• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 1 November 2014
Tribunnews.com

Mengintip Hujan Buatan di Jambi

Senin, 10 September 2012 17:21 WIB
Mengintip Hujan Buatan di Jambi
(Tribun Jambi/Hanif Burhani)
Petugas saat menabur garam untuk hujan buatan di dalam pesawat Cassa 212 di atas langit Kota Jambi

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Wahid Nurdin,

TRIBUNNEWS.COM -- Garam dapur tak hanya berasa asin, dan menjadi bumbu wajib agar masakan enak. Zat padat bernama kimia Natrium Chlorida itu ternyata juga digdaya mengikat uap air yang mengawang-awang menjadi buliran air sumber hujan buatan. Dia lebih murah ketimbang Calcium Chlorida.

Tiga hari terakhir pemberitaan berkenaan hujan buatan menjadi santapan warga Jambi, terutama setelah serangan kabut asap mulai menyentuh level mengancam standar ISPU Kota Jambi, dan memaksa sejumlah maskapai menunda penerbangan ke Bandara Sultan Thaha.

Namun secara ilmiah, hujan buatan tak lebih istilah merakyat dari Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Sehingga dia tak sekadar menebar dan menyemai garam ke awan konveksi, namun juga ada modifikasi lain. Karenanya perlu dukungan pendataan, terutama dari BMKG sebelum persiapan rekayasa hujan buatan. Dengan kata lain, tidak ada pembuatan hujan.

Kecuali, hanya memanfaatkan awan agar lebih cepat menurunkan butiran air. Caranya dengan bahan tertentu yang mampu menyerap uap air ke awan. Nah, uap air dalam besaran tertentu itu selanjutnya akan jatuh dalam bentuk butiran air, dan awam menyebutnya hujan.

Lalu apa bahan penyerap uap airnya? Paling sering digunakan yakni garam (NaCL), karena memiliki kemampuan menyerap uap air, dan lebih dari itu harganya paling terjangkau. Karena memang ada bahan pengikat uap air lainnya, bahkan lebih bagus daya ikatnya meski mahal, yakni kalsium klorida (CaCl2).

Koordinator Lapangan Posko TMC, Djazim Syaifullah, Minggu (9/9/2012) mengungkapkan, media atmosfer yang cocok untuk pertumbuhan awan yakni awan tidak stabil, dengan ciri memiliki ladstrip positif.  Ladstrip sendiri penurunan suhu setiap kenaikkan tinggi lapisan udara. Untuk lapisan yang kurang stabil kata Djazim, setiap kenaikan akan turun suhunya.

Karena fase udara naik, dia akan mengalami penurunan suhu. "Sampai suhu parsel itu sama dengan suhu titik embun," jelas Djazim. Pada suhu titik embun itulah suhu titik parsel akan mengembun sehingga uap air sesampainya ke atas menjadi cair. Itulah yang disebut sebagai dasar awan.

Kata Djazim, pada umumnya dasar awan biasa muncul pada ketinggian 4000-5000 kaki, atau sekitar 15.000 meter. "Indikasinya semakin tinggi dasar awan itu, kondisi kolom udara (atmosfer) itu semakin kering," sebut Djazim. Semakin tinggi dasar awan maka akan semakin kering kandungan uap air di situ.

Semakin rendah akan semakin basah. Pada musim kemarau jarang dijumpai awan-awan yang tebal, melainkan awan yang tipis, tapi dasar awannya tinggi. Karena pada musim hujan ada awan yang tebal, dasar awannya rendah karena kondisinya basah. Untuk mendapatkan seperti itu tim perlu kandungan uap air pada atmosfer itu.

Karenanya, BMKG dan BPPT melakukan monitoring setiap hari. "Setelah ada uap air yang cukup, media atau atmosfernya itu mendukung apa nggak, yaitu stabil apa tidak stabil, kita cari yang tidak stabil," sebutnya. Ketidakstabilan awan akan memicu terjadinya pertumbuhan awan, dan di dalamnya sendiri terjadi proses polution polestion.

Atau penggambungan pertumbuhan awan, dan secara alami terus tumbuh hungga terjadi hujan, karena hujan itu inti kondesasi alami. "TMC mengintervensi di awan-awan tadi, kita menambah inti kondensasi dalam bahan semai (garam dapur) ke dalam awan. Sehingga kondensasi yang akan kita sebar itu akan menyerap uap air dalam awan. Semakin banyak kondensasi maka semakin banyak partikel yang jadi cair," paparnya.

Yang tadi telah menjadi uap air akan bergerak di awan itu dinamikanya tinggi sekali. Karena pada proses konveksi massa uap air menyerap laten hit, yakni panas yang tidak kelihatan. "Setelah mencapai titik kondensasi, maka latent hit itu dilepas maka terjadi updraft diiringi downdraft di dalam awan. Selama perjalanan ia akan menyerap uap air lagi. Untuk ukuran besar tertentu dia akan jatuh sebagai butiran-butiran air hujan," paparnya.

Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Tribun Jambi
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas