• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 29 Agustus 2014
Tribunnews.com

Sabut Kelapa Tabung Jabung di Ekspor ke Cina

Senin, 3 September 2012 17:16 WIB
Sabut Kelapa Tabung Jabung di Ekspor ke  Cina
ISTIMEWA
Salah satu aktivitas proses pengolahan sabut kelapa di daerah Sungai Guntung, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau.

TRIBUNNEWS.COM  KUALA TUNGKAL, — Limbah kelapa berupa sabutnya dari Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar) ternyata diminati luar negeri. Sabut-sabut itu diekspor ke Cina, utamanya digunakan untuk bahan jok motor mewah.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Tanjabbar, Kosasih mengungkapkan, ketertarikan negara tirai bambu terhadap sabut kelapa asal Tanjabbar telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Hampir setiap bulan, kata dia, sabut kelapa diekspor ke sana .

“Termasuk ekspor ke Hongkong. Di sana bisa dijual mahal kalau sudah barang jadi,” ujarnya belum lama ini.

Kosasih mengatakan, sabut kelapa itu sebelum diekspor dipilah oleh eksportir lokal. Setahun, jumlah ekspor bisa mencapai ribuan ton yang berasal dari ratusan petani milik warga di wilayah Kecamatan Ilir.

“Permintaan terus dilakukan sampai saat ini. Memang saat ini belum begitu banyak yang tahu soal itu,” sebutnya. Tapi, Kosasih mengaku lupa berapa nilai ekspor tersebut.

Komoditas kelapa di Tanjabbar banyak ditemukan di Kecamatan Tungkal Ilir, Betara, Kuala Betara, Pengabuan, Bram Itam dan Senyerang. Dari sekian banyak yang bisa diolah menjadi barang jadi, hanya sabut kelapa yang diminati negara asing.

“Kalau batok dan daun kelapa biasaya hanya dikonsumsi untuk lokal. Kita masih kekurangan infrastruktur untuk meningkatkan nilai ekspor itu,” jelasnya.

Tempurung kelapa, lanjut pria berkulit putih ini digunakan untuk tasbih, tas, dompet, mainan kunci, tempat tisu, dan sejumlah pernak pernik lainnya. Hanya saja, sampai saat ini masih bernilai kecil dan terbatas.

Dia bilang, butuh investor agar produksinya tergenjot dan bisa menjadi pencarian bagi masyarakat. Saat ini, kata mantan staf ahli di era Bupati Safrial ini, pihaknya sedang mengembangkan pembuatan pernak pernik melalui kelompok pelatihan.

Selain sabut kelapa, kopi jenis kopi ekselsa juga menjadi komoditi unggulan yang diminati negara tetangga. Harganya mencapai Rp 26 ribu per kilogram. Saat ini, komoditas tersebut sedang dikembangkan petani.

Disinggung mengenai impor, dirinya tak menampik saat ini terjadi penurunan sejak tahun 2007 lalu. Sebelum tahun 2007, pelabuhan Kuala Tungkal masih bebas menerima barang langsung dari negera tetangga, seperti Malasyia dan Singapura. Barang itu berupa minuman, barang elektorik, garmen dan lainnya.

“Kalau sekarang pelabuhan kita tidak bebas. Barang dari negara tetangga kan harus dari Dumai, setelah itu ke Jambi baru ke Kuala Tungkal,” jelasnya. (man)

Baca Juga :

Editor: Budi Prasetyo
Sumber: Tribun Jambi
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
889682 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas