• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 24 Oktober 2014
Tribunnews.com

SPG-SPG Cantik Siap Tawarkan Sapi Limousine

Rabu, 10 Oktober 2012 07:51 WIB
SPG-SPG Cantik Siap Tawarkan Sapi Limousine
ciricara.com
SPG penjualan sapi

Laporan Wartawan Tribun Jabar,  Siti Fatimah

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG -- Sales Promotion Gril (SPG) biasanya ditemui sebagai penjaga produk di pusat perbelanjaan atau saat ada pameran di suatu event. Jasa mereka dianggap mampu meningkatkan penjualan suatu produk.

Karena alasan inilah, seorang pengusaha hewan ternak asal Solo, Jawa Tengah, memanfaatkan jasa SPG untuk menjaga sekaligus menawarkan hewan kurban miliknya. Bukan sekadar menawarkan hewan, para SPG ini sudah dibekali pemahaman tentang sapi. Bahkan mereka juga menggunakan seragam yang sama saat menjaga lapak hewan kurban tersebut.

Pemandangan itulah yang terlihat di Jalan Arcamanik, tepatnya sekitar 100 meter dari Terminal Antapani. Ada sebuah lapak hewan kurban yang penjaganya terdiri dari SPG cantik. Mereka tidak hanya melayani calon pembeli, namun mereka dituntut mampu menerangkan setiap pertanyaan yang diajukan calon pembeli seputar sapi. Terlebih sapi yang mereka tawarkan adalah sapi limousine yang ukurannya sangat besar dan dijual dengan harga yang bisa mencapai Rp 50 jutaan.

Menurut pengelola lapak, Wida Putri, pihaknya memanfaatkan jasa SPG memang untuk menarik minat pembeli agar sapi-sapi bisa terjual sesuai target. Meski begitu, ia lantas tidak sekadar mempekerjakan SPG untuk mendongkrak penjualan dengan keberadaan mereka. Namun pihaknya membekali pemahaman seputar sapi agar calon pembeli juga mengerti dan nyaman dengan pelayanan yang diberikan.

"Teman-teman ini kami beri pemahaman seputar sapi, khususnya sapi limousine ini. Mereka harus bisa menerangkan kepada calon pembeli, seperti tahu jenis sapi dan ciri-ciri sapi yang sehat. Ini perlu agar calon pembeli juga puas saat akan membeli, pengetahun ini perlu," katanya ditemui di lapak hewan kurban sapi limousine, Senin (8/10/2012) sore.

Diakuinya, dengan adanya SPG yang membantu menjaga lapak milik Bambang, pengusaha asal Solo ini, penjualan sapi bisa mencapai target. Selain memang, sapi-sapi yang dijualnya juga sudah memenuhi syarat hewan kurban yang baik.

"Alhamdulillah, penjualan bagus. Selain bantuan teman-teman ini, sapi yang kami jual memang sapi sehat dan siap untuk menjadi hewan kurban," katanya.

Menjadi SPG hewan kurban bagi Sustina, merupakan tantangan sendiri. Ia pernah menjadi SPG beberapa produk rokok dan minuman, namun rasanya berbeda saat ia menjadi SPG hewan kurban. Selain harus berani dekat dengan sapi berukuran besar, ia juga harus bisa menahan bau kotoran sapi yang bercecer di kandang.

"Tantangannya beda. Kita harus kuat menahan bau, dan pastinya jangan terlihat takut dan jijik dengan hewannya. Kita justru harus tunjukkan kalau sapi-sapi ini sehat dan bagus. Pokoknya beda deh, seneng aja. Apalagi kalau sapi yang kita tawarkan laku, tambah seneng," kata perempuan berambut lurus sebahu ini.

Pengalaman lainnya, ujarnya, ia jadi tahu banyak seputar sapi. Karena sebelum menjadi SPG di lapak tersebut, ia dibekali dulu pemahaman tentang sapi. Untuk pekerjaannya tersebut, ia mengaku mendapat bayaran cukup lumayan. "Lumayanlah, yang jelas seneng aja, kan sekarang juga lagi musim hewan kurban," ujarnya.

Hal serupa juga diungkapkan, Wiwin, SPG hewan kurban lainnya. Menurutnya, menjadi SPG hewan kurban jauh berbeda dengan menjadi SPG suatu produk. Terlebih sapi yang harus ditawarkannya tersebut termasuk jenis sapi limousine yang harganya selangit, sehingga ia merasa menjual barang yang mahal.

"Ini sapi-sapi bagus kualitasnya. Saya merasa tertantang menjual sesuatu yang harganya wah. Tantangan lainnya, yah harus berani sama sapi dan tahan sama bau kotorannya," kata perempuan yang mengaku mendapat bayaran Rp 250 ribu sehari ini.

Di lapak hewan kurban ini terdapat enam SPG yang mulai kerja sejak pagi hingga petang. Bahkan ada shift juga bagi mereka karena biasanya ada calon pembeli yang melihat-lihat hewan kurban pada malam hari. Mereka juga mengenakan seragam yang sama. Meski menjaga lapak sapi, namun ada juga SPG yang menggunakan sepatu high hells atau hak tinggi. Penampilan mereka memang tidak kalah dengan SPG yang menawarkan produk di pusat perbelanjaan.

"Kami harus profesional juga. Tapi untuk menjadi SPG hewan qurban kita juga harus menjaga penampilan yang sopan," kata Wiwin.

Ditemui di lokasi, Iqwan (32), salah seorang calon pembeli, mengaku awalnya tidak percaya saat mampir ke lapak tersebut yang menemuinya justru seorang perempuan. Biasanya selalu seorang lelaki dengan penampilan yang juga biasa-biasa saja.

"Saya pikir awalnya selain jual hewan ternak, ada penjualan produk lain. Ternyata mereka yang menjaga sapi ini. Tidak biasa, tapi idenya menarik juga," kata lelaki warga Antapani yang mengaku baru menawar harga dulu dan belum berniat membeli. (*)

Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Tribun Jabar
0 KOMENTAR
1016771 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas