• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Senin, 1 September 2014
Tribunnews.com

Tgk Aiyub dan Seorang Pengikutnya Dibakar Hidup-hidup.

Minggu, 18 November 2012 11:41 WIB
Tgk Aiyub dan  Seorang Pengikutnya Dibakar Hidup-hidup.
Serambi Indonesia / Yusmadin Idris
Dua kerangka sepeda motor yang hangus dalam insiden berdarah di depan rumah Tgk Aiyub.

TRIBUNNEWS.COM   BIREUEN – Kompleks rumah dan balai pengajian Tgk Aiyub Syahkubat (50) di Desa Jambo Dalam, Kecamatan Peulimbang, Kabupaten Bireuen sejak menjelang tengah malam, Jumat (16/11/2012) hingga menjelang subuh, Sabtu (17/11/2012) berubah layaknya zona perang. Tiga orang tewas, termasuk Tgk Aiyub dan seorang pengikutnya yang dibakar hidup-hidup.

Menurut informasi yang dihimpun Serambi dari berbagai sumber, sekitar pukul 22.00 WIB, Jumat (16/11/2012) massa dari berbagai penjuru bergerak ke rumah Tgk Aiyub Syahkubat berjarak sekitar tiga kilometer arah selatan jalan Banda Aceh-Medan. Massa tanpa senjata itu menggunakan kendaraan roda dua yang mereka parkir agak jauh dari rumah Tgk Aiyub. Menjelang pukul 23.00 WIB, massa merapat ke sasaran.

Kabar yang berkembang, malam itu massa bermaksud menjemput Tgk Aiyub dan pengikutnya untuk dimintai keterangan karena yang bersangkutan dinilai telah melanggar kesepakatan yaitu masih tetap melaksanakan pengajian tertutup dan tidak ada interaksi sosial dengan masyarakat sekitarnya.

Saat massa tiba di kompleks rumah Tgk Aiyub Syahkubat, tiba-tiba listrik yang sebelumnya terang benderang mendadak mati. Dalam keadaan gelap gulita, terjadilah penyerangan ke arah massa yang saat itu sudah berada dalam lingkungan pagar rumah.

Wartawan Serambi yang waktu itu sudah mendekati lokasi terpaksa putar haluan dan selanjutnya berlarian tak tentu arah bersama massa yang panik. Apalagi di antara massa mulai ada yang roboh terkena sabetan pedang dan parang.

Dalam suasana gelap gulita, korban luka-luka segera dievakuasi dengan sepeda motor ke Puskesmas Peulimbang dan Jeunieb.

Saat penyerangan terjadi, massa langsung mengetahui sejumlah orang menjadi korban bacok. Pada tahap-tahap awal, empat orang dilarikan ke Puskesmas Peulimbang, enam orang ke Puskesmas Jeunieb. Terakhir diketahui, di Puskesmas Jeunieb, satu orang tewas atas nama Mansur (35) sedangkan lima lainnya kritis.

Ketika mengetahui ada penyerangan di lokasi rumah Tgk Aiyub, massa lainnya dengan menggunakan sepeda motor bergerak ke Puskesmas Peulimbang dan Jeunieb untuk memastikan kondisi korban. Saat mengetahui banyak jatuh korban, termasuk korban tewas, massa yang terlihat tak mampu membendung emosi bergerak ke lokasi.

Pasukan polisi yang menggunakan truk dari Polres Bireuen yang masuk ke lokasi tak mampu berbuat banyak untuk mengendalikan keadaan karena jumlah massa diperkirakan sudah mencapai 1.500 orang.

Sekitar pukul 02.00 WIB dini hari, lokasi rumah dan balai pengajian Tgk Aiyub benar-benar membara. Tgk ATgk Aiyub bersama beberapa orang dekatnya terjebak di dalam rumah yang dikepung massa. Massa juga membakar balai pengajian di depan rumah, merusak MCK, menghancurkan dapur, membakar sepeda motor dan sepeda.

Dalam keadaan yang sangat tak terkendali itu, massa berhasil masuk dan mengeluarkan secara paksa Tgk Aiyub dan beberapa pengikutnya. Polisi bergerak cepat untuk mengamankan Tgk Aiyub namun tak berhasil. Sebuah mobil polisi yang hendak menaikkan Tgk Aiyub juga gagal melakukan evakuasi karena massa memindahkan jembatan kecil di depan rumah.

Dalam keadaan emosi, massa membakar hidup-hidup Tgk Aiyub dan seorang rekannya bernama Muntasir. Sedangkan seorang lainnya bernama Bahany dalam keadaan sekarat berhasil diselamatkan polisi dan TNI.

Sekitar pukul 04.00 WIB, jasad Tgk Aiyub dan Muntasir yang sudah gosong   dievakuasi ke UGD RSUD Bireuen. Hampir bersamaan dengan itu, massa juga memindahkan satu unit mobil Kijang Innova dari halaman rumah yang bersebelahan dengan rumah Tgk Aiyub dan kemudian membakarnya. Massa baru berhasil dikendalikan dan bergerak meninggalkan lokasi itu menjelang subuh, sekitar pukul 04.30 WIB, Sabtu (17/11).(yus)

Rekam Jejak Tgk Aiyub sebelum Ajal Merenggut
PADA 21 Maret 2010 dini hari, kompleks rumah dan balai pengajian Tgk Aiyub Syahkubat di Desa Jambo Dalam, Kecamatan Peulimbang, Kabupaten Bireuen juga diamuk massa. Pemiliknya dituduh mengajarkan aliran sesat.  Dalam insiden waktu itu, tiga sepeda motor, satu mobil, dua balai pengajian hangus.

Tgk Aiyub dan delapan pengikutnya berhasil diselamatkan oleh polisi dan diamankan ke Mapolres Bireuen. Seminggu kemudian, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), Dinas Syariat Islam, Pemkab dan Polres Bireuen bersidang di musalla Mapolres Bireuen.

Waktu itu MPU belum bisa memastikan ajaran atau kegiatan yang dilakukan Tgk Aiyub serta pengikutnya sesat atau tidak. Sedangkan Tgk Aiyub dan pengikutnya secara tegas menganggap tuduhan yang dialamatkan kepada mereka adalah fitnah.

Dalam perjalanan selanjutnya, masyarakat Jambo Dalam tetap menolak kembalinya Tgk Aiyub meski telah menandatangani pernyataan dan ikrar bahwa mereka telah melakukan kesalahan.

Pada akhir Maret 2010, Tgk Aiyub dan belasan pengikutnya berharap pihak MPU dan Pemkab Bireuen segera mengambil sikap dan menyelesaikan persoalan yang membuat mereka harus berada di tempat penampungan, Kompleks Masjid Agung Bireuen.

“Kami ini korban fitnah, MPU dan Pemda hendaknya segera mengambil sikap, memanggil saksi kedua belah pihak sehingga dugaan keliru yang dialamatkan kepada kami dapat terjawab,” kata Tgk Aiyub dan sejumlah pengikutnya di tempat penampungan Masjid Agung Bireuen, Minggu 27 Maret 2010.

Tgk Aiyub yang diduga menjalankan ibadah melanggar akidah dan syariat Islam, saat disidang oleh MPU Bireuen di kantor MPU setempat di Kompleks Masjid Agung Bireuen, Rabu 6 April 2010 sempat membuka baju di hadapan hakim. Menurutnya, ia melakukan hal itu karena sakit ketika majelis hakim melontarkan sejumlah pertanyaan kepada dirinya.

Aksi buka baju itu dilakukan Tgk Aiyub ketika ditanya majelis hakim yang diiringi keterangan saksi. “Saya kalau banyak ditanya bertambah sakit. Kalau tak percaya saya sakit, boleh ditanya ke dokter,” katanya sembari membuka baju untuk memperlihatkan penyakitnya.

Setelah sempat diam selama 2011--bahkan Tgk Aiyub sudah kembali ke rumahnya karena sudah ada surat kesepakatan tidak mengulang kesalahan--akhirnya pada Oktober 2012, sejumlah warga Kecamatan Peulimbang melaporkan lagi aktivitas di balai pengajian Tgk Aiyub.

Dinas Syariat Islam Bireuen merespon laporan itu dengan mendatangi rumah Tgk Aiyub menanyakan berbagai informasi yang disampaikan warga. “Kami menanyakan beberapa hal yang berkembang di tengah-tengah masyarakat dan meminta penjelasan. Kami menanggapi serius laporan itu karena Tgk Aiyub pernah bermasalah beberapa waktu lalu dan kompleks tersebut sempat dibakar massa,” kata Kasi Penyidik dan Pencegahan Dinas Syariat Islam Bireuen, Tgk Daud kepada Serambi, akhir Oktober lalu.

Tgk Daud mengatakan, Tgk Aiyub mengaku tidak ada kegiatan pengajian di rumahnya. Pengajian yang dilakukan selama ini hanyalah mengajar mengaji Quran 30 juz dan juz amma untuk anaknya.

Menyangkut sering ramainya orang di rumahnya, Tgk Aiyub mengatakan hanya bentuk kepedulian tetangga menjenguk dirinya yang sakit-sakitan. “Bukan keramaian kegiatan pengajian yang diisukan oleh masyarakat,” begitu pengakuan Tgk Aiyub sebagaimana dikutip Tgk Daud.

Pasca-insiden di rumah Tgk Aiyub pada Jumat malam hingga Sabtu subuh (16-17 November 2012), sejumlah warga yang ditemui Serambi kemarin di Desa Jambo Dalam mengatakan, aktivitas Tgk Aiyub dan pengikutnya sangat tertutup. Istrinya juga jarang ke luar rumah.

Tgk Aiyub memiliki empat anak--dua laki-laki dan dua perempuan--namun warga tak ada yang tahu nama istri maupun anak-anak Tgk Aiyub. Sejak kejadian itu, istri Tgk Aiyub dan keempat anaknya tidak diketahui kemana.(yus)

Dari Suara Tembakan sampai Potongan Kuping
INSIDEN di Jambo Dalam, Kecamatan Peulimbang, Kabupaten Bireuen mulai Jumat (16/11/2012) malam hingga menjelang subuh, Sabtu (17/11/2012) benar-benar tak terkendali dan kacau balau. Suasana semakin tak karu-karuan ketika terjadi penyerangan dengan senjata parang dan pedang terhadap sekelompok massa yang datang ke rumah Tgk Aiyub Syahkubat sekitar pukul 23.00 WIB.

Penyerangan secara sporadis--setelah terlebih dahulu mati lampu di kompleks rumah dan balai pengajian Tgk Aiyub--telah menjatuhkan korban luka-luka sekitar 10 orang. Kabar ini langsung saja memicu emosi warga lainnya sehingga terjadi serangan balasan sejak Sabtu dini hari hingga menjelang subuh.

Dalam serangan susulan yang melibatkan massa sekitar 1.500 orang itu, aparat kepolisian dan TNI terpantau bekerja keras untuk mengendalikan keadaan, namun tak berhasil. Sempat terdengar beberapa kali suara tembakan, termasuk ketika massa mengepung dan merangsek masuk ke rumah Tgk Aiyub dan selanjutnya mengeluarkan secara paksa Tgk Aiyub dari dalam rumah.

Menurut informasi, dalam keadaan emosi, massa membakar hidup-hidup Tgk Aiyub dan seorang rekannya bernama Muntasir. Sedangkan seorang lainnya bernama Bahany dalam keadaan sekarat berhasil diselamatkan oleh aparat keamanan.

Pengamatan Serambi sekitar pukul 09.00 WIB, Sabtu (17/11), sisa-sisa insiden tampak kentara sekali di kompleks rumah dan balai pengajian Tgk Aiyub. Sebuah mobil Kijang Innova terlihat hangus dan tinggal kerangka teronggok di depan rumah. Rumah permanen yang selama ini dihuni Tgk Aiyub dan keluarganya mengalami kerusakan berat. Begitu juga balai pengajian di depan rumah, rata dengan tanah. Juga terlihat tiga unit sepeda motor tinggal kerangka akibat aksi pembakaran.

Ratusan santri sempat singgah ke rumah Tgk Aiyub. Di antara berbagai kegalauan suasana, warga juga sempat mengamati daun telinga yang disebut-sebut milik Tgk Aiyub dalam sebuah wadah berupa belanga alumunium yang ditempatkan di depan rumah korban. Namun tak ada konfirmasi mengenai kebenaran benda itu apakah benar daun telinga atau bukan karena beragam isu berseliweran hampir sepanjang hari kemarin.(yus)

Sulit Dikendalikan
Saya   bersama anggota sudah berada di lokasi sejak pukul 23.00 WIB untuk mengendalikan situasi namun tidak bisa berbuat banyak karena massa terlihat sangat emosi, terlebih lagi setelah mengetahui ada serangan terhadap massa yang datang pada gelombang pertama, dibacok dan dan ada yang tewas.

Sekitar pukul 02.30 WIB dini hari, puluhan personel Polres Bireuen dan aparat Kodim 0111/Bireuen dikerahkan lagi ke lokasi, namun usaha untuk meredam emosi sulit sekali karena jumlah massa terus bertambah bahkan diperkirakan mencapai 1.500 orang.

Untuk menangani kerusuhan tersebut, Pemkab Bireuen juga mengerahkan empat unit armada pemadam untuk memadamkan api di rumah Tgk Aiyub. Tetapi armada pemadam sulit tembus ke sana karena banyaknya warga selain jalan sempit.

Munculnya aksi massa diduga karena Tgk Aiyub Syahkubat melanggar kesepakatan dengan warga, di antaranya tidak boleh mengadakan pengajian tertutup. Meski demikian polisi terus mengumpulkan berbagai informasi dan melakukan koordinasi dengan dinas terkait dan Pemkab Bireuen. Polisi juga sudah mengumpulkan sejumlah barang bukti antara lain sebilah parang panjang dan sebilah pedang panjang.

Baca  Juga :

Editor: Budi Prasetyo
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
1140652 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas