• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 19 April 2014
Tribunnews.com

SBY Baru Tahu Ada Situs Purbakala di Kampung Halamannya

Jumat, 17 Februari 2012 02:25 WIB
SBY Baru Tahu Ada Situs Purbakala di Kampung Halamannya
Kurnia Prastowo Adi/Tribun Jambi/Kurnia Prastowo Adi
Presiden SBY.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono mengaku terkesan dengan obyek wisata Museum Manusia Purba Sangiran, Sragen. Hal ini diungkapkan SBY usai meninjau museum tersebut pascarenovasi yang telah selesai dan diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh pada 15 Desember 2011 lalu. "Saya sangat terkesan. Penataannya excellent," katanya usai meninjau museum, Kamis (16/02/2012).

Dalam kunjungan tersebut, Presiden di antaranya didampingi oleh Ibu Negara, Ani Yudhoyono, sebelas menteri, Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo dan jajaran Muspida Kabupaten Sragen. SBY terkesan saat melihat ruang pamer dua yang di dalamnya tersimpan informasi tentang situs purbakala di Pacitan, daerah asalnya. "Ternyata ada situs purbakala di daerah saya," komentarnya.

Selain itu, di ruang pamer tiga, SBY melihat sejumlah diorama di antaranya diorama kehidupan manusia purba yang masih berpola hidup berburu binatang di alam liar. Selain itu, dirinya juga mengagumi sejumlah patung karya Elisabeth Daynes yang di antaranya merekonstruksi manusia purba Homo Floresiensis, Homo Sapiens dan Homo Erectus. "Museum Sangiran luar biasa. Sangiran bisa menjadi obyek turis dan pusat studi untuk mengenal dunia di masa lalu," katanya.

Menurut dia, bangsa Indonesia pantas berbangga, karena dengan ditemukannya situs purbakala Sangiran menjadi bukti bahwa Indonesia pernah menjadi bagian dari peradaban masa lampau. Keberadaan Sangiran, bisa dijadikan sarana yang tepat bagi masyarakat terutama pelajar untuk melakukan studi dan mengenal peradaban masa lampau. "Saya mengajak masyarakat untuk datang ke Sangiran, dan belajar tentang kehidupan manusia purba di sini,"katanya.

Dirinya juga menginginkan situs purbakala tersebut terus dikembangkan. Karenanya, SBY telah memerintahkan Mendikbud dan Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran untuk membangun 4 klaster yang ada di kubah Sangiran. Hal ini dikarenakan dari 4 klaster yang ada baru satu klaster yang dibangun dan dikembangkan menjadi museum. "Saya harap satu sampai dua tahun sudah selesai," ujarnya.

Selain sebagai tempat wisata, Sangiran juga bisa dikembangkan menjadi pusat studi tentang kehidupan manusia, termasuk ekosistemnya, di masa lalu.
Dengan pengembangan dan pembangunan seluruh klaster situs purbakala Sangiran, diharapkan tempat tersebut bisa menjadi pusat studi manusia purba, tidak hanya tingkat nasional melainkan hingga tingkat dunia.

Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Harry Widianto mengatakan pengembangan Situs Sangiran sejauh ini baru menyelesaikan klaster Krikilan. Pada tahun 2012, akan dimulai proses pengembangan dan pembangunan di klaster Dayu. "Baru kemudian tahun 2013, giliran klaster Ngebung dan Bukuran yang dibangun," tuturnya.

Sehuingga, dirinya berharap pada awal 2014, seluruh klaster dapat selesai dibangun dan diproyeksikan menjadi pusat kajian evolusi manusia purba di Asia. Kubah Sangiran memiliki luas sekitar 56 kilometer persegi dan berada di dua kabupaten yakni Sragen dan Karanganyar. Terdapat 4 klaster yang menjadi pusat peradaban manusia purba di masa lampau, yakni Klaster Krikilan, Bukuran, Ngebung, dan Dayu.

Hingga kini, terangnya, telah ditemukan lebih dari 100 individu, yang mewakili 50 persen dari populasi Homo Erectus di seluruh dunia. Manusia purba jenis Homo Erectus tersebut, diperkirakan hidup dan mendiami Sangiran pada sekitar 1,5 juta tahun yang lalu. Keberadaan Museum di Situs Sangiran bisa dikatakan penting karena bisa menggambarkan terjadinya evolusi manusia, budaya dan lingkungannya.

Harry menjelaskan, keberadaan Museum Sangiran tidak lepas dari peranan GHR Von Koenigswald, seorang ilmuan paleontologi yang memulai kegiatan penelitian di Sangiran pada sekitar tahun 1930. Pada tahun 1934, Koenigswald menemukan ribuan alat purba dari serpihah batu dan disusul dengan penemuan fosil tengkorak Homo Erectus pada tahun 1937. Semenjak saat itu, temuan fosil semakin banyak dan nama Sangiran semakin dikenal dunia. (ade)

Editor: Prawira Maulana
Sumber: Tribun Jogja
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
273951 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas