Minggu, 5 Juli 2015
Tribunnews.com

Tengkorak Berserakan di Goa Ini

Jumat, 18 Mei 2012 09:36 WIB

Tengkorak Berserakan di Goa Ini
Kompas.com
Goa Tengkorak

TRIBUNNEWS.COM - Di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, tepatnya di perkampungan Suku Padoe, ada sebuah goa yang diberi nama goa tengkorak. Di dalam liang goa banyaknya berserakan kerangka tulang belulang dan tengkorak manusia yang berukuran lebih besar dari kerangka manusia zaman sekarang.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 5 kilometer dari lokasi perkampungan Suku Padoe di Dusun Lioka, Desa Wawondula, Kecamatan Towuti, dengan mengendarai sepeda motor, menyusuri jalan setapak di kaki bukit Tabarano yang masih ditumbuhi pohon-pohon berukuran besar, dan memancarkan panorama alam yang begitu indah, akhirnya saya tiba di sebuah goa.

Seperti halnya goa-goa yang ada di daerah lain, dimana dinding goa banyak terdapat batu stalagtit dan stalagmit yang melenjong berbentuk runcing, di goa ini juga banyak terdapat di dindingnya.

Menariknya, di dalam liang goa banyak berserakan kerangka tulang belulang dan tengkorak manusia yang berukuran sedikit lebih besar dari kerangka manusia zaman sekarang. Karena dipenuhi tulang dan tengkorak manusia, maka masyarakat Suku Padoe, meyebutnya dengan nama Goa Tengkorak.

Arita, warga suku Padoe yang tinggal di sekitar lokasi goa tengkorak, yang ditemui Rabu (16/5/2012) menuturkan, jika dulunya goa tersebut tidak hanya dipenuhi kerangka manusia, namun di dalam liang goa, banyak terdapat peti yang didalamnya berisi emas dan barang antik, seperti guci dan uang koin kuno, hingga peralatan perang Suku Padoe.

Namun barang–barang antik tersebut, kini hanya tinggal beberapa buah saja, selebihnya hilang dicuri oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

"Goa ini adalah tempat penyimpanan jenazah nenek moyang kami di zaman dahulu, dimana saat itu Suku Padoe belum mengenal agama animisme. Namun setelah kami Suku Padoe menganut agama, maka warga yang meninggal dikuburkan ditanah “pekuburan” dan tidak lagi disimpan di dalam lubang goa," tutur Arita.

Halaman12
Editor: Gusti Sawabi
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas