Senin, 22 Desember 2014
Tribunnews.com

Pejabat dan Pengusaha di Sumsel Keliaran Bawa Airsoft Gun

Senin, 3 Desember 2012 07:07 WIB

Pejabat dan Pengusaha di Sumsel Keliaran Bawa Airsoft Gun
googleimage
ilustrasi air soft gun

TRIBUNNEWS.COM, PALEMBANG - Meski dilarang, sejumlah oknum pejabat dan pengusaha di Sumsel bebas berkeliaran membawa airsoft gun jenis pistol revolver dan FN untuk gagah-gagahan di keramaian. Kuat dugaan mereka membeli senjata itu berikut kartu tanda anggota klub menembak dan izin fiktif dari organisasi Persatuan Menembak dan Berburu Seluruh Indonesia (Perbakin).

Sumber Tribun di Palembang beberapa kali memergoki camat membawa airsoft gun jenis pistol. Biasanya senjata itu diselipkan di pinggang, dalam tas kecil, dan di mobil.

"Mereka tanpa ragu dan takut meletakkan airsoft gun yang dimiliki di atas meja. Entah apa maksudnya, apakah ikut anggota Perbakin atau tidak, saya tidak tahu," katanya.

Sumber tersebut menyebut seorang camat di Palembang. Tribun mencoba menemui camat itu, tetapi dia tidak berada di kantor.

Seorang supervisor perusahaan swasta asal Banyuasin mengaku sengaja membeli airsoft gun untuk menyalurkan hobi dan ketertarikannya terhadap kehandalan senjata api. Airsoft gun jenis revolver bewarna silver yang dimilikinya dibeli dengan harga Rp 5 juta. Setiap berpergian, senjata itu diselipkan di pinggang atau dalam tas kecil yang disandangnya.

"Dasar saja dibawa, semua suratnya lengkap. Ada bukti anggota klub dan izin dari Perbakin Sumsel," ujarnya percaya diri sambil mengenggam senjata itu.

Dari orang itu, diketahui bahwa airsoft gun bisa dimodifikasi menjadi senjata api. Tetapi ia tidak mau, sebab nomor rangka mainannya itu telah teregistrasi di Perbakin.

"Kalau mau jahat bisa saja. Tinggal melepas bagian di moncong dan mengganti pelatuknya," jelas pemuda berbadan kekar itu.

Di sela obrolan, ia menanyakan di mana tempat penjualan peluru kaliber 22 kepada sumber Tribun. Amunisi itu katanya, digunakan untuk menjaga kebun.

Sumber Tribun yang melayani penjualan airsoft gun mengaku tidak tahu di mana penjualan amunisi. Ia selama ini hanya melayani penjualan airsoft gun, bukan senjata api seperti yang dimaksud pemuda itu. Diakuinya, airsoft gun bisa dimodifikasi menjadi senjata api. Namun, ia tidak bertanggung jawab apabila ada konsumennya yang menyalahgunakan mainan itu.

"Orang yang menjual senjata ini banyak. Susah dideteksi, terkadang ada orang yang tiba-tiba sudah memiliki. Malahan ada beberapa toko di Palembang yang menjual airsoft gun," ujarnya.

Senjata  impor ini dipesan dari Bandung dan Jakarta dengan lama waktu antar sekitar tiga hari. Airsoft gun terdiri dari beberapa jenis ada revolver, FN, baretta, dan rifles (AK 47 Series, M16 Series ). Kebanyakan yang beredar di masyarakat itu diimpor dari Jerman, Rusia, Austria, Jepang, dan Taiwan.

"Untuk reparasinya juga sudah ada di Palembang. Tetapi ada juga bagian yang tidak bisa diperbaiki, sehingga harus diganti baru. Contohnya silinder untuk jenis revolver yang rawan kerusakan," terangnya.

Sumber Tribun ini menyanggupi penjualan senjata yang dilengkapi surat izin dari Perbakin. Selain senjata, konsumen mendapatkan bonus 50 butir peluru. Apabila habis, peluru bisa dibeli kembali tanpa harus mendapatkan izin. Harga peluru ditentukan oleh jenisnya. Misalkan untuk peluru besi berbentuk bulat (gotri) isi 300 butir seharga Rp250 ribu.

"Surat izin Perbakin itu masa berlakunya selama satu tahun. Untuk memperpanjang izin dikenakan biaya Rp 400 ribu," pungkasnya.

Dia mengakui memang tidak sembarang orang bisa memiliki airsoft gun karena harganya jutaan rupiah, bergantung jenis senjata.

"Setidaknya orang berpenghasilan di atas Rp5 juta per bulan sanggup memiliki senjata ini. Mereka yang punya kebanyakan untuk gaya-gayaan biar dikatakan gagah," kata sumber yang mewanti-wanti namanya tidak disebutkan.

Koran Futuristik dan Elegan
Klik Tribun Jakarta Digital Newspaper
 
Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Tribun Sumsel

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas