Sabtu, 20 Desember 2014
Tribunnews.com

Pilot Lion Air Nyabu Segera Diadili

Rabu, 11 April 2012 20:34 WIB

Pilot Lion Air Nyabu Segera Diadili
BNN/TRIBUNNEWS.COM
Pilot Lion Air, Hanum Adhyaksa, ketika Tim BNN mendapatinya sedang pesta narkoba di Studio Karaoke 33 Grand Clarion Makassar beberapa waktu lalu.

Laporan Wartawan Tribun Timur, Rudhy

TRIBUNNEWS.COM, MAKASSAR - Kasus Pilot Lion Air yang nyabu di Makassar segera diadili. Berkas dan tersangka Pilot Lion Air, Hanum Adhyaksa yang kepergok pesta sabu-sabu oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) pusat di salah satu tempat hiburan malam di kawasan Andi Pangerang Pettarani, Makassar 10 Januari lalu akhirnya dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Makassar yang kemudian diteruskan ke Pengadilan Negeri Makassar untuk segera disidangkan.

Berkas Pilot Lion Air ini dilimpahkan oleh pihak Kejagung RI, Rabu (11/4/2012) sore tadi, lantaran proses penangkapan Hanum dilakukan langsung oleh BBN pusat kala itu.

Dalam proses pelimpahan berkas Hanum ke Kejari Makassar, sore tadi, jaksa dari Kejagung RI juga ikut melimpahkan berkas tersangka lainnya yang ikut dibekuk bersama Hanum. Mereka adalah Andi Hendra seorang pengusaha asal Makassar dan dua wanita Nurfadillah dan Irma Suryani.

“Berkas dan tersangkanya sudah kami terima dari Kejagung, tersangkanya langsung kami jemput di Bandara Internasional Hasanuddin Makassar, karena kasus ini sebelumnya ditangani langsung pihak Kejagung bersama dengan pihak BNN pusat,” Kata Kepala Seksi Pidana Umum (Pidum) Kejari Makassar Irwan Datuiding, saat dikonfirmasi di kantornya, sore tadi.

Kendati pihak kejaksaan telah menerima berkas keempat tersangka kasus narkoba itu, namun hingga sekarang pihaknya belum juga melakukan proses penahanan alias tersangkanya langsung di jebloskan ke dalam rumah tahanan negara (rutan) Klas 1 Makassar untuk menunggu proses persidangan.

“Hingga sekarang kami masih menunggu hasil penyidikan lanjutan yang dilakukan jaksa kepada ke empat orang tersebut, apakah akan dilakukan penahanan atau tidak,” ujarnya. “ katanya.

Dia mengatakan, pihaknya belum bisa memastikan apakah keempatnya perlu dilakukan penahanan atau tidak, karena jika merujuk perlakukan BNN kepada mereka ketika di Jakarta, tidak akan ada penahanan, HA (Harun A) dan AH (Andi Hendra) hanya dimasukkan ke tempat rehabilitasi.

Sementara dua wanita lainnya, menurut Irwan hanya menjadi tahanan kota. “Sehingga kami menunggu perintah pimpinan saja,” tegasnya

Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Tribun Timur

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas