• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 1 November 2014
Tribunnews.com

Cinta Segitiga Berujung Tragedi Berdarah

Rabu, 19 Desember 2012 07:27 WIB
Cinta Segitiga Berujung Tragedi Berdarah
Ist
Ilustrasi bacok
TRIBUNNEWS.COM, MUARA BULIAN - Jalinan cinta segitiga yang dijalani antara Acong, Ari dan Aliya akhirnya berujung perkelahian. Gara-gara berebut cinta Aliya, Acong rela menyerang Ari menggunakan parang panjang. Akhirnya, Ari terluka parah bersimbah darah dan Acong mendekam di penjara.
Tragedi berdarah cinta segitiga itu terjadi di kawasan kompleks eks-Arena MTQ RT 25 Kelurahan Muara Bulian Selasa (18/12/2012) pukul 11.30. Peristiwa tepatnya terjadi di lokasi perkebunan pembibitan okulasi karet di kebun milik Anang di RT 25 Kelurahan Muara Bulian. Baik Acong maupun Ari adalah sesama pekerja perkebunan.
Kasat Reskrim Polres Batanghari Kompol Sukamto menceritakan, kejadian bermula ketika Ari dan Dedi mendatangi lokasi Acong dan Parman bekerja.
Kunjungan itu dilakukan oleh Ari dan Dedi setelah istirahat siang atau pukul 11.30. Mereka datang dari lokasi kerja mereka, Kebun Sayur di Kilangan milik Warno.
Akan tetapi, niat kunjungan itu sendiri ternyata dibocorkan oleh seorang rekan Acong dan Parman yang berada satu lokasi kerja dengan Ari dan Dedi. Melalui pemberi informasi ini, dikatakan bahwa kedatangan Ari dan Dedi bertujuan ingin melakukan pengeroyokan terhadap Acong.
"Acong dan Parman ini yang didatangi oleh Ari dan Dedi. Kedatangan korban sendiri bertujuan untuk melakukan penganiayaan terhadap Acong. Tapi justru mereka yang menjadi korban pembacokan," ujar Kompol Sukamto, Selasa (18/12/2012).
Selanjutnya, setelah mendapatkan informasi, Acong dan Parman melakukan persiapan. Ketika Ari dan Dedi benar-benar datang, kedua pelaku terlibat adu mulut. Saat pertengkaran semakin memanas posisi Ari dan Dedi berjauhan sekitar 3 meter. Sebagaimana diakui oleh Dedi. Saat itulah, tiba-tiba Acong dan Parman melakukan pengeroyokan menggunakan senjata tajam berupa parang panjang.

Usai melakukan pembacokan itu, kedua pelaku langsung lari ke pondok tempat tinggal mereka. Mereka mengemasi barang-barang dan memasukkan ke dalam tas.
Lalu keduanya melarikan diri melalui belukar di belakang kebun tempat mereka bekerja. Dalam pelariannya itu, Acong dan Parman bersembunyi di belakang rumah milik warga di Pall 3 Kecamatan Muara Bulian.
Warga tempat Acong dan Parman bersembunyi ternyata adalah tetangga Kasat Reskrim Polres Batanghari, Kompol Sukamto. Tetangga tersebut mengatakan bahwa ada dua orang asing yang bersembunyi di belakang rumah mereka.
Kepada Sukamto, diceritakanlah ciri-ciri keduanya oleh si tetangga. Ketika mengetahui ciri-ciri orang yang dicurigai sama dengan pelaku pembacokan. Maka Kasat Reskrim langsung turun sendiri ke lokasi. "Keduanya sembunyi tidak jauh dari rumahku sendiri. Beruntung warga menyampaikannya," ujar Sukamto.
Lantas keduanya langsung dibawa ke Mapolsek Muara Bulian. Di Mapolsek kedua pelaku terlihat rileks. Bahkan mereka sempat menghisap rokok dan terlihat tersenyum. Di wajah Acong tidak terlihat ekspresi tegang atau penyesalan ketika ditanya Kasat Reskrim dan Kapolsek Muara Bulian.
Sementara itu pasca-pembacokan yang dilakukan oleh Acong dan Parman, Ari mengalami luka robek di tengkuk, kepala, serta lengan kiri. Saat melihat Ari sudah tersungkur dengan tubuh bersimbah darah dan kedua pelaku langsung melarikan diri, Dedi pun langsung menghampiri korban, Ari.
Kepada Tribun, dituturkan Dedi, bahwa saat itu, Ari masih sempat meminta dirinya untuk mengejar pelaku yang melarikan diri. Akan tetapi, Dedi memilih berteriak meminta tolong karena mengetahui pelaku masih memegang satu parang panjang.
Melihat darah yang semakin banyak keluar dari kepala Ari, Dedi pun berusaha menyelamatkan Ari dengan membawanya keluar dari perkebunan ke pinggir jalan. Di pinggir jalan, barulah dirinya mendapatkan pertolongan warga dan mengantarkannya ke RSUD Hamba Muara Bulian.
Saat di RSUD Hamba, Dedi mengatakan bahwa mereka datang ke lokasi kerja Acong dan Parman telah memberitahukannya lebih dulu. Tujuan kedatangannya adalah untuk berkunjung saat istirahat siang.
"Kami hanya ingin berkunjung karena jam istirahat. Tapi saat itu, Acong memakai sandal milik Ari tanpa meminjam terlebih dahulu sehingga terjadi percekcokan di antara keduanya," ujar Dedi.
Akibat percekcokan itulah, kemudian tanpa sepengetahuannya, Acong dan Parman melakukan serangan menggunakan parang. Akibatnya Ari terkapar dengan beberapa bacokan di kepala, leher dan lengan.
Acong saat dikonfirmasi mengatakan bahwa pertengkaran diantara dirinya dan Ari gara-gara cinta Aliya. Aliya merupakan sesama pekerja di perkebunan milik Warno. Menurut penuturan Acong bahwa yang dicintai Aliya adalah dirinya. Akan tetapi, Ari yang lebih dulu kenal dengan Aliya merasa tidak terima dan juga merasa mencintainya.
"Aku membacok Ari itu karena persoalan cewek. Ari mengaku kalau cewek aku tu (Aliya.red) adalah pacarnya. Padahal Aliya itu maunya hanya sama aku bukan Ari. Tapi dia ngotot. Karena takut dikeroyok Ari sama Dedi itulah aku bacok pakai parang," ujar Acong.
Sauri, warga setempat mengatakan bahwa Acong dan Parman merupakan pendatang di lingkungan mereka. Keberadaan mereka sendiri baru dua bulan. Mereka tinggal di pondok milik Marzuki dan sehari-hari mengurus pembibitan karet milik Anang.
"Yang aku tahu mereka datang dari Pandeglang Banten. Lebih kurang baru dua bulan sudah bekerja di kebun ini membibitkan karet," ujar Sauri.
Kapolsek Muara Bulian AKP Mas Edi yang dikonfirmasi Tribun mengatakan hasil pemeriksaan sementara, kedatangan Ari dan Dedi tidak membawa peralatan apapun. "Sementara parang yang dipakai Acong dan Parman juga merupakan peralatan kerja mereka sehari-hari," ujar AKP Mas Edi.

Kapolsek membantah bila apa yang dilakukan oleh Acong dan Parman merupakan kejahatan terencana.
Akibat perbuatan keduanya, mereka diancam menggunakan pasal 170 KUHP dengan hukuman di atas 5 tahun. (Tribun Jambi/Hendri Dunan)
Baca juga:
Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Tribun Jambi
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas