• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 18 April 2014
Tribunnews.com

Mantan Napi Bongkar Pungutan Liar di Rutan Samarinda

Minggu, 27 Mei 2012 07:07 WIB
Mantan Napi Bongkar Pungutan Liar di Rutan Samarinda
net
Ilustrasi

TRIBUNNEWS.COM, SAMARINDA - Aditia (28), mantan narapidana kasus narkotika yang baru saja bebas pada Rabu 23 Mei lalu, membongkar dugaan praktek pungutan liar di Rumah Tahanan Negara Klas II A Samarinda.

Kepada tribunkaltim.co.id, Sabtu (26/5/2012), Aditia bercerita blak-blakan tentang pungutan liar dan perlakuan tidak adil dari para pegawai Rutan terhadap warga binaan.

Menurut dia, selama dirinya berada di dalam tahanan, sejak itupula dia merasakan penderitaan dan diperlakukan tidak adil oleh pegawai Rutan.

"Setiap bulan, saya dan teman-teman dipungut pegawai Rutan Rp 50.000 per orang, katanya uang itu buat bayar kamar dan perawatan bangunan. Dan pungutan itu berlaku di seluruh blok," beber Aditia.

Bagi warga binaan yang tidak mampu bayar iuran 50 ribu, kata Aditia, akan dipekerjakan sebagai tamping atau petugas kebersihan, sementara warga binaan yang banyak uang, mereka santai-santai saja di dalam Rutan.

Selain diwajibkan membayar Rp 50 ribu per bulan, napi atau tahanan yang hendak menemui keluarga yang besuk, dipungut Rp 5.000, dengan waktu pertemuan maksimal 15 menit.

"Kalau lewat 15 menit, kita nambah (uang) lagi, tergantung lamanya waktu yang kita inginkan. Kalau kita minta tambah 15 menit, maka nambah jadinya Rp 10 ribu," ungkap warga Bengalon Kutai Timur ini.

Praktek pungli (pungutan liar) oleh pegawai Rutan, lanjut Aditia, sebenarnya sudah berlangsung, dan cukup meresahkan teman-temannya di Rutan.
Namun hampir semua warga binaan tidak ada yang berani buka mulut untuk membongkar praktek ini, karena khawatir mereka dihukum oleh pegawai Rutan.

"Kasus kekerasan dan ketidakadilan yang dilakukan pegawai Rutan terhadap warga binaan juga seringkali terjadi. Seperti kalau ada tahanan yang ribut, yang dibela pasti yang punya duit, sedangkan yang miskin dizolimi dan dimasukan di sel khusus selama tiga bulan," beber dia lagi.

Tak hanya itu, Aditia juga merasa prihatin dengan nasib perempuan yang ditahan di Rutan. "Pasalnya kata dia, tak sedikit perempuan yang jadi korban rayuan para pegawai rutan, sehingga kemerdekaan merekapun dirampas, tuturnya.

Diakhir ceritanya, Aditia mengaku tidak ada motif apa-apa di balik upayanya membongkar praktek pungli dan ketidakadilan di dalam Rutan.

Dia hanya merasa kasihan dengan nasib penghuni Rutan, yang diperlakukan tidak adil dan semena-semena oleh pegawai Rutan.

Dikonfirmasi mengenai hal ini, Kepala Rutan Klas II A Samarinda M Iksan, mengatakan, dirinya belum mengetahui soal pungli dan perlakuan tidak adil yang dilakukan pegawai Rutan.

"Pertama, saya ini orang baru di Rutan Samarinda, jadi belum tahu kalau ada hal-hal seperti itu. Yang jelas, di dalam Rutan tidak ada namanya dipungut apa-apa, tidak ada," tegas Iksan yang sebelumnya menjabat Karutan Tanjung Redeb ini.

Iksan berjanji akan menulusuri dan menyelidiki ke bawahannya terkait tuduhan mantan napi, yang menyebut ada pungli di dalam rutan. "Kalau memang nanti benar ada pegawai Rutan yang melakukan pungutan liar, saya akan tindak tegas," tutur Iksan.

Editor: Anwar Sadat Guna
Sumber: Tribun Kaltim
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
564961 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas