Tubuh Ahli Mercon Hancur Berkeping-keping

Ponari yang dikenal sebagai ahli mercon tewas akibat ledakan mercon racikannya, Selasa ( 13/8/2012) malam.

Tubuh Ahli Mercon Hancur Berkeping-keping
Surya/Hayu Yudha Prabowo‚Ä™
Ledakan petasan terjadi di sebuah rumah di Dusun Dusun Alas Gede, Desa Ngingit RT 20/RW 06, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Selasa (14/8/2012) malam, sekitar pukul 19.00 WIB.

Laporan Wartawan Surya, Eben Hazar

TRIBUNNEWS.COM, MALANG – Ponari yang dikenal sebagai ahli mercon tewas akibat ledakan mercon racikannya, Selasa ( 13/8/2012) malam.

Tak hanya itu, ledakan mercon turut merenggut istrinya, Mistiani (40) dan keponakannya, Sodikin (15). Dahsyatnya ledakan mercon membuat tubuh ketiganya hancur berkeping-keping. Di samping itu, 13 rumah di sekitarnya ikut rusak.

Ponari dikenal warga sekitar sebagai sosok yang digdaya dan kebal terhadap ledakan petasan. Ayah dua anak ini dikenal suka mempertunjukkan ‘kekebalannya’ di hadapan penonton. Makanya, Ponari tewas ‘di tangan’ petasan bikinannya sendiri itu membuat keluarganya hampir tidak percaya.

“Dulu dia sering diundang untuk pertunjukan silat dan menunjukkan dia kebal petasan. Memang waktu itu petasan kecil-kecil dia kalungkan di leher lalu dinyalakan. Terakhir saya lihat, dia ikut pertunjukan itu dua tahun lalu di Buring,” ucap Faziri yang ditemui saat menyaksikan polisi menyelidiki tempat kejadian.

Soal kebiasaan Ponari membuat petasan, Faziri yang rumahnya berdampingan dengan rumah Ponari serta ikut hancur itu, tak memungkiri. Namun, ia tidak tahu bahwa aktivitas terakhir adik iparnya itu membuat petasan dengan ukuran besar.

”Kalau soal Ponari yang membuat petasan kemarin itu, saya sama sekali tidak tahu. Waktu kejadian, saya dan anak istri saya sedang pergi ater-ater (mengantarkan makanan) ke saudara-saudara di Malang. Waktu pulang malamnya, tahu-tahu rumah Ponari dan rumah saya sudah hancur,” imbuh pria yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang buah di pasar Singosari ini.

Kalau pun ia tahu, Ponari tidak akan menurut bila dilarang. “Adik saya itu bukan tipe orang yang bisa ditegur dengan mudah. Kalau dibilang tidak boleh, ya tidak akan digubris. Orangnya keras kepala,” tutur kakak Mistiana itu.

Meski begitu, banyak sifat positif lain yang dimiliki Ponari yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani itu. Satu di antaranya adalah ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja.

Karena itulah, tutur Faziri, Ponari pernah didapuk menjadi kepala dusun beberapa tahun silam.

Yang paling terpukul atas peristiwa ini adalah Putri (17), anak Ponari dan Mistiani. Siang kemarin, remaja ini sedang rebahan di sofa salah satu tetangga. Namun ketika melihat rombongan wartawan datang, ia langsung menyembunyikan wajahnya di balik bantal. ”Nggak mau. Saya nggak mau ngomong,” kata Putri singkat.

Petugas kesulitan mengumpulkan potongan-potongan tubuh ketiga korban. "Potongan tubuh bagian dada yang sudah tidak utuh ditemukan jauh di belakang rumah korban," terang Ipda Suwarsono, personel Brimob Polda Jatim yang membantu pencarian.

KLIK JUGA:

Editor: Anwar Sadat Guna
Sumber: Surya
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved