• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 17 September 2014
Tribunnews.com

Bergantung di Pelepah Daun Pohon Kepala

Selasa, 27 Desember 2011 00:20 WIB
Bergantung di Pelepah Daun Pohon Kepala
SERAMBI Banda Aceh/BUDI FATRIA
Pekerja merehab monumen tsunami kapal diatas rumah di Desa Lampulo, Banda Aceh, Minggu (25/12). Untuk mengenang tujuh tahun bencana gempa dan tsunami masyarakat dikawasan tersebut akan menggelar doa bersama. (SERAMBI/BUDI FATRIA)

Lailahailallah, Lailahailallah, Lailahailallah...

HANYA kalimat itu yang terus kuucapkan berulang kali, begitu juga dengan para tetanggaku yang sedang terduduk di halaman rumahku di Desa Pulo Blang Kecamatan Kuta Blang Bireuen ketika sedang gempa bumi 26 Desember 2004.

Kami saling menatap dan tidak mampu berkata apa-apa selain mengucapkan kalimat-kalimat yang memuja Allah SWT pemilik alam Semesta. Suara tangisan beberapa anak kecil tetangga membuat kami semakin ketakutan menanti berhentinya guncangan bumi.

Setelah gempa berhenti, aku pergi ke rumah kakakku di desa yang sama, di rumahnya saat gempa keluar air dari dalam tanah memancar ke atas setinggi 7 Meter, pancaran air dalam tanah tersebut terjadi puluhan titik dengan durasi selama 5 menit, bahkan titik pancaran tersebut ada yang di dalam rumah memecahkan lantai bersemen.

Setelah itu aku menuju Krueng Panjoe, di pinggir Jalan Banda Aceh– Medan, tanah sepanjang 100 meter retak, lebarnya satu meter dengan kedalaman 1,5, begitupun dengan puluhan rumah di tepi Kali Krueng Panjoe masuk ke dalam tanah sekitar 70 cm. Ketika aku sedang melihat-liat rumah tersebut, melalui handphone Alfian Ajudan Bupati Bireuen Mustafa Geulanggang, kami mendapatkan informasi di Krueng Mane air laut naik ke darat menghantam ratusan rumah penduduk, kami tidak bisa membayangkan sama sekali apa yang terjadi dan rasanya itu mustahil.

Sekitar pukul 01.00 Siang, saya tiba di Krueng Mane. Maysa Allah, aku melihat ratusan rumah masih terendam air yang hitam pekat, ratusan warga lainnya sedang mencari satu persatu jenazah dalam air tersebut, suara tangisan histeris di mana-mana, sementara ratusan Jenazah yang diletakkan di dalam Meunasah Desa Cot Seurani, terus saya menuju ke Desa Lhok, Desa Meunasah Baroe dan beberpa desa disekitarnya, puluhan manyat telah diletakkan di Meunasah desa tersebut.

Dalam hati saya, ini merupakan bencana Maha Dahsyat yang pernah ada di dunia. Sorenya sempai di rumah, saya langsung menghidupkan TV, di Lhokseumawe telah terjadi Tsunami yang lebih parah lagi, di depan TV bulir-bulir air mata terus berjatuhan dipipiku, aku tak kuasa menahan sedih melihat tanyangan Metro TV seorang perempuan mengendong anaknya sedang lari saat Tsunami di Pusong Lhokseumawe.

Keesokan harinya aku baru tahu yang tejadi di Krueng Mane dan Lhokseumawe tidak seberapa, ternyata di Banda Aceh, Meulaboh terjadi tsumani lebih dahsyat lagi yang menyebabkan ribuan orang meninggal dunia. Aku berusaha untuk tegar pergi ke Krueng Mane dengan maksud mau melakukan apapun untuk membantu korban.

Ketika pulang dari Krueng Mane, sesampainya di Kedai Krueng Panjoe, aku mendapat kabar ada keluarga aku korban di tsunami di Banda Aceh, manyatnya sudah dibawa pulang ke Krueng Geukuh. Saya langsung teringat, dua hari yang lalu seluruh keluarga kakakku berangkat ke Banda Aceh mengantar Jamaah Haji.

Aku langsung naik bus Cendrawasih menuju Krueng Geukuh, dengan perasaan galau duduk terdiam, yang aku pikirkan hanya kakakku, suaminya dan empat orang keponakanku, aku benar-benar tidak siap kehilangan mareka, aku terus terbayang wajah kakakku, aku hanya berdoa Ya Allah selamatkan mareka.

Aku tidak sabar lagi sampai di rumah kakakku, terus yang membuat aku semakin cemas bus yang aku tumpangi berjalan sangat pelan-pelan melewati jalan kampung, sementara Jalan Raya di sekitar Krueng Mane ditutup untuk kedatangan Presiden SBY di lokasi bencana tersebut pada hari kedua.

Ketika sampai di depan pintu rumah kakakku, seluruh tubuhku gemetar, aku tidak tahan saat melihat jenazah-jenazah yang telah ditutupi dengan kain panjang. Di sekelilingi nampak puluhan pelayat sedang tertunduk lesu, kemudian diantara para pelayat aku baru melihat kakakku Rasna Ismail sedang mengusap air matanya.

Alhamdulillah ya Allah hanya itu yang mampu aku ucapkan sambil berlari memeluk kakakku. Tanpa berkata apa-apa selanjutnya aku membuka kain penutup kedua jenazah tersebut. Misra Shiqqan (6) dan Moris faras (2,5) dua keponakanku korban tsunami di Asrama Haji Banda Aceh.

Kami menunggu Imam desa lebih dari dua jam untuk memandikan kedua jenazah keponaanku, kami sabar menunggu karena pada saat yang bersamaan imam desa Tambon Baroh Kreung Geukuh juga sedang mengurus puluhan manyat lainnya korban Tsunami yang dibawa pulang dari banda Aceh, saat dimandikan aku yang memangku kedua jenazah tersebut.

Dari penuturan kakakku, saat tsunami, Misra Siqqan terlepas dari tangan ayahnya, begitu juga dengan Moris Farah terlepas di tangannya saat mareka bergantungan di pelepah daun pohon kelapa di Asrama Haji Banda Aceh, sementara dua orang anaknya yaitu Rais Saputra berada di lantai dua sedangkan Raisa Ustrina juga ikut bergantung di pelepah daun pohon kelapa yang sama.

Setelah air surut, dengan perasaan penuh kesedihan bercampur kepanikan mereka terus mencari kedua putranya tersebut, setelah mencari selama beberpa jam akhrirnya kakakku menemukan kedua putranya sudah tidak bernyawa lagi dekat Masjid Kampung Pineung.

Muhajir Ismail
Warga Desa Pulo Blang Kecamatan Kuta Blang, Bireuen
---------------------
Kenangan dalam bentuk tulisan dapat dikirimkan ke email: kenangtsunami2612@serambinews.com beserta foto diri, keluarga, dan kerabat yang meninggal akibat tsunami. Tak terkecuali korban selamat (survivor) yang kini telah mampu bangkit menata kehidupannya kembali.

Editor: Prawira Maulana
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
1 KOMENTAR
197860 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas