Sabtu, 20 Desember 2014
Tribunnews.com

Cileunyi Wetan Seperti Lautan

Senin, 24 Desember 2012 09:11 WIB

Cileunyi Wetan Seperti Lautan
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Sejumlah pengendara sepeda motor menerjang genangan air bercampur limbah pabrik yang membanjiri badan Jalan Cisirung, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Minggu (23/12/2012). Banjir akibat meluapnya Sungai Citarum di kawasan industri ini tidak hanya menggenangi infrastruktur jalan tapi sejumlah pabrik dan ribuan pemukiman warga di kawasan tersebut kembali tergenang air.

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG -- Sekitar 500 rumah yang dihuni 1.490 jiwa di RW 1 dan RW 18 Desa Cileunyi Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, terendam, Minggu (23/12). Sejumlah warga memilih berdiam di rumah untuk mengantisipasi jika terjadi banjir susulan. Selain itu, akses jalan yang menjadi jalur transportasi kedua RW tersebut terputus.

Ketua RW 1, Asep Ginanjar, mengatakan, banjir yang merendam rumah warga di RT 1, RT 2, RT 3, RW 4, RW 5, RW 6, dan RW 7 itu terjadi lantaran Sungai Cikeruh tak mampu menampung debit air hujan yang terjadi Sabtu (22/12/2012). Selain itu, Asep menilai jika hujan yang terjadi dua hari yang lalu itu cukup deras dan berlangsung lama.

"Hujan terjadi sekitar pukul 13.00. Tapi jam 14.00 sudah terlihat tanda-tanda akan terjadi banjir. Namun warga terkejut karena jumlah air terus meningkat ketika pukul 16.00. Airnya sampai setinggi orang dewasa," ujar Asep kepada Tribun ketika ditemui di lokasi kejadian, Minggu (23/12/2012).

Asep mengatakan, kejadian tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. Hanya saja, ada dua dari enam rumah di RT 1 yang mengalami rusak berat akibat banjir yang terjadi itu. Dikatakannya, temobk dua rumah tersebut hancur dan rubuh akibat terjangan air yang cukup deras ketika banjir.

"Kami memang sudah menjadi langganan banjir setiap tahunnya ketika musim hujan. Tapi banjir ini paling parah dari tahun-tahun sebelumnya. Apalagi Jalan Jajaway sepanjang 3 km mulai dari RW 1 sampai RW 18 terendam air seperti sungai," ujar Asep.

Asep meminta kepada pemerintah daerah (pemda) untuk segera melakukan pelebaran Sungai Cikeruh. Sebab, Asep menilai, sedimentasi dan pendangkalan menjadi alasan utama meluapnya air sehingga menyebabkan banjir bandang yang kemudian merendam rumah warganya.

"Sejak lama pemerintah hanya mengontrol. Tapi tetap saja tidak ada tindak lanjutnya. Kejadian seperti ini sudah berlangsung enam tahun. Namun tetap saja tidak ada solusi dan jalan keluar agar kami terbebas dari banjir," ujar Asep.

Akibat hujan deras yang mengguyur Kecamatan Cileunyi ini tanggul Sungai Galumpit yang berada di RT 9 RW 3, Desa Cileunyi Wetan jebol akibat tak kuat menahan derasnya air.

Ketua RW 3 Desa Cileunyi Wetan, Cecep Tubagus (38), mengatakan, jebolnya tanggul yang terbuat dari tanah dengan panjang empat langkah kaki orang dewasa itu terjadi Sabtu (22/12) sekitar pukul 15.00.

Kala itu, Cecep mengatakan, hujan memang deras mengguyur Kecamatan Cileunyi. Tak pelak, air yang mengalir di Sungai Galumpit tersebut keluar dan meluap sehingga merendam RT 9 di Komplek Bumi Mutiara, Desa Cileunyi Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung.

"Sekitar 10 hektare sawah di RW 3 menjadi lautan. Belum lagi banjir setinggi satu meter merendam sekitar 30 rumah yang ada di RT 9 komplek Bumi Mutiara. Karena itu banyak warga baru pulang pada pagi harinya. karena memang air baru surut sekitar pukul 01.00 dini hari," ujar Cecep.

Dikatakan Cecep, RT 9 memang selalu menjadi mengalami banjir setiap musim hujan. Menurutnya, banjir itu disebabkan meluapnya air dari Sungai Galumpit. Selain itu drainase yang berada di RT 9 kurang bekerja maksimal dan kurang bisa menampung jumlah air yang besar. Itu sebabnya banjir tak bisa dihindari warga RT 9 di Komplek Bumi Mutiara.

"Tiga hari yang lalu kami pernah kerja bakti bersama warga untuk membersihkan drainase tersebut. Namun kenyataannya tetap saja banjir," ujar Cecep.

Hal senada juga dikatakan, warga RT 9 Komplek Bumi Mutiara, Aban Sujana (72), ketika ditemui Tribun di kediamannya. Ia mengatakan, banjir sudah terjadi tiga kali dalam sepekan kemarin. Namun, kata Aban, banjir yang terjadi kemarin merupakan kejadian yang terparah.

Wakil Bupati Kabupaten Bandung, Deden Rumaji ketika ditemui Tribun di lokasi banjir, Minggu (23/12) mengaku prihatin lantaran banjir selalu melanda Kabupaten Bandung.

"Kabupaten Bandung menjadi tumpuan bencana. Namun penyebab banjir di Cileunyi Wetan merupakan kiriman air dari Kabupaten Sumedang akibat curah hujan yang meninggi. Akibatnya air meluap di Sungai Cikeruh yang ada di Cileunyi Wetan karena berada di hilir," ujar Deden.

Selain itu, Deden mengakui jika sistem irigasi di Kabupaten Bandung belum sepenuhnya normal. Sebab, kata Deden, kiriman air dari Kota Bandung, seperti Sungai Cikapundung dan Sungai Citepus yang bermuara Sungai Citarum pun menyebabkan Banjir di beberapa wilayah di Kecamatan Baleendah.

"Barangkali ini Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Jabar harus turun tangan karena Pemprov hanya bergantung dengan BBWS. Padahal ini persoalan yang melibatkan lintas kota dan kabupaten," ujar Deden. Deden pun meminta, Gubernur Jabar, harus turun ke lapangan meninjau lokasi. "Ini bukan menyalahkan siapapun. Hanya saja penyelesaian persoalan ini harus menyeluruh dan komprehensif," ujar Deden.

Deden mengaku, harus ada solusi lain selain normalisasi sungai untuk mengantisipasi banjir yang selalu melanda Kabupaten Bandung. Sebab, Deden menyebut, normalisasi saja tidak akan cukup untuk mengurangi debit air yang tak bisa ditebak. Belum lagi air dari kota dan kabupaten lainnya membawa sedimentasi tanah dan kotoran lainnya.

"Normalisasi dan perbaikan irigasi memang perlu. Tapi juga mesti ada danau-danau kecil yang digunakan untuk menampung air. Sebab danau tersebut bisa dimanfaatkan ketika musim hujan dan musim kemarau," ujar Deden.

Dikatakan Deden, idelanya harus ada 13 titik danau buatan. Danau tersebut berada di tempat-tempat yang berpotensi terjadi banjir ketika musim hujan. Selain itu, danau itu juga dibuat di daerah yang mengalami kekeringan ketika musim kemarau tiba.

"Sejauh ini, karena kebutuhan baru ada dua prioritas di 2013 nanti, yaitu Bojongmalak dan Cieunteng. Namun Kamasan juga nantinya akan dipikirkan. Sebab walau Cisangkuy dipotong tetap diperlukan danau di sana. Karena setiap perkejaan beum tentu sempurna sehingga harus ada opsi lainnya," ujar Deden.

Deden mengimbau kepada masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Selain itu, masyarakat harus bisa melakukan persiapan jika hujan datang. Selain itu, Deden meminta, BPBD, Dinsos, dan Camat harus memilik pelayanan standar mitigasi. Sebab, ketika ada banjir datang atau bencana lain datang, mereka sudah siap untuk memberikan tempat pengungsian, logistik, dan perlengkapan kesehatannya.

Ketua BPBD Kabupaten Bandung, Marlan, mengatakan, akibat hujan deras dua hari yang lalu juga mengakibatkan longsor di Desa Cibeunying, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Longsoran yang terjadi Sabtu (23/12) sekitar pukul 16.00 sepanjang 9 m tersebut menimpa tiga rumah.

"Kirmir yang ada di saluran air jebol. Kemudian terjadi lomgsor menimpa rumah di perbukitan di daerah itu. Rumah yang terkena longsoran itu bangunannya roboh menimpa dua rumah di bawahnya," kata Marlan melalui ponselnya Minggu (23/12/2012).

Marlan mengatakan bahwa dalam kejadian tersebut tak ada korban jiwa. Namun, petugas BPBD Kabupaten Bandung sudah melalukan evakuasi di tempat tersebut. "Petugas dari BPBD kini sedang membersihkan jalan di kawasan itu, dan memperbaiki kirmir yang rusak akibat hujan besar tersebut," ujarnya.

Marlan pun membenarkan, jika terjadi banjir di beberapa wilayah Kabupaten Bandung wilayah timur. Wilayah yang mengalami banjir itu, kata Marlan, yakni, Kecamatan Rancaekek, dan Kecamatan Cileunyi. Marlan menjelaskan bahwa meski air sempat menggenangi luapan air di kawasan Cileunyi dan Rancaekek tersebut, namun kedalaman banjir masih dalam tahap aman.

"Sudah ada 400 relawan yang akan membantu evakuasi warga. Kami juga sudah memberikan bantuan logistik yang langsung disalurkan kepada masyarakat melalui desa," ujarnya.

Pelaksana Kehumasan Kecamatan Rancaekek, Abah Yadi, membenarkan, banjir juga terjadi di kecamatannya. Ia mengatakan, Desa Sukamanah merupakan wilayah yang cukup parah mengalami banjir. Bahkan hingga kemarin air setinggi paha orang dewasa masih menggenang beberapa wilayah di Desa te rsebut.

"Yang mengalami banjir dan terdata adalah RW 4 yang memiliki 125 KK dengan jumlah penduduk sebanyak 685 jiwa, RW 5 yang memiliki 170 KK dengan jumlah penduduk sebanyak 317 jiwa, RW 6 yang memiliki 120 KK dengan jumlah penduduk sebanyak 557 jiwa, dan RW 11 yang memiliki 75 KK dengan jumlah penduduk sebanyak 393 jiwa, RW 12 yang memiliki 100 KK dengan jumlah penduduk sebanyak 490 jiwa, RW 3 yang memiliki 205 KK dengan jumlah penduduk sebanyak 860 jiwa," kata Abah kepada Tribun ketika ditemui di Rancaekek, Minggu (23/12/2012). (Tribun Jabar/Teuku Guci Syaifuddin)

Baca juga:


Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Tribun Jabar

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas