Mengenang Tsunami Aceh

Bergantung di Pelepah Daun Pohon Kepala

HANYA kalimat itu yang terus kuucapkan berulang kali, begitu juga dengan para tetanggaku

Bergantung di Pelepah Daun Pohon Kepala
SERAMBI Banda Aceh/BUDI FATRIA
Pekerja merehab monumen tsunami kapal diatas rumah di Desa Lampulo, Banda Aceh, Minggu (25/12). Untuk mengenang tujuh tahun bencana gempa dan tsunami masyarakat dikawasan tersebut akan menggelar doa bersama. (SERAMBI/BUDI FATRIA)

Lailahailallah, Lailahailallah, Lailahailallah...

HANYA kalimat itu yang terus kuucapkan berulang kali, begitu juga dengan para tetanggaku yang sedang terduduk di halaman rumahku di Desa Pulo Blang Kecamatan Kuta Blang Bireuen ketika sedang gempa bumi 26 Desember 2004.

Kami saling menatap dan tidak mampu berkata apa-apa selain mengucapkan kalimat-kalimat yang memuja Allah SWT pemilik alam Semesta. Suara tangisan beberapa anak kecil tetangga membuat kami semakin ketakutan menanti berhentinya guncangan bumi.

Setelah gempa berhenti, aku pergi ke rumah kakakku di desa yang sama, di rumahnya saat gempa keluar air dari dalam tanah memancar ke atas setinggi 7 Meter, pancaran air dalam tanah tersebut terjadi puluhan titik dengan durasi selama 5 menit, bahkan titik pancaran tersebut ada yang di dalam rumah memecahkan lantai bersemen.

Setelah itu aku menuju Krueng Panjoe, di pinggir Jalan Banda Aceh– Medan, tanah sepanjang 100 meter retak, lebarnya satu meter dengan kedalaman 1,5, begitupun dengan puluhan rumah di tepi Kali Krueng Panjoe masuk ke dalam tanah sekitar 70 cm. Ketika aku sedang melihat-liat rumah tersebut, melalui handphone Alfian Ajudan Bupati Bireuen Mustafa Geulanggang, kami mendapatkan informasi di Krueng Mane air laut naik ke darat menghantam ratusan rumah penduduk, kami tidak bisa membayangkan sama sekali apa yang terjadi dan rasanya itu mustahil.

Sekitar pukul 01.00 Siang, saya tiba di Krueng Mane. Maysa Allah, aku melihat ratusan rumah masih terendam air yang hitam pekat, ratusan warga lainnya sedang mencari satu persatu jenazah dalam air tersebut, suara tangisan histeris di mana-mana, sementara ratusan Jenazah yang diletakkan di dalam Meunasah Desa Cot Seurani, terus saya menuju ke Desa Lhok, Desa Meunasah Baroe dan beberpa desa disekitarnya, puluhan manyat telah diletakkan di Meunasah desa tersebut.

Dalam hati saya, ini merupakan bencana Maha Dahsyat yang pernah ada di dunia. Sorenya sempai di rumah, saya langsung menghidupkan TV, di Lhokseumawe telah terjadi Tsunami yang lebih parah lagi, di depan TV bulir-bulir air mata terus berjatuhan dipipiku, aku tak kuasa menahan sedih melihat tanyangan Metro TV seorang perempuan mengendong anaknya sedang lari saat Tsunami di Pusong Lhokseumawe.

Keesokan harinya aku baru tahu yang tejadi di Krueng Mane dan Lhokseumawe tidak seberapa, ternyata di Banda Aceh, Meulaboh terjadi tsumani lebih dahsyat lagi yang menyebabkan ribuan orang meninggal dunia. Aku berusaha untuk tegar pergi ke Krueng Mane dengan maksud mau melakukan apapun untuk membantu korban.

Ketika pulang dari Krueng Mane, sesampainya di Kedai Krueng Panjoe, aku mendapat kabar ada keluarga aku korban di tsunami di Banda Aceh, manyatnya sudah dibawa pulang ke Krueng Geukuh. Saya langsung teringat, dua hari yang lalu seluruh keluarga kakakku berangkat ke Banda Aceh mengantar Jamaah Haji.

Aku langsung naik bus Cendrawasih menuju Krueng Geukuh, dengan perasaan galau duduk terdiam, yang aku pikirkan hanya kakakku, suaminya dan empat orang keponakanku, aku benar-benar tidak siap kehilangan mareka, aku terus terbayang wajah kakakku, aku hanya berdoa Ya Allah selamatkan mareka.

Halaman
12
Editor: Prawira Maulana
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2016
About Us
Help