• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 26 Oktober 2014
Tribunnews.com

Ratusan Massa Bawa Parang Ancam Manajemen PT Boswa

Kamis, 28 Juni 2012 15:54 WIB

TRIBUNNEWS.COM, CALANG - Konflik antara warga dengan perusahaan perkebunan PT Boswa Megalopolis di Kabupaten Aceh Jaya, masih berlanjut pada Rabu (27/6/2012) kemarin. Dalam aksi hari kedua itu, ratusan massa mulai membawa senjata tajam berupa pedang dan golok untuk mem-pressure manajemen PT Boswa.

Aksi tersebut mereka lakukan sekitar pukul 11.30 WIB di perkebunan kelapa sawit milik PT Boswa di Desa Bunta, Kecamatan Krueng Sabee, Aceh Jaya. Sehari sebelumnya, para pengunjuk rasa malah membakar kamp pekerja, termasuk mengobrak-abrik areal pembibitan PT Boswa di Desa Bunta, Kecamatan Krueng Sabee. Dalam insiden itu, dua warga luka bakar akibat terjebak kobaran api.

Amatan Serambi, aksi massa pada hari kedua itu tidak sempat berkembang ke arah anarkis, karena pihak kepolisian dan TNI bertindak cepat meredamnya.

Sebagaimana hari pertama, massa yang kembali beraksi kemarin itu berasal dari tiga desa, yaitu Curek dan Alue Tho, Kecamatan Krueng Sabee dan Desa Batee Meutudong, Kecamatan Panga.

Sejak pukul 10.30 WIB, mereka bergerak naik kendaraan roda dua dari simpang Desa Bunta menuju lokasi aksi. Mereka melalui jalan perusahaan sepanjang delapan kilometer, melewati beberapa pengunungan yang telah gundul. Menghabiskan waktu satu jam perjalanan untuk sampai di lokasi.

Akan tetapi, sebelum konvoi massa tersebut tiba di areal perkebunan, pihak polisi dan TNI sudah lebih duluan bersiaga di lokasi. Massa yang datang berangsur-angsur berhasil dikendalikan, sehingga meski ada sekitar sembilan unit alat berat yang tersisa di lokasi itu, tapi tidak sempat menjadi sasaran amuk massa.

Sementara itu, staf dan pekerja perkebunan kemarin tidak ada yang terlihat lagi di kompleks PT Boswa. Suasana perkantoran sepi.

Massa yang datang dalam jumlah banyak itu sekitar pukul 13.30 WIB membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing dengan berjanji tidak akan kembali lagi untuk beraksi.

Kapolres Aceh Jaya, AKBP Drs Galih Sayudo didampingi Dandin 0114 Aceh Jaya, Letkol Inf Yugo Widirgo kepada Serambi mengatakan, aksi massa yang sebagian besar membawa pedang dan golok itu berhasil diredam, sehingga tidak terjadi tindakan anarkis seperti sehari sebelumnya.

Kapolres meminta warga yang berunjuk rasa itu menahan diri, sebab sengketa tanah--termasuk pengukuran tapal batasnya--yang memicu percekcokan itu, akan diselesaikan segera setelah bupati/wakil bupati terpilih dilantik.

“Kita minta masyarakat untuk tidak bertindak anarkis lagi dan kita berharap Pemkab Aceh Jaya dapat menyelesaikan sengketa tapal batas tanah antara warga dengan PT Boswa. Pemkab Aceh Jaya juga diharapkan tidak menganggap sepele hal itu, sehingga ke depan tidak sampai terjadi pertumpahan darah dan tindakan brutal dari warga,” ucap Galih Sayudo.

Sementara itu, Ketua DPRK Aceh Jaya, Hasan Ahmad mengatakan, menanggapi kasus PT Boswa dengan warga pihak DPRK pada Rabu kemarin langsung menggelar rapat dengan pemkab yang dihadiri Pi Bupati Aceh Jaya dan para anggota DPRK setempat.

Rapat tersebut menyimpulkan agar warga dan PT Boswa bersabar dan menahan diri lebih dahulu untuk mendapatkan solusi yang jitu. “Nanti, setelah bupati/wakil bupati terpilih dilantik, maka pengukuran tapal batas tersebut segera lakukan dengan melibatkan sejumlah pihak terkait,” ujarnya.

Kapolres Aceh Jaya menambahkan, kerusuhan itu terjadi akibat PT Boswa Megalopolis mengerjakan lahan yang masih bermasalah dengan warga. Padahal, sebelumnya sudah ada kesepakatan bersama antara PT Boswa dengan masyarakat yang sama-sama tidak melakukan aktivitas sebelum adanya keputusan menyangkut lahan sengketa.

“Menurut laporan yang kami terima, ternyata perusahaan mengerjakan secara diam-diam lahan yang masih bermasalah sehingga menimbulkan aksi massa,” demikian Kapolres Aceh Jaya.

Di sisi lain, GM PT Boswa Megalopolis, Farid Siradju kepada Serambi di Calang, ibu kota Aceh Jaya, kemarin berharap kasus itu diselesaikan secara damai. “Saya tidak menyalahkan siapa-siapa. Namun, kita juga sangat menyesalkannya. Seharusnya itu tidak terjadi. Sekali lagi hendaknya persoalan ini bisa diselesaikan secara damai,” ujar Farid.

Ia tambahkan, kerugian yang dialami PT Boswa akibat amuk massa itu mencapai Rp 4,3 miliar. Di antaranya, bibit sawit umur 10 bulan 160 ribu batang hancur yang jika diuangkan mencapai Rp 4,1 miliar. Selain itu, kerusakan mesin pompa air bersih dan bangunan mencapai Rp 200 juta. Barak atau kamp yang hancur itu taksiran harganya sekitar Rp 75 juta.

Editor: Hendra Gunawan
0 KOMENTAR
674161 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas