Senin, 24 November 2014
Tribunnews.com

Polsuska Laporkan Kasus Pemukulan Oleh Oknum TNI

Selasa, 14 Agustus 2012 09:16 WIB

Polsuska Laporkan Kasus Pemukulan Oleh Oknum TNI
google

TRIBUNNEWS.COM, CIREBON - Anggota Polisi Khusus Kereta Api (Polsuska) Cirebon Express, Lukman S (22), melaporkan kasus pemukulan yang dialaminya di dalam kereta api oleh anggota TNI, Minggu (12/8/2012) malam.

Kejadian itu hanya berselang sehari setelah kasus dua anggota TNI yang dilaporkan warga dengan tuduhan penganiayaan terhadap warga di RW 11, Kelurahan Kesenden, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, Sabtu (11/8).

Lukman mengatakan peristiwa itu bermula dari pemeriksaan tiket penumpang kereta api. Lukman bertugas memeriksa tiket para penumpang Kereta Api Cirebon Express sesaat setelah meninggalkan Stasiun Gambir, Jakarta.

Tujuan akhir perjalanan kereta itu adalah Stasiun Kejaksan Cirebon. "Saat itu, saya mendapatkan ada delapan penumpang dengan tiket kelas bisnis tapi duduk di gerbong eksekutif," ujar Lukman kepada wartawan, di Stasiun Kejaksan, Jalan Siliwangi, Kota Cirebon, Minggu (12/8) malam. Tiga di antara penumpang itu adalah anggota TNI. Ia mengaku mengenal ketiga anggota TNI itu karena sering melihat mereka naik kereta api itu.

Pria berusia 22 tahun itu mengatakan lebih dulu meminta lima penumpang sipil agar berpindah ke gerbong bisnis. Hal itu dilakukan seusai dengan perintah kondektur kereta api Cirebon Express. "Saya meminta mereka menempati kursi sesuai dengan yang tertera pada tiket," katanya.

Awalnya tidak ada masalah. Namun, ucap Lukman, seorang di antara lima penumpang itu mengadu ke anggota TNI itu. "Tuntas pemeriksaan karcis, mereka (tiga anggota TNI itu) mengadang saya di gerbong kamar makan," ujar Lukman.

Tiga anggota TNI itu menarik baju hingga kancing baju atasnya lepas. Selain itu, mereka memukuli wajahnya. "Saya digeret-geret, kancing baju lepas," ujarnya. Lukman mengalami pemukulan itu sekitar pukul 16.51. Ponsel yang dikantongi dalam saku bajunya rusak karena tangan ketiga anggota TNI itu sering menekan ponselnya ketika mendorong-dorongnya.

Hidung Lukman pun mengeluarkan darah dan bibirnya pecah. Ketiga anggota TNI itu juga mengucapkan kata-kata kasar kepada Lukman. Padahal, menurutnya, ia hanya berurusan dengan lima penumpang sipil dan belum menegur ketiga anggota TNI itu. Karena itu, ia melaporkan peristiwa itu kepada atasannya.

Menurut Kepala PT KAI Daerah Operasional (Daop) III Cirebon, Berlin Barus, pimpinan tertinggi atau direktur utama PT KAI menyatakan kasus oleh anggota TNI terhadap anggota Polsuska diselesaikan melalui proses hukum. Sejauh ini, Dirut PT KAI, katanya, sudah mendatangi markas besar AL di Jakarta untuk membicarakan hal ini. "Tunggu saja hasilnya," kata dia.

Belum ada tanggapan dari pihak TNI AL mengenai ini. Dandenpom AL, Kapten Achmad Taufan W, yang dihubungi Tribun melalui pesan singkat, menolak berkomentar. "Mohon maaf, belum bisa konfirmasi Komandan (karena) masih dinas di luar kota," ujarnya via pesan singkat. Dandenpom AD, Letkol Agus Santoso, pun belum menanggapi hal itu. Agus sempat menerima telepon Tribun kemarin sore tapi tak sempat memberi keterangan karena sedang berada di tempat ramai.

Mulai H-7 sampai H+7, PT KAI meningkatkan pengawasan terhadap para penumpang KA. "Pengawasan dan pengaturan tersebut di antaranya melakukan pemeriksaan identitas calon penumpang pada setiap tiket. Nama penumpang pada kartu identitas masing-masing harus sesuai dengan yang tertera pada tiket," kata Kepala Humas PT KAI Daop II Bandung, Bambang Setya Prayitno, di tempat kerjanya, kemarin.

Para petugas portir yang bertugas sebagai penjaga pintu masuk stasiun, kata Bambang, berkewajiban melakukan pemeriksaan tersebut. Jika sesuai antara nama pada tiket dan kartu identitas, petugas memberikan stempel atau cap yang menyatakan tiket tersebut sesuai identitas penumpangnya.

Akan tetapi, ujar Bambang, penumpang yang memiliki tiket yang masa cetaknya sebelum 1 Juli 2012, masih boleh menggunakan tiket yang tidak sesuai antara nama yang tertera pada tiket dan identitas. Meski begitu, katanya, pihaknya tetap melakukan pengecapan, yaitu bertuliskan "Telah Diperiksa".

Tiket yang dicetak sebelum 1 Agustus, kata Bambang, dapat digunakan satu penumpang lebih. Nama yang tertera pada tiket tersebut atau manifes KA, hanya satu nama. "Yang kami verifikasi ID adalah penumpang yang tertera pada tiket tersebut," katanya.

Bambang mengungkapkan, jika saat perjalanan berlangsung kondektur mendapati penumpang yang tiketnya belum terstempel, petugas langsung memeriksanya. "Seandainya antara nama pada tiket dan identitas penumpang tidak sesuai, mohon maaf, kami terpaksa menurunkan penumpang tersebut pada kesempatan pertama," kata Bambang.

Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Tribun Jabar

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas