• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 25 Juli 2014
Tribunnews.com

Pedagang: Enakan Jualan ke Malaysia daripada ke Indonesia

Minggu, 24 Juni 2012 01:22 WIB
Pedagang: Enakan Jualan ke Malaysia daripada ke Indonesia
TRIBUN KALTIM/NIKO RURU
Bupati bersama pejabat Adpel Nunukan, Selasa (13/3/2012), meninjau aktivitas keberangkatan kapal rute Nunukan-Tawau, Malaysia.


Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Niko Ruru

TRIBUNNEWS.COM - Bagi sebagian warga Sebatik, Kalimantan Timur, berdagang dengan Tawau, Malaysia, lebih menguntungkan ketimbang Indonesia.

Setidaknya, begitulah menurut Camat Sebatik Timur Baharuddin Sutte. Menurut Pak Camat, dari segi biaya transportasi dan waktu, warga Pulau Sebatik sangat diuntungkan jika harus menjual hasil alamnya ke Tawau, Malaysia.

Untuk berjualan ke Tawau, warga cukup menempuh perjalanan sekitar 15 menit dari Pulau Sebatik. Biaya transportasi untuk mengangkut hasil bumi juga lebih rumah.

"Sebenarnya ini cukup menguntungkan. Karena terus terang saja kita belum punya pasar untuk menjual hasil bumi. Kita masih terbatas. Kalau tidak, ini mau dibawa kemana? Untunglah ada pemasaran di Tawau dengan waktu 15 menit bisa dibawa ke sebelah," ujarnya seperti dilaporkan Tribun Kaltim (TRIBUNnews.com Network).

Ia mengatakan, jika hasil bumi ini dijual keluar Tawau, keuntungan yang diperoleh petani tentu lebih kecil. Sebab mereka harus mengeluarkan biaya transportasi lebih besar.

"Kalau harus dijual ke Nunukan atau Tarakan, berapa besar biaya transportasinya? Belum lagi waktunya lama, nanti sempat busuk. Seperti kelapa sawit, itu hanya dalam hitungan beberapa saat sudah rusak, tidak ada harga," katanya.

Hanya saja diakuinya, selama ini mekanisme harga justru diatur pembeli di Tawau. Sebab kesan yang muncul, seakan-akan petani di Sebatik sangat membutuhkan pasar di sana.

"Rata-rata petani kita sudah punya pelanggan di Tawau," ujarnya. Dari sisi lainnya diakui, perdagangan dengan pola tradisional ini sangat merugikan negara. Sebab tidak ada pajak yang masuk ke kas negara.

"Kalau sekarang memang berat karena kalau pajak diberlakukan kasihan masyarakat. Kecuali misalnya pedagang Malaysia membeli ke sini, kemudian mereka bawa ke sana dikenakan pajak tidak masalah," ujarnya.

Dia mengatakan, pemerintah tidak tinggal diam terhadap persoalan ini. Pemerintah sudah mencoba mengundang investor untuk masuk ke Pulau Sebatik. Hanya saja masih ada sejumlah keterbatasan yang menyebabkan investor enggan masuk. Misalnya saja, Sebatik hingga kini masih berstatus kecamatan, sehingga segala urusan perizinan harus diurus di ibukota Kabupaten Nunukan.

"Kecuali kita sudah jadi kota, bisa mengurus diri sendiri, kita bisa fokus. Ada investor masuk penanganannya jadi lebIh cepat," ujarnya. Masalah lainnya, infrrastruktur juga sangat terbatas. Selain kondisi jalan yang belum mendukung, listrik juga belum mencukupi untuk pembangunan industri.

"Untung sekarang ada penambahan sedikit daya listrik. Ini baru memenuhi kebutuhan rumah tangga, mudah-mudahaan kedepan ada kelebihan daya listrik yang bisa digunakan untuk industri," ujarnya.

Ia berharap, dengan berubahnya status Sebatik menjadi daerah otonom, kendala yang menghambat masuknya investor dapat teratasi. Sehingga, investor akan masuk dan hasil alam seperti kelapa sawit, ikan dan kakao bisa dipetik dan diolah di Sebatik lalu dijual keluar setelah diolah.

"Kalau sekarang bahan baku yang kita jual. Di sana diolah tenaga kerja Indonesia dan hasilnya dijual kepada orang Indonesia lagi," katanya. (*)

Editor: Dahlan Dahi
Sumber: Tribun Kaltim
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
658752 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas