Jembatan VI Ditabrak Murid Sekolah Kesulitan Berangkat

Musibah yang menimpa kapal APC Aussie I yang menabrak jembatan VI yang menghubungkan antara pulau Galang dengan Pulau Galang baru langsung

Jembatan  VI Ditabrak  Murid Sekolah  Kesulitan Berangkat
TRIBUN Batam/ARGIANTO DA NUGROHO
Sejumlah warga melintas diatas jembatan barelang VI dengan berjalan kaki, kecamatan galang, Batam, Rabu (6/6). Kapal APC AUSSIE I. (TRIBUN Batam/ARGIANTO DA NUGROHO)

Laporan Tribunnews Batam, Septyan Mulia Rohman

 
TRIBUNNEWS.COM, BATAM - Musibah yang menimpa kapal APC Aussie I yang menabrak jembatan VI yang menghubungkan antara pulau Galang dengan Pulau Galang baru langsung dirasakan oleh para warga pulau sekitar yang biasa melakukan aktivitasnya melewati jembatan tersebut. Seperti anak-anak yang seharusnya pergi ke sekolah terpaksa harus menunggu didepan pintu masuk jembatan VI untuk menumpang kendaraan bermotor dari warga yang kebetulan mengarah ke pulau Galang Baru.

"Kami terpaksa menumpang naik motor,om. Biasanya kami pakai bus sekolah,  Tapi semalam tidak boleh masuk melewati jembatan ini. Guru-guru yang banyak dari Batam juga banyak yang tidak datang," ujar Feni Anggraini siswi kelas lima di SDN  008 Galang Baru saat ditemui Tribun pada Kamis (7/6) pagi. Ia menuturkan bahwa anak-anak Pulau Galang banyak yang bersekolah di Pulau Galang Baru. Sedangkan, untuk jarak dari rumahnya ke sekolah berjarak 6 km.

Hal serupa juga diungkapkan oleh siswi lainnya. Para siswi yang tinggal di Pulau Galang Baru terpaksa harus berjalan dengan hati-hati meleati jembatan yang sudah bergeser dari jalurnya tersebut. Anak-anak yang hendak bersekolah di Pulau Galang ini terpaksa merogoh kocek lima ribu rupiah untuk ongkos pulang pergi menggunakan taksi untuk membawa mereka sampai pada jembatan VI tersebut. "Sekolah mulai pukul setengah delapan. Kalau seperti ini, kami bisa jam sembilan sampai sekolah. Sedangkan, Jum'at besok kami ujian," tutur

Miyati sisiwi kelas 2 MTS Darul Rahmat Pulau Galang kepada Tribun. Beberapa warga yang melintas juga tampak berhati-hati untuk melewati jembatan tersebut. Tidak sedikit juga warga dari luar datang untuk mengambil gambar serta melihat sendiri musibah yang terjadi tersebut. Dari pantauan Tribun, tampak beberapa warga yang terpaksa menggunakan sepeda motor untuk mengangkut hasil ikan mereka serta untuk belanja kebutuhan hidup mereka sekali-kali."Bismillah aja lah bang, ngeri juga lewatnya tapi mau bagaimana lagi," ucap Ramli yang membawa hasil ikan yang diikat berkarung-karung di motornya sambil lalu pergi.         

Selain itu, para nelayan mengaku kesulitan didalam mengirimkan hasil tangkapan mereka akibat musibah yang terjadi di jembatan VI tersebut. Para nelayan tersebut juga mengeluhkan akibat akses jembatan yang tertutup tersebut, banyak para wisatawan lokal maupun mancanegara yang mengurungkan niatnya untuk datang ke tempatnya. "Biasa diangkut pakai lori. Bisa satu sampai dua lori kalau musim ikan datang. Tapi, untuk sekarang musim ikan tidak begitu banyak. Jadi, kami bisa mengirim hasil ikan kami memakai motor walaupun agak sulit," ujar Ahadi nelayan di Tanjung Cakang pulau Galang Baru kepada Tribun.

Para pemilik rumah makan seafood yang berada tidak jauh dari kawasan nelayan di Pulau Galang Baru juga mengeluhkan hal yang sama. Pemilik warung mengaku omset mereka menurun drastis akibat musibah yang terjadi tersebut. "Lori es tak bisa masuk. Jembatan rusah siapa yang mau datang ke ujung pulau ini," ujar Hargianto kesal. Pihak pengumpul ikan segar yang biasa menunggu hasil tangkapan ikan para nelayan yang paling merasakan dampaknya. pihaknya mengaku bahwa selama dua hari belakangan ini proses pengiriman tersendat dikarenakan lori pengangkut ikan yang tidak bisa melewati jembatan VI tersebut.

"Sudah jelas merugi pak. Tapi mau bagaimana lagi," ujar Nurdin selaku salah satu pengumpul ikan ditempat tersebut. Ia menuturkan bahwa untuk satu hari ia mengeluarkan dana paling sedikit lima juta rupiah. Ia juga menambahkan bahwa hasil ikan tangkapannya ini biasa dikirim ke wilayah Batam seperti di pasar SP dan Aviari selain diantaranya dikirim ke Singapura.

"Untuk satu hari normalnya bisa tiga kali lori besar datang mengangkut ikan. Pagi, siang, dan sore. Masing-masing lori mengangkut ikan sebanyak 4 ton ikan segar dan sore harus segera dikirim karena kalau tidak akan segera busuk," lanjut Nurdin. Ia juga mengeluhkan lori es yang tidak bisa datang padahal tersebut sangat dibutuhkan olehnya agar tetap menjaga ikan tangkapan tersebut tetap segar dan tidak cepat busuk.

Untuk es sendiri minimal dirinya membutuhkan dua lori es setiap harinya. Pihaknya juga sudah mengantisipasi apabila masalah jembatan tersebut lama mendapatkan perbaikan. "Kalau tidak bisa dilalui, terpaksa kami mengirimkan hasil ikan kami memakai kapal pompong besar yang nantinya akan langsung dikirim ke Pelabuhan Sagulung. Namun, tentu hal tersebut membutuhkan biaya tambahan lagi yang lebih besar dikarenakan biaya bahan bakar solar yang mahal," tutup Nurdin.(tyn)      

Editor: Budi Prasetyo
Sumber: Tribun Batam
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved