Museum Kesehatan Jiwa Berusia 110 Tahun di Malang

Museum Keswa diresmikan pada 23 Juni 2009 bertepatan dengan HUT RSJ Dr Radjiman Wediodiningrat yang ke-107.

Museum Kesehatan Jiwa Berusia 110 Tahun di Malang
surya/eben haezer panca
Siswantoro, Kepala Instalasi Museum Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Dr Radjiman Wediodiningrat Lawang, Kabupaten Malang menujukan alat-alat pasung

Laporan Wartawan Surya, Eben Haezer Panca

TRIBUNNEWS.COM, MALANG – Museum Kesehatan Jiwa (Keswa) Dr Radjiman Wediodiningrat di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, adalah satu-satunya museum kesehatan jiwa yang pernah dan masih ada di Indonesia. Sayang, keberadaan museum ini tak banyak diketahui masyarakat.

Museum Keswa diresmikan pada 23 Juni 2009 bertepatan dengan HUT RSJ Dr Radjiman Wediodiningrat yang ke-107. Artinya, hari ini museum tersebut telah menapaki usianya yang ketiga, bertepatan dengan HUT RSJ yang ke-110.

Di dalam museum, tersimpan ratusan koleksi yang terdiri dari benda-benda
dan dokumen-dokumen lawas, yang berkaitan dengan riwayat masa lampau RSJ.

Sayangnya, karena luas museum yang masih belum memadai, baru 700-an benda yang bisa dipajang di dalam museum. Sisanya, masih tersimpan di dalam gudang.

Banyak informasi menarik seputar kesehatan jiwa yang bisa diperoleh di
museum Keswa.  Pengunjung bisa menyaksikan peralatan terapi sakit jiwa,
baik yang penggunaannya dibenarkan oleh RSJ maupun tidak.

Contoh peralatan terapi yang dibenarkan penggunaannya dan dipajang di museum ini, misalnya ialah bak Hydrotherapy  yang pada abad 19 digunakan merendam pasien dan bertujuan untuk menenangkan keadaan pasien.

Contoh lainnya, Museum Keswa juga memajang sepasang baju pengaman straight jacket, dan alat pasung dari kayu.

Kepala Instalasi Museum Keswa, Siswantoro, mengatakan, penggunaan straight jacket dan alat pasung ini sebenarnya tidak dianjurkan. Hanya saja, pada beberapa kasus, pasien memang harus  mengenakan pakaian ini agar tidak sampai melukai orang lain.

“Ini kami pajang agar masyarakat tahu bahwa penggunaannya dilarang karena justru akan menyakiti dan melukai penderita gangguan jiwa,” ujar Siswantoro.

Dilanjutkannya, keberadaan Museum Keswa bertujuan untuk mengedukasi
masyarakat dan memberi pemahaman mengenai segala permasalahan kejiwaan dan bagaimana penanganannya yang tepat.  

“Selama ini masyarakat masih menganggap angker segala hal yang  berhubungan dengan gangguan kejiwaan. Karena itu, dengan adanya museum ini, diharapkan mereka bisa belajar lebih banyak tentang masalah kejiwaan dan sejarah mengenai itu,” kata Siswantoro

Menapaki usia museum yang ketiga serta usia RSJ yang 110 tahun, pihak RS
menyadari benar bahwa pengembangan serta sosialisasi harus dilakukan agar
masyarakat mengetahui keberadaannya. Pasalnya, diakui bahwa selama ini
tingkat ketertarikan masyarakat untuk mengunjungi museum ini masih cukup
rendah.

“Dalam sebulan rata-rata 50 pengunjung yang datang kemari. Mereka
kebanyakan adalah mahasiswa Stikes yang mendapat tugas untuk belajar
kemari. Selain itu, juga ada pengunjung-pengunjung dari mancanegara yang
datang kemari. Karena itu, kami berharap agar tempat ini suatu saat bisa
menjadi salah satu tempat riset masalah gangguan kejiwaan,” pungkas
Siswantoro.(*)

BACA JUGA

Editor: Dahlan Dahi
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help