• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 31 Oktober 2014
Tribunnews.com

4 Kecamatan di Klaten Diduga Keluarkan KTP Aspal Jemaah Haji

Kamis, 1 November 2012 23:53 WIB
4 Kecamatan di Klaten Diduga Keluarkan KTP Aspal Jemaah Haji
surya/wiwit purwanto
Pesawat haji milik penerbangan Saudi Arabian Airlines yang mengangkut jemaah haji kloter I tiba di Bandara Juanda, Surabaya, Kamis (1/11/2012).

TRIBUNNEWS.COM, KLATEN – Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Klaten, Joko Wiyono mengaku akan segera terjun langsung bersama timnya untuk menyelidiki dugaan KTP asli tapi palsu (aspal).

“Saya akan terjun langsung dan mengecek proses pembuatannya bagaimana,” ucapnya, di Klaten, Kamis (1/11/2012).

Empat kecamatan diduga menerbitkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) aspal. KTP yang disinyalir aspal itu dipergunakan sebagai syarat bagi 52 jamaah haji 2012 yang berangkat melalui kloter 11 Kabupaten Klaten. Jumlah itu terbagi di Kecamatan Tulung, yakni ada 19 jamaah haji. Disusul Kecamatan Karanganom dengan 15 jamaah, serta Kecamatan Pedan dan Trucuk yang masing-masing sembilan jamaah.

“Penerbitan KTP selain bisa dilakukan Kantor Disdukcapil, juga Kantor Kecamatan. Yang membedakan adalah kode-nya di mana KTP itu dibuat, dari kode itu bisa dibedakan dari pihak mana pembuatnya. Selain pemerintah kecamatan, pemerintah desa juga perlu diajak koordinasi karena awal surat pengantar dari desa,” jelas Joko, saat ditemui, di kantornya.

Dirinya juga tidak memungkiri jika kemungkinan kantornya juga ikut terlibat dalam pembuatan KTP Aspal itu. Namun, hal itu perlu ditelusuri dari persyaratan awal untuk pembuatan KTP didapatkan, yaitu surat pengantar dari desa, termasuk RT/RW.
“Mungkin kekurang-jelian dalam mengolah data untuk permohonan KTP,” ucapnya.

Syarat untuk membuat KTP juga dibutuhkan Kartu Keluarga. Namun, jika merupakan warga baru maka dibutuhkan Surat Kepindahan untuk membuat KTP.

“Karena itu kita butuh mengecek dari alur awal pembuatan KTP itu,” imbuhnya.

Sementara itu, anggota Komisi II DPRD Klaten, Sunarto, menduga para jamaah haji yang menggunakan KTP aspal itu berasal dari luar Klaten yang sengaja mencari KTP di Klaten tanpa adanya surat pindah penduduk.

“Dari laporan yang kami terima, masing-masing IPHI kecamatan tidak mengenal daftar nama sejumlah jamaah haji. Kemungkinan mereka dari luar Klaten,” tuturnya.

Menurut Sunarto, jika ada calon jamaah haji menggunakan KTP aspal untuk mendaftarkan diri dan akhirnya lolos, maka akan menimbulkan kecemburuan masyarakat Klaten.

“Selain itu kepada pihak pemerintah desa untuk lebih berhati-hati jangan sampai menerbitkan surat permohonan KTP terhadap orang yang tidak dikenal,” tambahnya.

Sebelumnya, Ketua II IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) Kecamatan Karanganom, Kusdiyono mengatakan, dari empat kloter dengan jumlah 1.140 calon jemaah haji, yakni Kloter 10, 11, 12, dan 13, hanya Kloter 11 yang bermasalah. Dari empat kecamatan di wilayah timur ada jamaah haji yang diduga menggunakan KTP aspal.

“Temuan itu diketahui saat manasik terakhir atau sebelum berangkat ke Tanah Suci. Mereka (jamaah haji bodong) tidak pernah hadir ke manasik meski sudah dikasih undangan. Sedangkan saat berangkat, mereka tidak dikenal. Kami memang sudah menemukan sejak awal, namun takut jika akan menghalang-halangi orang naik haji,” jelas Kusdiyono.

Berdasarkan UU No 23 tahun 2006 tentang pemalsuan identitas, jika terbukti terjadi pemalsuan KTP maka pelaku dapat terancam hukuman pidana 6 tahun atau denda sebesar Rp 50 juta.

Editor: Willy Widianto
Sumber: Tribun Jogja
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas