Selasa, 26 Mei 2015
Tribunnews.com

Pertamina Hentikan Kebijakan Pengendalian Pasokan BBM

Senin, 26 November 2012 00:14 WIB

Pertamina Hentikan Kebijakan Pengendalian Pasokan BBM
BANGKA POS/ABRIANSYAH LIBERTO
Seorang pegawai Pertamina mengukur Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam mobil tangki usai mengisi di Depo Pertamina, Pangkalbalam, Pangkalpinang, Senin (29/10/2012). Setelah diukur, kendaraan tersebut akan disegel untuk menghindari penyelewengan oknum sopir yang tidak bertanggung jawab. BANGKA POS/ABRIANSYAH LIBERTO

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Krisis BBM yang menyulut kerusuhan di Barong Tongkok, Kutai Barat, Kalimantan Timur mengakibatkan amarah massa, sekitar 400 kios pasar, rumah warga serta mess karyarwan SPBU dibakar massa, Minggu (25/11/2012) dinihari.

Pertamina pun langsung menghentikan kebijakan pengendalian pasokan BBM bersubsidi yang memantik krisis BBM di daerah-daerah.

Kerawanan sosial yang mengganggu kepentingan nasional menjadi alasan Pertamina menghentikan pengendalian pasokan BBM bersubsidi. Kebijakan pemerintah ini ditujukan mencegah jebolnya kuota BBM hingga akhir tahun, sebagaimana disepakati pemerintah dan DPR dalam APBN-P 2012.

"Memperhatikan perkembangan situasi sosial di daerah-daerah pascakebijakan tersebut, dan mempertimbangkan kepentingan nasional lebih besar, kami memutuskan menyetop kebijakan pengendalian pasokan BBM yang berjalan sepekan ini, terhitung mulai 25 November 2012. Selanjutnya, kami menunggu arahan dari pemerintah," kata VP Corporate Communication Pertamina, Ali Mundakir di Jakarta, Minggu (25/11/2012).

Menurut Ali, keputusan ini diambil mengingat kebijakan pembatasan distribusi BBM bersubsidi berdampak pada banyaknya antrean BBM di berbagai daerah. Akibat krisis BBM di SPBU-SPBU, kerusuhan meletus di Baring Tongkok.

Pemicunya adalah karyawan SPBU Kelurahan Simpang Raya, Barong Tongkok, SP yang emosional ketika tak bisa melayani pembeli bensin, 23 November 2012 lalu. Aming, warga setempat yang tak mendapatkan premium atas dalih BBM habis, mempertanyakan alasan SPBU lancar melayani BBM untuk mobil-mobil.

Karyawan SPBU milik Agen Premium Minyak dan Solar (APMS) CV Benuaq Indah Maju itu naik pitam, hingga memukul dan mengeroyok Aming bersama rekan-rekannya. Merasa diperlakukan semena-mena, Aming mengadukan ke kerabat dan warga di kampungnya.

Halaman123
Editor: Willy Widianto
Sumber: Tribun Kaltim
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas