• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 23 Agustus 2014
Tribunnews.com

20 Persen Penyebab Listrik Mati karena Tali Layang-layang

Senin, 20 Februari 2012 20:31 WIB
20 Persen Penyebab Listrik Mati karena Tali Layang-layang
Ilustrasi

Laporan Wartawan Surya, Eko Adiasaputro

TRIBUNNEWS.COM,  PALEMBANG - Mati lampu atau pemadaman listrik masih menjadi masalah besar di tengah kehidupan masyarakat Sumatera Selatan (Sumsel).

Banyak faktor yang menyebabkan mati listrik. Salah satunya akibat tali layang-layang, yang menyumbang 20 persen penyebab mati lampu di Bumi Sriwijaya.

Seolah tak ingin selalu dipersalahkan, Manager Distribusi PLN Wilayah S2JB, Bob Saril, mengharapkan semua pihak secara bersama-sama bersinergi dan saling membantu mengatasi hal ini. Terutama dalam memberikan pengertian atau semacam edukasi terhadap masyarakat yang tidak mengerti mengenai kejadian seperti ini.

Bob menjelaskan, PLN sebagai perusahaan yang menjual listrik negara tidak menginginkan mati lampu atau pemadaman listrik. Sebab juga akan merugikan perusahaan.

Menurutnya, ada banyak hal yang perlu dipahami masyarakat. Terutama tentang penyebab lampu sering mati.

Dikatakan, sekitar 70 persen mati lampu disebabkan karena pohon yang tumbuh di sekitar tiang atau kabel listrik. Padahal dalam Perda sudah diatur jika jaringan listrik harus bebas dari pepohonan sejauh tiga meter.

Namun faktanya, tidak sedikit jaringan listrik yang ada berdekatan dengan tanaman atau pepohonan yang sudah jelas berpotensi gangguan bagi listrik.

Penyebab lainnya, kata Bob, juga berasal dari mobilisasi pembangunan, meski faktor ini hanya menyumbang sekitar 10 persen saja. Menurut dia, pembangunan yang dilakukan di dalam perkotaan, kerap menjadi pemicu pemadaman. Mulai dari pengerusakan kabel, perobohan tiang listrik dan sebagainya.

Yang mengagetkan, 20 persen faktor penyebab mati lampu ternyata berasal dari tali layang-layang. Bob, mengatakan, layang-layang merupakan mainan tradisional yang perlu dilestarikan. Namu harus diakui, senar atau tali dari layang-layang yang kerap menggumpal atau melintang di atas kabel listrik ini juga bisa memicu korsleting listrik.

“Kalau di Palembang, ini banyak kita temukan di kawasan Plaju, Kenten, dan Keramasan. Tali layangan itu ketika basah, bisa menjadi pengantar arus listrik yang bisa memicu terjadinya korslet,” kata Bob, Senin (20/2).

Terlepas dari itu, pihaknya saat ini tengah mengupayakan aprating tegangan dari 12 KP menjadi 20 KP, untuk fleksibelitas operasional. Dengan begitu, saat mengganti jalur jaringan, tidak perlu melakukan pemadaman seperti yang selama ini dilakukan.  

Bob juga menyinggung soal interkoneksi Jawa-Bali tahun 2015. Melalui interkoneksi ini diharapkan penyerapan kebutuhan listrik di sejumlah daerah bisa dipenuhi secara simbang.

“Namanya interkoneksi kita bisa saling bantu. Kalau di Sumsel kebutuhan puncak listrik sekitar pukul 18.00-20.00. Berbeda dengan di Bali yang banyak mengkonsumsi energi listrik tengah malam. Nah sisa kebutuhan itu bisa saling suplai,” ujarnya.

Editor: Yulis Sulistyawan
Sumber: Sriwijaya Post
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
284352 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas