• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Selasa, 29 Juli 2014
Tribunnews.com

Beasiswa ke Perancis, Mahasiswa Dilarang Tolak Ciuman

Kamis, 13 September 2012 16:09 WIB
Beasiswa ke Perancis, Mahasiswa Dilarang Tolak Ciuman
net
Ilustrasi cium pipi

TRIBUNNEWS.COM,SURABAYA- Sebanyak  27 mahasiswa pascasarjana ITS Surabaya dipilih Dikti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam program beasiswa joint degree dengan Perancis. Mereka terpilih dalam program fast track setelah menyingkirkan sekitar seratus mahasiswa pascasarjana lainnya dari kampus yang sama.

Program fast track joint degree yang diadopsi Dikti ini baru ITS yang menyelenggarakan. Beasiswa penuh ke Perancis ini diperuntukkan bagi mahasiswa S2 yang berhak atas doble degree. Satu tahun kuliah di ITS dan satu tahun berikutnya ke Perancis.

"Syarat utama mahasiswa kami jika ingin percepatan studi di magister ini harus lebih dulu ber-IPK minimal 3,50. Kami akan seleski," ucap Adi Soeprijatno, Direktur Pascasarjana ITS saat pembekalan sebelum bertolak ke Perancis, Kamis (13/9/2012).

Para mahasiswa pascasarjana ini mendapat pengalaman bersama guru besar dan dosen ITS yang lebih dulu menempuh doktor di Perancis. Termasuk bersama Rektor ITS Prof Triyogi Yuwono dan Atase Pendidikan di Perancis. Mereka saling berbagi cerita.

"Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Begitu juga saat kalian menempuh studi ke Perancis, hargailah orang pribumi di sana. Jangan pernah menolak ajakan cium pipi (cipika-cipiki) dari mahasiswa atau orang di Perancis ini," ingat Rektor ITS Triyogi.

Dalam budaya Eropa di Perancis ini, semua orang bila bertemu apalagi dengan teman selalu menyodorkan pipi atau muka untuk dicium. Bukan ciuman nafsu, tapi ciuman budaya keakraban di Perancis.

"Kecuali kalian lebih dulu minta maaf. Jika kalian risih dan terpaksa harus menolak ciuman keakraban itu bisa kita tolak dengan sangat halus dengan bilang dengan baik-baik, saya muslim," kata Triyogi.

ITS adalah perguruan tinggi pertama yang menjalankan program fast track. Dirancang sejak dua tahun lalu. Mahasiswa S1 dengan IPK minimal 3,50 berhak beasiswa S2 ke ITS. Setelah setahun belajar di ITS, setahun berikutnya belajar ke Perancis.

"Selain tes kemampuan akademik dan nilai kuliah, mereka juga harus melewati tes kemampuan bahasa Perancis. Minimal harus sampai level B2 atau kemahiran bisa dalam berdebat dan beropini," kata Adi.

Para penerima beasiswa ber-IPK minimal 3,50 dan ngewes bahasa Perancis ini akan berangkat pada 16 September besok. Seluruh biaya kuliah dan biaya hidup ditanggung Dikti. Tugas mereka hanya studi di Eropa dan pulang menjadi lebih jenius. Gelar mereka pun dobel. Gelar magister dan DEA (gelar internasional).

Mereka juga dipastikan akan menjadi doktor muda. Sebab, fast track di ITS ini mulai membidik mahasiswa pintar sejak semester 7. Kalau sekolah masuk jalur kelas akselerasi.

"Kalau ilmu atau akademik, saya siap. Tapi kami memang perlu mengenali kebiasaan dan budaya Perancis,"kata Rifdatun Ni'mah, salah satu mahasiswa S2 Statistik.

Penulis: Yoni Iskandar
Sumber: Surya
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
927241 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas