• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Selasa, 29 Juli 2014
Tribunnews.com

Sisingaan Cimanggung Masih Tetap Bertahan

Selasa, 1 Januari 2013 07:39 WIB
Sisingaan Cimanggung Masih Tetap Bertahan
IST
Ilustrasi

Laporan Wartawan Tribun Jabar,  Teuku Muh Guci S

TRIBUNNEWS.COM -- SUARA alunan kendang dan terompet terdengar jelas dan nyaring di Kampung Batu Nangtung RT 02/RW 17, Desa Cimanggung, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Senin (31/12). Diiringi tepukan rebana, tabuhan gong, serta lantunan lagu-lagu sinden yang menyanyikan tembang andalannya, suasana di kampung itu menjadi meriah.

Di tengah nyanyian sinden, 12 pria bertubuh kekar berjalan ke tengah kerumunan para penonton. Dengan berpakaian kuning, bercelana hitam, dan menggunakan ikat bermotif batik di kepalanya, mereka berdiri dengan tegap menandakan siap mempertontonkan pertunjukan seni tradisional sisingaan. Dua buah sisingaan (boneka menyerupai singa) pun dipersiapkan di tengah kerumunan penonton itu.

Sebelum pertunjukan dimulai, seorang sesepuh grup sisingaan Putra Giri Mekar membacakan mantra. Sembari mulutnya komat-kamit, ia menyemburkan air ke dua sisingaan tersebut. Alunan gamelan pun terdengar lirih ketika sesepuh itu membisikkan sesuatu ke telinga sisingaan itu. Entah apa yang dibisikkannya, dia tampak serius membisikkan beberapa kalimat.

Alunan musik gamelan pun kembali terdengar di area pertunjukan setelah mantra dibacakan. Sesekali penonton berdecak-decak kagum dibarengi tepuk tangan. Namun anak-anak kecil yang mendominasi jumlah penonton terlihat ketakutan ketika sisingaan diangkat ke-12 pria kekar yang sudah menyiapkan diri di tengah kerumunan.

Satu sisingaan diangkat empat pria dengan posisi dua di depan dan dua di belakang. Sesekali sisingaan dinaik-turunkan layaknya permainan ayunan. Tabuhan kendang dengan entakan kaki pemain sisingaan terlihat berbarengan membentuk sebuah harmoni bunyi dan gerak yang menarik.

Tak hanya itu, setiap pria berpakaian kuning itu juga melakukan atraksi lainnya. Mereka diinjak rekannya sendiri di atas boneka sisingaan. Bahkan rekan yang menginjaknya menari-nari mengikuti lantunan lagu yang didendangkan. Namun pria yang diinjak tersebut tidak merasakan sakit apa pun.

Pemimpin Putra Giri Mekar Group, Aceng (70), mengatakan kesenian tradisional sisingaan memang sudah ada sejak tahun 1969. Menurut dia, kesenian sisingaan atau gotong singa berasal dari Subang. Namun sisingaan yang dibawakan kelompok kesenian yang dipimpinnya itu sudah ada ketika didirikan sesepuh Batunangtung yang berasal dari Desa Cimanggung.

Kesenian ini, kata Aceng, memang langka. Sebab, tak banyak yang mengetahui kesenian sisingaan ini. Karena itu, kesenian ini selalu menjadi perhatian banyak masyarakat ketika mengisi sebuah acara hajatan.

"Ini merupakan warisan leluhur kami. Jadi, kami selaku generasi penerus mencoba mempertahankan kesenian sisingaan ini. Dan alhamdulillah, di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, kesenian tradisional sisingaan masih bertahan meski dengan segala keterbatasan," ujarnya ketika ditemui wartawan, Senin (31/12/2012).

Dikatakan Aceng, pada era tahun 70-90-an, sisingaan menjadi kesenian yang digandrungi masyarakat. Hampir setiap ada hajatan, seni sisingaan selalu meramaikan dan menjadi perhatian publik. Namun seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat mulai melupakan kesenian ini. Masyarakat lebih tertarik mendatangkan biduan-biduan untuk membawakan musik pop, dangdut, dan aliran lainnya.

"Sisingaan sendiri diambil dari bahasa Sunda yang artinya permainan singa. Sisingaan dibuat dari kayu, busa, dan tali rafia untuk rambutnya. Sedangkan untuk memainkannya diangkut oleh empat pria," katanya.

Aceng mengatakan, selain menghibur, sisingaan mengandung nilai mistis. Menurut dia, hal tersebut menjadi daya tarik utama dari kesenian ini. Ia pun mengatakan, boneka sisingaan terasa berat di pundak pemain jika tidak dibacakan mantra terlebih dahulu. Pada malam-malam tertentu, sisingaan ini juga wajib dimandikan dengan air kembang.

"Membaca doa wajib dilakukan sebagai penghormatan kepada leluhur yang telah meninggal. Selain itu, kami juga memohon perlindungan dari Tuhan agar pemain diselamatkan dan warga yang naik sisingaan supaya tidak terjatuh," katanya.

Untuk mempertahankan kesenian sisingaan, Aceng selalu menggelar pertunjukan ke sejumlah daerah di luar Kecamatan Cimanggung. Aceng mengenalkan kepada warga kesenian sisingaan dengan mengajak para penonton untuk naik ke punggung boneka sisingaan.

"Adanya pertunjukan sisingaan, selain untuk menambah pemasukan yang digunakan sebagai biaya perawatan sisingaan dan makan pemain, kami ingin mengenalkan secara luas kepada masyarakat," ujarnya.

Selama ini, kata Aceng, sisingaan selalu mengisi acara khitanan dan acara ulang tahun. Namun tidak menutup kemungkinan pihaknya siap beratraksi untuk acara intansi pemerintah.

"Kami pun siap memberikan atraksi lainnya. Biasanya, jika ada permintaan yang punya hajat, ada atraksi adu kekuatan tubuh. Pemain sisingaan diinjak oleh beberapa orang bertubuh besar. Mulai kaki, tangan, hingga kepala. Namun pria yang diinjak tersebut masih bisa bernapas dan masih bisa berjoget. Lalu berdiri di atas sisingaan yang tengah diarak keliling jalan," katanya. (*)

Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Tribun Jabar
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
1272561 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas