• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 23 Oktober 2014
Tribunnews.com

Menengok Budidaya Semut Rang-rang di Desa Sumber Wangi

Rabu, 13 Juni 2012 10:49 WIB
Menengok Budidaya Semut Rang-rang di Desa Sumber Wangi
Menengok Budidaya Semut Rang-rang di Desa Sumber Wangi

TRIBUNNEWS.COM  LAMPUNG  - Tingginya permintaan akan telur semut rang-rang atau sering disebut kroto di Kalianda dan beberapa daerah sekitarnya, dilihat oleh beberapa warga di Desa Sumber Wangi dan Sukarandep Kecamatan Sragi sebagai sebuah peluang usaha sampingan yang cukup menjanjikan.

Apalagi harga kroto dipasaran saat ini cukup tinggi. Yakni mencapai Rp.70 ribu hingga Rp.100 perkilogram. Sebuah harga yang sangat menggiurkan dan menjanjikan tambahan penghasilan yang cukup memadai.

Mulai sulitnya mencari sarang semut rang-rang dikawasan hutan dan kebun saat ini, melahirkan ide bagi mereka untuk menernakan (budidaya) semut berwarna merah yang memiliki gigitan cukup menyakitkan tersebut.

Salah satu yang mulai melakukan budidaya semut rang-rang yakni Suyadi alias Gombloh. Warga Desa Sumber Wangi tersebut sudah mula membudidayakan semut rang-rang sejak setengah bulan lalu.

Awalnya, menurutnya, ia sering mencari sarang rang-rang dikebun atau dihutan yang ada disekat desanya untuk kemudian dijual kepada pedagang burung. Namun pada satu waktu, seorang temannya menawarkan ide untuk membudidayakan semut yang memiliki gigitan cukup menyakitan itu. Temannya tersebut, mendapatkan ide untuk membudidayakan semut rang-rang dari internet.

“Saya pikir ide tersebut cukup baik. Sebab harga kroto saat ini dipasaran cukup tinggi. Lalu untuk mencari sarang semut rang-rang pun sudah mulai sulit,” ungkapnya kepada Tribunlampung, Rabu (13/6/2012).

Ia pun kemudian menyiapkan sebuah rak khusus untuk membudidayakan semut rang-rang dirumahnya. Media yang digunakannya untuk menjadi tempat semut bertelur pun cukup sederhana. Yakni toples pelastik.

Rak tempat budidaya semut rang-rang tersebut ia letakan disebuah ruangan yang tadinya hendak dijadikannya warung kelontongan. Rak sendiri dibuatnya tiga tingkatan. Toples plastik yang akan dijadikan tempat semut bersarang ia tempatkan pada rak bagian kedua dan ketiga.

Sedangkan untuk rak bagian bawah dijadikannya tempat menaruh sarang semut rang-rang yang diambilnya dari kebun dan hutan. Untuk menghindari semut pergi, pada bagian kaki rak diberinya baskom plastik yang diisi air. Sehingga semut rang-rang tidak bisa untuk pergi dan akhirnya masuk kedalam toples membuat sarang dan bertelur.
Saat ini pria paruh baya yang sehari-hari bertani dan menjadi tukang tersebut sudah memiliki sekitar 10 toples sarang semut rang-rang yang sudah mulai bertelur. Menurutnya, biasanya telur semut rang-rang dapat dipanen setiap setengah bulan.

Namun memang jumlahnya tidaklah banyak dalam setiap sarang. Biasanya dalam setiap sarang, hanya dapat menghasilkan telur semuk sekitar 300 ons.
“Rencananya telur pertama ini masih akan saya biarkan menetas menjadi anak semut rang-rang. Belum akan saya panen. Untuk bibit terlebih dahulu,” paparnya.

Diungkapkan  Suyadi, budidaya semut rang-rang tidaklah terlalu sulit. Biasanya untuk makanan, ia menyediakan air gula serta sisa-sisa makan keluarganya. Terkadang ia juga memberikan ampas kelapa untuk makanan semut rang-rang peliharaannya. Sedangkan untuk pangsa pasar, ungkapnya, ia sendiri telah memiliki pelanggan khusus yang nantinya akan menerima kroto hasil budidaya.(ded)

Editor: Budi Prasetyo
Sumber: Tribun Lampung
0 KOMENTAR
620381 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas