• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 25 Oktober 2014
Tribunnews.com

Polisi Bekuk Komplotan Rampok Bersenpi di Langsa

Kamis, 30 Agustus 2012 09:52 WIB
Polisi Bekuk Komplotan Rampok Bersenpi di Langsa
Serambi Indonesia/Zubir
Kapolres Langsa AKBP Hariadi SH SIK, memperlihatkan BB satu pucuk senpi FN, megazen, dan empat butir amunisi, berikut dua pelaku perampokan serta seorang pemilik senpi FN tersebut, di ruang kasat Reskrim Polres setempat, Rabu (29/8/2012).

TRIBUNNEWS.COM, LANGSA – Polres Langsa membekuk pelaku dan anggota komplotan perampok bersenjata api (senpi) yang terlibat setidaknya dalam dua kasus perampokan bersenjata di wilayah timur Aceh, yaitu terhadap Darmawan (42), karyawan PT Pos Langsa pada 17 Agustus 2012 dan Suratmin, pengelola warkop di Gampong Paya Bili, Kecamatan Birem Bayeun, Minggu 26 Agustus 2012.

Kapolres Langsa AKBP Hariadi SH SIK didampingi Kasat Reskrim Iptu M Firdaus dan Kapolsek Birem Bayeun Iptu Zulkarnain pada konferensi pers, Rabu (29/8/2012) mengatakan, pihaknya telah mengamankan empat orang yang diyakini sebagai pelaku maupun yang terkait dengan beberapa kasus perampokan bersenjata di wilayah hukum Polres Langsa akhir-akhir ini.

Keempat tersangka yang berhasil ditangkap itu masing-masing dua pelaku yang terlibat perampokan yaitu AW alias GD (33), beralamat di Gampong Sungai Lueng, Kecamatan Langsa Timur dan KZ (32), warga Desa Aramiah, Kecamatan Birem Bayeun, Aceh Timur. Juga ditangkap AH (40) pemilik pistol FN, warga Alue Lhoek, Kecamatan Peureulak Timur, Aceh Timur dan seorang lagi penadah emas hasil rampokan berinisial Is (48), warga Aceh Tamiang.

AW dan KZ terlibat kasus di dua lokasi terpisah namun dalam aksinya sama-sama menggunakan pistol yang disewa dari AH. Keduanya ditangkap tim khusus (timsus) gabungan Resmob Polres dan Polsek Birem Bayeun di dua lokasi berbeda.

AW terlibat perampokan karyawan PT Pos Langsa bernama Darmawan, warga Gampong Bayeun Titi, Kecamatan Birem Bayeun pada 17 Agustus 2012 di rumah korban. Aksi itu dilakukan AW bersama seorang rekannya namun hingga Rabu (29/8/2012) rekannya masih buron.

AW ditangkap Senin (27/8/2012) malam sekitar pukul 22.00 WIB di sekitar warkop Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT Ensem, Desa Aramiah, Birem Bayeun. Dari AW diperoleh informasi bahwa senpi FN yang mereka gunakan untuk merampok disewa dari seseorang bernama AH. Selain mengungkap asal-usul senpi, AW juga menyerahkan satu granat manggis sisa konflik kepada polisi.

Pengembangan informasi dari AW, beberapa jam kemudian polisi meringkus AH di sekitar Tugu Polantas Kota Langsa ketika sedang mengendarai mobil pribadi menuju Medan.

AH mengaku pistol FN berikut satu magazen dan empat butir amunisi disembunyikan di satu tempat di Aceh Timur. Maka, polisi langsung menggiring AH untuk mengambil barang bukti di lokasi penyembunyiannya.

AH juga mengaku, selain tersangka AW yang meminjam pistol FN miliknya, ada dua lainnya yang juga meminjam barang tersebut. Kedua orang lain itu diduga terlibat kasus perampokan Suratmin, pengelola warkop di Dusun Sebrang, Gampong Paya Bili II, Birem Bayeun, Minggu (26/8/2012) pagi.

Maka, pada Selasa (28/8/2012) pagi sekitar pukul 08.00 WIB, polisi membekuk KZ di Gampong Alue Pineung, Kecamtan Langsa Timur, Kota Langsa. Bersama KZ disita satu unit sepmor jenis Suzuki Satria FU warna hitam yang digunakan bersama seorang temannya ketika merampok Suratmin. Kepada polisi, KZ mengaku merampok warkop Suratmin bersama seorang rekannya yang masih buron.     

Dari mulut KZ juga keluar pengakuan bahwa emas hasil rampokan sebanyak 14 mayam, sudah dijual 10 mayam kepada seorang penadah berinisial Is, warga warga Aceh Tamiang. Sisa emas empat mayam lagi, menurut KZ, diamankan rekannya kini buron.

Pada Selasa (28/8/2012) sore sekitar pukul 15.30 WIB, polisi menangkap Is di Aceh Tamiang. Tersangak mengaku emas 10 mayam yang dibelinya dari KZ telah dijualnya kepada agen emas di Aceh Tamiang dengan harga sekitar Rp 14 juta.   

Kapolres Langsa menjelaskan, kedua tersangka perampokan, yaitu AW dan KZ dijerat Pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan (curas) dengan ancaman hukuman penjara di atas lima tahun. AH selaku pemilik senpi ilegal dijerat Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1952 dengan ancaman hukuman penjara di atas lima tahun. Sedangkan tersangka penadah dijerat Pasal 480 KUHP dengan ancaman hukuman penjara 4 tahun.

Editor: Hendra Gunawan
0 KOMENTAR
875051 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas