• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Selasa, 2 September 2014
Tribunnews.com

MTS Manipulasi Gaji Guru Hadi Susanto Selama 11 Tahun

Rabu, 17 Oktober 2012 17:54 WIB
MTS Manipulasi Gaji Guru Hadi Susanto Selama 11 Tahun
net
ilustrasi

TRIBUNNEWS.COM, ENDE -- Oknum bendahara gaji di SMK Negeri 1 Ende bernama MTS,  diduga memanipulasi gaji guru bernama Hadi Susanto. Padahal Hadi sudah pindah ke Pulau Jawa. Manipulasi gaji Hadi Susanto itu dilakukan MTS sejak tahun 2001 dan baru terungkap pada September 2012.  Akibatnya, negara rugi Rp 250 juta.

Bupati Ende, Drs Don Bosco Wangge mengatakan hal itu kepada wartawan di gedung DPRD Kabupaten Ende, Senin (15/10/2012).

Don Wangge menjelaskan, modus yang dilakukan oleh oknum MTS, dia mengajukan permintaan pembayaran gaji secara kolektif kepada Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO)  Kabupaten Ende dan Kantor Dinas Pendapatan Keuangan dan Aset Daerah (PPKAD) Kabupaten Ende.

Dalam pengajuan itu, oknum bendahara tersebut tetap memasukan nama salah seorang guru bernama Hadi Susanto yang sudah pindah ke Pulau Jawa sejak tahun 2005. "Misalnya, jumlah guru yang seharusnya dibayarkan gajinya oleh Dinas PPO Kabupaten Ende 10 orang,  namun oleh oknum bendahara menambah satu lagi menjadi 11 orang. Padahal, guru yang bersangkutan sudah pindah atau tidak  mengajar pada sekolah di Ende,"kata Don Wangge.

Don Wangge menjelaskan, bukan hanya gaji,   oknum bendahara tersebut juga memanipulasi pembayaran tunjangan atas nama guru yang sudah pindah. Akibatnya, lanjut Don Wangge, negara mengalami kerugian hingga Rp 250 juta.

"Baru minggu lalu saya mendapat laporan. Saya sudah minta Inspektorat Kabupaten Ende  menelusuri dugaan manipulasi gaji itu. Apabila terbukti,  oknum bendahara (MTS) itu segera mengembalikan uang sebelum dilanjutkan ke proses hukum,"  tegas Don Wangge.

Menjawab pertanyaan bahwa Dinas PPO Kabupaten Ende dan Dinas PPKAD Kabupaten Ende kecolongan sehingga tetap membayar gaji dan tunjangan kepada oknum guru, padahal yang bersangkutan sudah lama pindah, Don Wangge menepis hal itu karena menurutnya Dinas PPO dan Dinas PPKAD Kabupaten Ende dalam membayar gaji di semua instansi pemerintah dilakukan kolektif bukan orang perorangan.

"Ketika ada instansi pemerintah mengajukan permintaan pembayaran kepada Dinas PPO dan PPKAD disertai administrasi lengkap sehingga   Dinas PPO maupun PPKAD akan membayar sesuai jumlah yang diajukan. Namun demikian, diharapkan agar dinas lebih selektif lagi sehingga tidak  kecolongan," tandas Don Wangge.

Kepala SMK Negeri 1 Ende, Aloysius Satu mengatakan, oknum bendahara berinisial MTS sudah diberhentikan.  

Aloysius menyatakan, sebagai atasan langsung dari oknum bendahara itu, ia memerintahkan MTS tidak lagi menjabat sebagai bendahara.

Aloysius  menjelaskan, kasus itu terungkap  tanggal 28 September 2012 ketika ada pemeriksaan dari pengawas SMKN Dinas PPO Kabupaten Ende. Hasil pemeriksaan terungkap bahwa bendahara telah menanipulasi jumlah guru dan pegawai pada SMKN yang sebenarnya 54 orang menjadi 55 orang.

Berdasarkan jumlah  55 orang sesuai daftar gaji yang diajukan bendahara, demikian Aloysius, maka Dinas PPO menyetujui gaji sebanyak jumlah guru,  padahal kenyataannya hanya 54 orang.

Aloysius menyatakan, pihaknya tidak pernah berurusan dengan uang sehingga dia tidak pernah tahu ada manipulasi jumlah daftar penerima gaji di sekolah tersebut.  "Yang berurusan dengan uang adalah bendahara. Itu menjadi tanggung jawab yang bersangkutan," kata Aloysius.

Ia mengatakan, kasus tersebut telah dilaporkan kepada Dinas PPO Kabupaten Ende. Menyikapi laporan itu, lanjutnya, Dinas PPO Kabupaten Ende meminta oknum bendara berinisial MTS harus mengembalikan uang yang sudah diambilnya. "Sudah  ada perjanjian tertulis bahwa yang bersangkutan siap  mengembalikan uang itu," kata Aloysius.

Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Pos Kupang
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
1042721 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas