• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 19 September 2014
Tribunnews.com

Hati-hati Jawa Barat Rawan Bencana

Minggu, 18 November 2012 00:16 WIB
Hati-hati Jawa Barat Rawan Bencana
Tribun Jabar
Ilustrasi sebuah mobil nekat menerjang banjir yang menggenangi Jalan Anggadirja. Jalan ini merupakan jalur utama yang menghubungkan Dayeuhkolot dengan Baleendah, Kamis (8/3/2012).

TRIBUNNEWS.COM,BANDUNG - Memasuki musim hujan kali ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap bencana alam. Termasuk, di daerah yang belum pernah mengalami kejadian bencana. Pasalnya, Jawa Barat termasuk provinsi yang rawan terjadinya bencana.

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat, Udjwalaprana Sigit mengingatkan, bencana alam, seperti gempa bumi, banjir, longsor, bahkan tsunami, pernah terjadi di Jawa Barat.

Bahkan lima daerah di Jawa Barat masuk peringkat sepuluh besar daerah rawan bencana nasional, yaitu Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bogor.

Dengan jumlah penduduk hampir 44 juta jiwa dengan kepadatan kurang lebih 1.700 orang per km2, Jabar juga tergolong provinsi rawan karena penduduknya juga padat. Karena itulah, kata Udjwalaprana, kewaspadaan perlu ditanamkan kepada masyarakat sebagai antisipasi serta pengurangan risiko bencana.

"Di Jawa Barat itu ada daerah rawan banjir, rawan longsor seperti di Kabupaten Bekasi, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Garut, dan Cirebon. Tapi kini muncul daerah baru seperti Depok dan Cimahi yang terkena banjir bandang," katanya pada acara Workshop dan Pelatihan Jurnalis Siaga Bencana yang digelar Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pengda Jawa Barat di The Cipaku Garden Hotel Jalan Cipaku Indah, Sabtu (17/11).

"Dulu dua daerah ini tidak pernah mengalami, bahkan di Kota Bogor juga sudah ditemukan adanya kasus longsor," ungkapnya.

Menurut dia, selain pemetaan daerah rawan, masyarakat yang tinggal di daerah rawan ini juga sudah mengantisipasi. Bahkan di beberapa tempat, karena sudah terbiasa menghadapi situasi bencana, telah dipasang informasi yang memberitahukan bahwa daerah mereka tidak membutuhkan relawan dari luar.

"Ini karena kewaspadaan mereka sudah dilakukan. Mereka sudah tinggal di sana secara turun- temurun. Mereka justru khawatir bila ada relawan lain justru merepotkan mereka. Mereka sudah siaga sendiri, sudah tahu kapan harus pindah untuk menghindari bencana," katanya.

Udjwalaprana juga mengatakan, antisipasi bencana longsor dan banjir ini sudah dilakukan sejak Februari lalu. Siaga darurat yang disiapkan termasuk mempersiapkan logistik, sarana dan prasarana. Tentang petugas, kata dia, tidak ada satu pun petugas yang tidak siap.

Menurut Udjwalaprana, kesiapan BPBD tidak hanya untuk musim hujan, tapi juga musim kemarau, misalnya mempersiapkan sumur artesis dan pompa air. Untuk kesiapan siaga bencana banjir kali ini, BPBD menyiapkan 36 perahu karet. Bahkan pihaknya sudah menyiapkan perahu karet di setiap kabupaten/kota sehingga bila sewaktu-waktu diperlukan sudah siap.

"Perahu karet tetap disiapkan dan akan siap digunakan bila permintaan penggunaan alat ini meningkat," katanya.

Dikatakan Udjwalaprana, BPBD juga sudah memberikan pelatihan kepada sepuluh ribu relawan yang akan membantu dalam rangka penanggulangan bencana. Perencanaan kesiagaan bencana di masyarakat, ujarnya, diperlukan karena kemampuan setiap daerah dalam penanganan bencana berbeda-beda.

Ada daerah yang mengalokasikan anggaran cukup besar untuk penanganan bencana, tapi ada juga yang anggarannya kecil, bahkan asal-asalan. Karena itulah, perlu peran serta banyak pihak untuk ikut dalam perencanaan penanganan bencana, termasuk pengurangan risiko bencana.

Menyikapi hal tersebut, pihaknya juga mengimbau kepada warga serta aparat setempat agara mengefektifkan komunikasi dengan ketua RT, ketua RW, dan kepala desa serta teman relawan. Sebab, dengan komunikasi yang efektif kewaspadaan bisa ditingkatkan untuk mencegah terjadinya bencana.

Curah hujan yang tinggi dalam beberapa bulan ke depan, kata dia, sudah diprakirakan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). BMKG memprakirakan puncak musim hujan terjadi pada Januari 2013.

Menurut peneliti BMKG Muhammad Iit, hujan lebat yang turun secara mendadak berpotensi terjadi di semua wilayah Jabar. Pada kondisi ini, ujarnya, yang perlu diwaspadai adalah daerah yang rawan banjir dan terjadi pergerakan tanah atau longsor. Kondisi hujan dengan intensitas sering akan terjadi hingga puncak musim hujan, yakni Januari 2013. (tif)

Editor: Rachmat Hidayat
Sumber: Tribun Jabar
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
1139911 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas