Ratusan Massa Bawa Parang Ancam Manajemen PT Boswa

Konflik antara warga dengan perusahaan perkebunan PT Boswa Megalopolis di Kabupaten Aceh Jaya,

TRIBUNNEWS.COM, CALANG - Konflik antara warga dengan perusahaan perkebunan PT Boswa Megalopolis di Kabupaten Aceh Jaya, masih berlanjut pada Rabu (27/6/2012) kemarin. Dalam aksi hari kedua itu, ratusan massa mulai membawa senjata tajam berupa pedang dan golok untuk mem-pressure manajemen PT Boswa.

Aksi tersebut mereka lakukan sekitar pukul 11.30 WIB di perkebunan kelapa sawit milik PT Boswa di Desa Bunta, Kecamatan Krueng Sabee, Aceh Jaya. Sehari sebelumnya, para pengunjuk rasa malah membakar kamp pekerja, termasuk mengobrak-abrik areal pembibitan PT Boswa di Desa Bunta, Kecamatan Krueng Sabee. Dalam insiden itu, dua warga luka bakar akibat terjebak kobaran api.

Amatan Serambi, aksi massa pada hari kedua itu tidak sempat berkembang ke arah anarkis, karena pihak kepolisian dan TNI bertindak cepat meredamnya.

Sebagaimana hari pertama, massa yang kembali beraksi kemarin itu berasal dari tiga desa, yaitu Curek dan Alue Tho, Kecamatan Krueng Sabee dan Desa Batee Meutudong, Kecamatan Panga.

Sejak pukul 10.30 WIB, mereka bergerak naik kendaraan roda dua dari simpang Desa Bunta menuju lokasi aksi. Mereka melalui jalan perusahaan sepanjang delapan kilometer, melewati beberapa pengunungan yang telah gundul. Menghabiskan waktu satu jam perjalanan untuk sampai di lokasi.

Akan tetapi, sebelum konvoi massa tersebut tiba di areal perkebunan, pihak polisi dan TNI sudah lebih duluan bersiaga di lokasi. Massa yang datang berangsur-angsur berhasil dikendalikan, sehingga meski ada sekitar sembilan unit alat berat yang tersisa di lokasi itu, tapi tidak sempat menjadi sasaran amuk massa.

Sementara itu, staf dan pekerja perkebunan kemarin tidak ada yang terlihat lagi di kompleks PT Boswa. Suasana perkantoran sepi.

Massa yang datang dalam jumlah banyak itu sekitar pukul 13.30 WIB membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing dengan berjanji tidak akan kembali lagi untuk beraksi.

Kapolres Aceh Jaya, AKBP Drs Galih Sayudo didampingi Dandin 0114 Aceh Jaya, Letkol Inf Yugo Widirgo kepada Serambi mengatakan, aksi massa yang sebagian besar membawa pedang dan golok itu berhasil diredam, sehingga tidak terjadi tindakan anarkis seperti sehari sebelumnya.

Kapolres meminta warga yang berunjuk rasa itu menahan diri, sebab sengketa tanah--termasuk pengukuran tapal batasnya--yang memicu percekcokan itu, akan diselesaikan segera setelah bupati/wakil bupati terpilih dilantik.

Halaman
12
Editor: Hendra Gunawan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2016
About Us
Help