhentinya guncangan bumi.

Setelah gempa berhenti, aku pergi ke rumah kakakku di desa yang sama, di rumahnya saat gempa keluar air dari dalam tanah memancar ke atas setinggi 7 Meter, pancaran air dalam tanah tersebut terjadi puluhan titik dengan durasi selama 5 menit, bahkan titik pancaran tersebut ada yang di dalam rumah memecahkan lantai bersemen.

Setelah itu aku menuju Krueng Panjoe, di pinggir Jalan Banda Aceh– Medan, tanah sepanjang 100 meter retak, lebarnya satu meter dengan kedalaman 1,5, begitupun dengan puluhan rumah di tepi Kali Krueng Panjoe masuk ke dalam tanah sekitar 70 cm. Ketika aku sedang melihat-liat rumah tersebut, melalui handphone Alfian Ajudan Bupati Bireuen Mustafa Geulanggang, kami mendapatkan informasi di Krueng Mane air laut naik ke darat menghantam ratusan rumah penduduk, kami tidak bisa membayangkan sama sekali apa yang terjadi dan rasanya itu mustahil.

Sekitar pukul 01.00 Siang, saya tiba di Krueng Mane. Maysa Allah, aku melihat ratusan rumah masih terendam air yang hitam pekat, ratusan warga lainnya sedang mencari satu persatu jenazah dalam air tersebut, suara tangisan histeris di mana-mana, sementara ratusan Jenazah yang diletakkan di dalam Meunasah Desa Cot Seurani, terus saya menuju ke Desa Lhok, Desa Meunasah Baroe dan beberpa desa disekitarnya, puluhan manyat telah diletakkan di Meunasah desa tersebut.

Dalam hati saya, ini merupakan bencana Maha Dahsyat yang pernah ada di dunia. Sorenya sempai di rumah, saya langsung menghidupkan TV, di Lhokseumawe telah terjadi Tsunami yang lebih parah lagi, di depan TV bulir-bulir air mata terus berjatuhan dipipiku, aku tak kuasa menahan sedih melihat tanyangan Metro TV seorang perempuan mengendong anaknya sedang lari saat Tsunami di Pusong Lhokseumawe.

Halaman123
Editor: Prawira Maulana
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas