• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Senin, 1 September 2014
Tribunnews.com

TKI asal Sidrap Tewas Digorok di Sarawak Malaysia

Senin, 17 Desember 2012 23:55 WIB
TKI asal Sidrap Tewas Digorok di Sarawak Malaysia
TRIBUNNEWS.COM/HERUDIN
Aktivis buruh migran yang tergabung dalam Migrant Care berunjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Kamis (1/11/2012). Migrant Care meminta pemerintah Indonesia dan Malaysia mengusut tuntas iklan yang melecehkan tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. TRIBUNNEWS/HERUDIN

TRIBUNNEWS.COM, MAKASSAR - Seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Muhammad Nur bin Musa (34) dilaporkan keluarganya meninggal di wilayah perkebunan kelapa sawit, di Kucing, Negeri Serawak, Malaysia, Minggu (16/12/2012) sekitar pukul 22.00 waktu Malaysia.

"Kami temukan sudah terluka, di leher, di kebun sawit," kata Herlina (41), kerabat tempat tinggal almarhum sebulan terakhir di Serawak, melalui sambungan telepon internasional, Senin (17/12/2012) tadi malam.

Hingga saat ini, tambah Lina, jenazah kerabat sepupunya dari Desa Bulu Cenrana, Tanru Tedong, Kecamatan Pitu Riawa, Sidrap, Sulsel ini, masih berada di kamar mayat di Hospital Kucing, Serawak.

Kasus ini, kata dia, sudah ditangani otoritas polisi dan ketertiban sipil setempat. "Polisi belum dapat kabar," kata Lina menjawab apa motif pembunuhan di perkebunan palm oil Serawak ini.

M Nur adalah korban kelima TKI yang terbunuh di Malaysia dalam satu tahun terakhir. April 2012 lalu, terungkap penembakan terhadap tiga TKI asal Nusa Tenggara Barat (NTB) di Negeri Sembilan, yang terjadi 22 Maret 2012 lalu. Ketiganya dilaporkan tewas ditembak oleh lima polisi lokal.

Dalam logat Melayu yang kental, Lina mengaku, bersama suaminya, Tahang, dia sudah melaporkan insiden ini ke Konsulat Jenderal (Konjen) Republik Indonesia di Negeri Serawak. "Kita menanti besok, semoga orang konsulat bisa urus jenazah adik kami," katanya.

Informasi meninggalnya TKI asal Tanrutedong Sidrap ini awalnya diterima Tribun, dari Direktur Komite Pemantau Legislatif (Kopel) Indonesia, Herman, sekitar pukul 22.30 wita semalam.

"Minta tolong kalau ada yang bisa, satu lagi TKI (keluarga saya) di Malaysia terbunuh. Kami ingin bawa jenazahnya pulang ke Indonesia," kata Herman.

Siti Hurriah, istri almarhum, Senin kemarin, sudah terbang ke Pontianak, Kalimantan Barat, untuk selanjutnya menyeberang ke perbatasan Serawak, Malaysia.

"Tadi pagi sudah naik pesawat sendiri, maklum Pak, kami tak banyak uang," kata Lemong (47), kakak kandung almarhum yang dikonfirmasi melalui sambungan telepon, tadi malam.

Saat ditelepon, di rumah duka di kampung Alam Bulu Cenrana, terdengar suara tangis. "Kita hanya berdoa Pak, semoga pemerintah bisa bantu keluarga, untuk bawa ke sini adik kami," kata Lemong.

Almarhum Muhammad, berangkat ke Serawak, November lalu. "Baru 23 hari, katanya di sana ia kerja di perkebunan sawit. Minggu lalu masih telepon anaknya yang masih kelas 1 SD," kata Lemong.

Almarhum meninggalkan dua orang anak, yang sulung M Nur Faiz (12), adalah santri Pondok Pesantren Assadiyah Sengkang. Sedangkan Nurhalizah (6) masih duduk di kelas 1 SDN Bulu Cenrana, Sidrap.

Almarhum sempat sekolah di SMP namun tak selesai. Sebelum ke Malaysia, almarhum hanya bekerja sebagai petani sawah dan pekebun musiman. Kakaknya tidak tahu, apakah adiknya berangkat ke Malaysia, atas jasa perusahaan jasa ternaga kerja (PJTKI) resmi.

"Yang kami tahu dia berani ke Serawak, untuk temui keluarga di sana," katanya. Kampung almahum berjarak sekitar 7 km dari Tanrutedong, ibu kota kecamatan Pitu Riawa. Kampung pedalaman petani ini berada di sebelah timur kota Pangkajene, ibu kota Sidrap, jaraknya sekitar 21 km.

Dari Makassar, ibukota provinsi Sulsel, kampung yang ratusan warganya adalah "Pahlawan Devisa" di Sidrap ini berjarak sekitar 203 km.

Editor: Anwar Sadat Guna
Sumber: Tribun Timur
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
1230901 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas