• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 1 Oktober 2014
Tribunnews.com

Kompol Brusel Tak Bersuara saat Vonis 4,5 Tahun

Rabu, 29 Februari 2012 04:04 WIB
Kompol Brusel Tak Bersuara saat Vonis 4,5 Tahun
Ilustrasi.

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Mantan Kepala Kepolisian Sektor Kota (Kapolsekta) Cicendo, Komisaris Polisi (Kompol), Brusel Duta Samodra, tidak bersuara saat mendapat hukuman 4,5 tahun penjara dari Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Bandung.

Hukuman itu tiga tahun lebih lama daripada permintaan jaksa penuntut umum (JPU) pada 8 Februari lalu. Saat itu, Jaksa Suroto Supena dan kawan-kawan mengajukan tuntutan 1,5 tahun kurungan bagi mantan kapolsek itu.
"Putusan itu berat sekali bagi klien kami," ujar kuasa hukum Brusel, Anwar Jamaluddin, setelah persidangan di ruang I Pengadilan Tipikor, Jalan R E Martadinata, Bandung, Selasa (28/2).

Menurutnya, vonis itu tanpa mempertimbangkan fakta bahwa kliennya belum sempat menikmati uang yang diduga sebagai hasil suap. "Uang yang diterima sebesar Rp 1 miliar itu kan masih utuh," katanya. Karena itu, lanjutnya, tim penasehat hukum segera mengajukan banding.

Majelis Hakim yang sama memvonis empat tahun penjara untuk mantan Kepala Unit Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polsekta Cicendo, Ajun Kompol Suherman. Seperti halnya putusan untuk Brusel, vonis bagi Suherman pun lebih lama tiga tahun dari tuntutan JPU.

Majelis hakim mewajibkan keduanya membayar denda dengan nilai yang sama, yakni Rp 200 juta. Jumlah denda ini pun ada penambahan tiga kali lipat dari tuntutan tim JPU yang sebelumnya, yaitu Rp 50 juta.

Putusan ini menunjukkan adanya perbedaan pandangan antara Majelis Hakim yang diketua G N Arthanaya dengan tim JPU soal dakwaan primer bagi kedua terdakwa. Ketika membacakan tuntutan tiga pekan lalu, tim JPU membebaskan kedua terdakwa dari dakwaan primer dengan alasan keduanya tak menikmati hasil suap-menyuap.

Karena itu, tim JPU mencabut dakwaan yang menggunakan pasal 12 a Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi itu dan hanya mengenakan dakwaan subsider, yakni pasal 11 jo pasal 18 Undang-undang terhadap perkara Brussel dan Suherman.

Brussel dan Suherman adalah tertuduh kasus dugaan penerimaan suap Rp 1 miliar dari tersangka pengedar narkotika asal Malaysia, Azri Bin Abdullah. Peristiwa itu terjadi pada pertengahan tahun lalu.

Para petugas Bea dan Cukai menangkap Azri di Bandara Husein Sastranegara lalu menyerahkannya ke Polsekta Cicendo. Pria asal negeri Jiran itu pun menjanjikan uang Rp 1 miliar sebagai jaminan agar ia tak ditahan.
Hanya, jaminan itu tidak masuk ke panitera pengadilan. Buntut dari pemberian uang itu adalah lolosnya pembawa sabu-sabu seberat 1,47 gram itu kembali ke negeri asalnya.(bb)

Editor: Prawira Maulana
Sumber: Tribun Jabar
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
2 KOMENTAR
309482 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
  • KRISNA VEGA-Rabu, 29 Februari 2012 Laporkan
    SEMOGA INI BISA MENIMBULKAN FEK JERA BAGI ANGGOTA POLISI YG LAINNYA UNTUK TIDAK BERMAIN-MAIN DENGAN KASUS NARKOBA....
  • Bagus-Rabu, 29 Februari 2012 Laporkan
    Setuju dengan hakim, jika perlu dua begundal ini dihukum mati, akibat perbuatan mereka anak2 muda kita jadi hancur masa depannya,
    Periksa jaksa yang telah meringankan mereka ber2, jangan2 jaksa telah disuap pula dengan uang hasil narkoba
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas