Banyak Pelanggaran Pelabuhan Bolok Kupang

Pelaksana Tugas Kepala Ombudsman NTT, Darius Beda Daton, SH kepada Pos Kupang

Banyak Pelanggaran Pelabuhan Bolok Kupang
endipiran.tobipuken.com
Suasama di dalam sebuah kapal feri ruas Pelabuhan Bolok Kupang

POS KUPANG.COM, KUPANG --  Pelaksana Tugas Kepala Ombudsman NTT, Darius Beda Daton, SH kepada Pos Kupang, Senin (29/10/2012) menjelaskan tentang hasil supervisi timnya ke Pelabuhan Bolok Kupang yang digelar pekan lalu.

Dari pengamatan timnya, kata Darius, Tim Ombudsman NTT menemukan sejumlah dugaan penyimpangan mulai dari pintu masuk pelabuhan hingga sejumlah calo yang menawarkan jasanya membeli tiket bagi para penumpang yang hendak membeli tiket. Anehnya para calo itu menawarkan jasanya dihadapan para petugas perhubungan yang sedang menjual tiket di loket.

Tak hanya itu, demikian Darius, pada pas atau karcis masuk pelabuhan tertulis Pelabuhan Penyeberangan Pantai Baru dengan kendaraan mini bus sebesar Rp 5.000 dan sepeda motor sebesar Rp 2.000. Padahal sejumlah sepeda motor yang masuk membayar Rp 4.000.  

"Sejumlah calon penumpang yang ditemui juga mengeluh ada kelebihan uang yang tidak dikembalikan petugas penjual tiket. Beberapa para calon penumpang Kupang-Larantuka mengatakan  harga tiket kelas ekonomi yang tertera dalam tiket adalah sebesar Rp 65.300. Kemudian bila ditambah tiket makan sebesar Rp 8.000 maka jumlahnya menjadi Rp 73.600. Tetapi dibulatkan  menjadi Rp 80.000," ujar Darius.

Bagi yang menggunakan sepeda motor, lanjut Darius, harus membayar sebesar Rp 175.000 padahal di tiket tertera harga sebesar Rp 172.400. Dengan demikian masih ada kelebihan uang tiket yang mesti dikembalikan mesti nilainya kecil.

Ia menambahkan sejumlah pengirim barang juga mengeluhkan sistem pembayaran bagasi yang diterapkan pada kapal feri. Dalam tiket resmi bagasi biasanya telah tertulis biaya bagasi.

Akan tetapi setelah turun kapal, barang-barang yang telah dibayar tiket bagasinya dimintai lagi uang sebesar Rp 50.000 oleh ABK. Dengan demikian biaya bagasinya melebihi angka yang tertera dalam tiket bagasi.

Terhadap fakta itu, demikian Darius,  hasil supervisi tersebut selanjutnya akan disampaikan kepada Kepala ASDP Bolok dan pengelolah pelabuhan. Harapannya terjadi perbaikan pelayanan pelabuhan ke depan agar tidak ada lagi temuan semacam itu.

"Angka-angka kelebihan uang tiket yang tidak dikembalikan petugas memang kecil yaitu berkisar Rp 1.000-Rp 2.000/penumpang. Akan tetapi jika dikalikan ratusan penumpang maka jumlahnya tidak lagi kecil. Mungkin saja petugas penjual karcis tidak punya uang recehan untuk mengembalikan. Namun mestinya sebagai petugas loket harus selalu menyiapkan uang recehan agar tidak merugikan penumpang," ujarnya.

Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help