• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 31 Oktober 2014
Tribunnews.com

Pusaka Kerajaan Bone Dicuci Dengan 7 Air Sumur

Kamis, 5 April 2012 15:36 WIB

Laporan Wartawan Tribun Timur, Mahyuddin

TRIBUNNEWS.COM, WATAMPONE - Untuk menyambut hari jadi Kabupaten Bone ke 682, Pemerintah Kabupaten Bone menggelar ritual pencucian benda-benda pusaka kerajaan Bone di tempat benda pusaka (Arajang) yang berada di rumah jabatan Bupati Bone, Kamis (5/4/2012) pagi. Pencucian benda pusaka yang disebut Mattompang ini digelar dengan menggunakan tujuh air sumur yang berada di Kabupaten Bone.

Benda-benda pusaka yang ditompang meliputi Kelewang LaTea RiDuni, Keris La Makkawa, Tombak La Sagala, Kelewang Alameng Tata Rapeang yang merupakan senjata Raja Bone ke XV Arung Palakka dalam menghadapi setiap peperangan. “Teddung Pulaweng” atau payung emas yang merupakan tanda persaudaraan dari Raja Pariamang kepada Raja Bone ke XV Latenri Tatta Arung Palakka. Serta “Sembang Pulaweng” atau Selempang Kerajaan yang berupa untaian padi dari emas murni seberat 5 kg dan sepanjang 170 cm .

Ritual Mattompang tersebut dilakukan dalam beberapa tahap. Dimulai dengan Mallekke Toja yaitu pengambilan air di tujuh sumur untuk pembersihan arajang beberapa hari sebelumnya. Dua di antaranya berasal dari sumur kerajaan yaitu sumur laccokkong di Laccokkong dan sumur “ittello” di Lassonrong serta lima sumur bissu yang terletak di Lampoko.

Ritual kemudian dilanjutkan dengan Matteddu Arajang atau mengeluarkan benda-benda pusaka dari tempatnya yang kemudian dibawa ke tempat Mattompang oleh para bissu untuk diperlihatkan kepada Bupati Bone A M Idris Galigo, Kapolres Bone AKPB R Andria M dan Dandim 1407 Letkol inf Heron Dominikus, Anggota DPRD

Sulsel Andi Irsan Galigo dan Kepala SKPD serta tamu undangan lainnya yang hadir. Ritual ini disebut diappesabbiangngi.

Tahapan selanjutnya disebut “memmang to rilangi” atau kata-kata yang diucapkan oleh bissu yang berisi permohonan izin untuk membersihkan arajang. Dilanjutkan dengan inti acara yaitu “massossoro atau mattompang arajang” yang bermakna mencuci benda-benda pusaka yang dilakukan oleh empat orang panre bessi (pandai besi kerajaan) diiringi dengan sere alusu atau gerakan-gerakan yang dilakukan oleh tujuh bissu masing-masing bali sumange, ana beccing, dan kancing diiringi genderang.

Payung Pulaweng, Keris Lamakkawa, Pedang Latea Riduni, tombak Lasagala, dan Selempang Kerajaan merupakan syarat perlengkapan utama dalam setiap pelantikan Raja-Raja di tana Bone seperti yang ditegaskan dalam Lontara Bugis yang menjelaskan tanda Mangkau (Raja) Bone adalah yang memakai Lamakkawa dan Latea Ri Duni, bertongkat tombak Lasagala, mengambil sawah di Lacaloko serta dipayungi payung emas.

“Mattompang bukan hanya sekedar prosesi tapi lebih kepada pelestarian budaya dan wujud dari rasa cinta kita kepada sejarah dan kebudayaan Kerajaan Bone. Salah satunya yang telah kita lakukan adalah mematenkan Songko To Bone di kementrian Hukum RI, " jelas Bupati Bone H A Muh Idris Galigo

Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Tribun Timur
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas