• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 17 April 2014
Tribunnews.com

Bunga Edelweis Harapan Korban Erupsi Merapi

Rabu, 4 Juli 2012 03:44 WIB
Bunga Edelweis Harapan Korban Erupsi Merapi
TRIBUNNEWS.COM/IMAN SURYANTO
Erupsi Merapi

TRIBUNNEWS.COM, JOGJAKARTA - Erupsi Merapi pada 2010 silam, menyebabkan banyak korban, baik nyawa maupun harta.

Ratusan rumah hancur, begitu pula ladang para petani yang luluh lantak. Namun, lebih dari satu tahun berselang, erupsi merapi mulai memperlihatkan manfaatnya bagi warga sekitar.

Ribuah hektare hutan kini sudah mulai menghijau. Sektor pariwisata pun semakin menggeliat, seiring banyaknya wisatawan yang ingin menyaksikan sisa-sisa kedahsyatan terjangan wedhus gembel.

Hal itu tak lepas dari bidikan warga untuk mengais rezeki dari para pengunjung kawasan wisata lava tour, di Kinahrejo, Cangkringan.

Ada yang bekerja sebagai pemandu wisata, petugas parkir, serta tak sedikit yang menekuni usaha berjualan makanan kecil, jualan kerajinan, serta makanan khas yang kerap ditemukan di lereng Merapi berupa menu tempe jaddah.

Darto (40) adalah satu di antara sekian banyak pedagang yang menggantungkan hidup dari berjualan bunga abadi, atau lebih dikenal dengan sebutan bunga edelweis.

Bunga ini banyak ditemukan di sekitar jalur pendakian dan wilayah Dusun Kalitengah Lor, Glagaharjo, Cangkringan. Lantaran keawetan dan keindahannya, bunga ini menjadi buruan para wisatawan untuk cinderamata.

"Lumayan untuk menambah pendapatan keluarga," ujar Darto saat ditemui beberapa waktu lalu.

Berjualan bunga edelweis bagi Darto cukup menjanjikan. Dalam sehari, ia sanggup menjual rata-rata sebanyak 10 ikat bunga. Karena laris itu pula, maka tak heran di lokasi itu kini setidaknya ada 20 pedagang bunga sejenis.

Jika sedang ramai pengunjung, setiap pedagang paling banyak sanggup menjual 15-20 ikat bunga setiap hari. Terutama, pada puncak kunjungan yang biasanya jatuh pada akhir pekan.

"Kami di sini juga menyediakan Bunga Sataria yang hanya bisa ditemukan di Merapi," jelas Darto.

Bunga tersebut dijual seharga Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu per ikat. Jumlah itu dirasakan sudah mencukupi kebutuhan keluarga, terutama jika dikaitkan dengan hancurnya perekonomian warga pasca-erupsi Merapi.

Hal yang sama diungkapkan Yani. Ia lebih memilih menjual bunga abadi dibandingkan menjajakan makanan. Selain laris manis, ia juga tak perlu khawatir saat barang dagangannya tidak habis.

Kedua penjual ini merupakan korban erupsi Merapi yang semua harta bendanya telah hancur, bersamaan dengan luncuran awan yang sangat panas. Mereka kehilangan harta dan juga sumber penghasilan.

Awalnya, mereka mengaku pesimistis sanggup bangkit dari keterpurukan yang mereka alami. Terlebih, erupsi Merapi menyebabkan kerusakan dahsyat di sekitar Gunung Merapi, yang biasanya menjadi tempat berladang dan menggembala sapi peliharaan mereka.

"Tapi, saya yakin Tuhan punya rencana besar buat kami. Terbukti, saat ini kami perlahan-lahan mulai bangkit," papar Yani optimistis. (*)

BACA JUGA

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribun Jogja
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
690971 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas