• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 25 Oktober 2014
Tribunnews.com

Kristian Ingin Bikin Othok-othok Double Engine

Sabtu, 26 Mei 2012 13:04 WIB
Kristian Ingin Bikin Othok-othok Double Engine
(Tribunnews/Hendra Gunawan)
Ilustrasi perahu mainan

Laporan Wartawan Tribun Jogja, Mona Kriesdinar

TRIBUNNEWS.COM, SLEMAN - Puluhan peserta bersaing ketat menampilkan perahu othok-othok andalannya masing - masing dalam ajang bertajuk Go-Ship Contest Fakultas Teknik Industri, di Kampus Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Sabtu (26/5/2012) pagi.

Mereka berlomba di dua kelas yang dipertandingkan meliputi kelas race untuk adu kecepatan, dan kelas festival untuk adu desain perahu othok othok. Cukup banyak desain yang ditawarkan para peserta, mulai dari perahu minimalis hingga perahu yang dibentuk menyerupai kapal layar. "Saya membawa perahu yang minimalis, hanya body tanpa penutup, supaya lebih ringan dan menang di kelas race," ujar Kristian Indra Jatiwibowo, peserta kelas race dari UAJY.

Terbukti, perahu dengan tenaga panas dari api batang lilin ini berhasil menjuarai beberapa sesi pertandingan race. Namun, bukan perkara mudah untuk membuat othok othok yang bisa melaju cepat serta memiliki keseimbangan. Remaja yang menyukai balapan tamiya ini, bahkan harus eksperimen selama seminggu terakhir sebelum pertandingan. Wajar saja, meski terkesan sangat sederhana, namun permainan othok othok ternyata diakuinya cukup rumit.

Lain halnya dengan permainan mobil tamiya yang sudah memiliki onderdil - onderdil yang khusus. Sedangkan perahu othok othok harus banyak memodifikasi dan bereksperimen. "Harus kreatif," pendeknya.

Di perlombaan itu, ia membawa tiga perahu othok othok dalam berbagai ukuran. Namun semuanya sudah dimodifikasi sehingga hanya tampak penampangnya saja tanpa penutup atas. Saat dimainkan, perahu itu melaju cukup cepat melahap lintasan sepanjang empat meter. Tak ketinggalan pula, suara khas perahu othok othok terdengar bersahutan. Meski cukup puas dengan perolehan itu, namun ia bermaksud untuk terus mencari bentuk sempurna yang menghasilkan kecepatan dan keseimbangan. Sebaliknya, ia tak menaruh perhatian pada unsur estetikanya. Bahkan perahu yang ia andalkan pun menyerupai kaleng - kaleng bekas yang sudah gosong akibat jilatan api. "Dia malah mau bikin yang double engine," ujar Putra Sabudi, rekan satu tim Kristian.

Double engine yang ia maksud bukan berarti perahu itu dilengkapi mesin, namun sebagai istilah untuk menyebut dua sumber tenaga yang digunakan. Yaitu menggunakan dua lilin dan dua penampang. Sedangkan biasanya, perahu tersebut hanya memiliki satu penampang saja.

Lain halnya dengan yang dialami perahu race bernama Estrela Basque. Perahu yang dibentuk menyerupai kapal layar ini, urung mengikuti perlombaan lantaran perahu tersebut enggan melaju, bahkan karam saat di garis start. Padahal tim dari mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogkarta ini sudah berupaya keras untuk memastikan api perahunya menyala. Tapi, hingga lawannya sudah mencapai garis finish, perahu berwarna coklat ini, masih berada tetap di garis start.

Ketua panitia, Bonifacius Yoga Pratama Wijaya, menjelaskan bahwa event tersebut merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan mahasiswa Teknik Industri. Adapun pilihannya terhadap perahu othok othok sengaja dipilih untuk menghidupkan kembali alat permainan tradisional yang kini dirasakan sudah semakin tersingkir oleh alat permainan modern. Pun demikian halnya dengan keberadaannya yang sudah tak bisa lagi ditemui di berbagai tempat penjualan.

"Ada 22 kelompok di kelas festival dan 29 kelompok kelas race dari DIY dan Jateng," jelasnya

Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Tribun Jogja
0 KOMENTAR
563551 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas