Minggu, 23 November 2014
Tribunnews.com

Harga Tembakau di Sumenep Terjun Bebas, Petani Merugi

Selasa, 4 September 2012 06:11 WIB

Harga Tembakau di Sumenep  Terjun Bebas, Petani Merugi
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Uum (52), seorang bandar lapangan mengiris daun tembakau yang masih hijau sebelum dijemur di tempat produksinya di Desa Tanjungwangi, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Minggu (26/8/2012). Ketua Kelompok Tani Tembakau Nanjungwangi ini mengeluhkan harga tembakau mole pada musim panen tahun ini merosot menjadi Rp 18.000 - 20.000 per kg, jauh dari tahun sebelumnya Rp 50.000 - Rp 60.000 per kg. Merosotnya harga tersebut diduga ulah permainan tengkulak. TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN

TRIBUNJATIM.COM,SUMENEP-Harga tembakau sampai saat ini tidak seperti yang diharapkan petani tembakau, tetapi justru semakin merosot.

Bahkan hinggal level sangat terendah. Harga tembakau di kalangan petani oleh para tengkulak hanya dihargai Rp 8.000 hingga Rp 12.000 perkilogramnya.

Kondisi ini membuat petani tembakau semakin terpuruk dan dapat dipastikan paling hasil panen tembakau tahun ini gagal. Padahal kualitas tembakau dan cuaca musim tembakau tahun ini dapat dikatakan sama dengan tahun 2011 lalu yang harganya justru tembus hingga Rp 40.000 perkilogramnya.

Junaidi Tabli (35) petani tembakau asal Desa Moncek Timur, Kecamatan Lenteng, Sumenep menuturkan, harga tembakau di kalangan masyarakat saat ini sungguh jauh dari harga normal. Pedagang tembakau banyak menolak dengan alasan kualitas tembakaunya jelek.

"Padahal kualitas tembakau saat ini tidak jauh berbeda dengan kualitas tembakau tahun lalu. Tetapi kenapa kog dibilang jelek sehingga banyak yang tidak terbeli," kata Junaidi.

Karenanya banyak petani yang merasa dipermainkan para pedagang dan tengkulak tembakau. Pedagang sengaja menghembuskan isu kalau tembakau saat ini mutunya jelek dan banyak gudang tembakau yang tutup. Kondisi inilah yang kemudian membuat petani bingung dan tidak jarang mereka menjual dengan harga berapapun asal tembakaunya laku.

"Bayangkan aja, ada tembakau saat ini hanya diharga Rp 8.000 perkilogramnya. Padahal kualitas bagus, dan tergolong daun tembakau yang dirajang sudah tua dan nampak seperti kuning emas," bebernya.

Harga Rp 8.000 hingga Rp 12.000 perkilogram tersebut sudah sangat jauh dari harga tembakau yang bisa menguntungkan petani. Justru petani banyak terjungkal karena harga tembakau seharga tersebut, hasilnya jauh lebih banyak modal tanam dan kerja tembakau.

"Jelas petani sangat merugi," pungkas Junaidi.

Sementara itu, pemerintah Kabupaten Sumenep, berjani akan melakukan upaya untuk memfasilitasi persoalan petani tembakau. Terutama soal bisa terserapnya semua hasil produksi tembakau tahun ini serta harganya yang sesuai dengan harga pokok tembakau tanpa ada permainan dari pedagang dan tengkulak.

"Kita akan berupaya menfasilitasi keinginan petani tembakau dengan mengirimkan surat ke sejumlah gudang pembelian tembakau, agar dapat menyerap semua hasil tembakau dan memberikan harga yang sesuai mutu dan pantas," ujar Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Kabupaten Sumenep, Abdullah Said, Senin (3/9/2012).

Dikatakan, sebuah pabrikan rokok PT Gudang Garam Kediri di Sumenep, akan tetap membeli tembakau Sumenep hingga stok sekitar 2.000 ton jenis tembakau gunung dan tegal gunung. Sedangkan untuk tembakau sawah, kini banyak diserap gudang rokok milik Wismilak.

Penulis: Yoni Iskandar
Sumber: Surya

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas