• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 1 Agustus 2014
Tribunnews.com

Trafficking Kalbar Peringkat Kedua Nasional

Sabtu, 12 Januari 2013 16:55 WIB
Trafficking Kalbar Peringkat Kedua Nasional
lustrasi Trafficking

TRIBUNNEWS.COM, PONTIANAK - Angka perdagangan manusia (human trafficking) di Kalimantan Barat mengalami peningkatan cukup signifikan pada tahun 2012. Saat ini Kalbar menempati peringkat kedua. Padahal pada 2011 yang lalu menempati posisi ke-empat.

Project officer International Catholic Migration Commission (ICMC) Indonesia Suarni mengatakan, naiknya peringkat Kalbar tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya saat ini Kalbar bukan hanya menjadi wilayah penerima dan transit TKI saja, tapi juga menjadi pengirim TKI yang kemudian bermasalah di luar negeri.

"Peringkat pertama masih Batam, peringkat kedua Pontianak dan peringkat ketiga Makasar. Naiknya peringkat ini mestinya menjadi warning bagi kita semua bahwa Kalbar saat ini juga sudah menjadi pengirim banyak TKI keluar negeri yang sebelumnya tidak terjadi," ujarnya ketika berkunjung ke Tribun Pontianak bersama pengurus Yayasan Nanda Dian Nusantara (YNDN) Pontianak, Jumat (11/1/2013).

Satu di antara indikasi bahwa Kalbar sudah menjadi wilayah pengirim TKI korban human trafficking adalah dengan ditemukanya warga Pontianak Kalimantan Barat di Batam. Warga tersebut sebelumnya bekerja di Malaysia kemudian melarikan diri karena diperlakukan tidak selayaknya.

"Masalah lain terkait TKI ini juga terkait pengurusan paspor, karena banyak di antara mereka yang rupanya sudah puluhan kali bertukar nama sehingga lupa dengan nama terakhir. Tidak jelasnya identitas ini juga menyulitkan kita mengurus ketika ada TKI yang ditelantarkan dan mengalami kekerasan di negara tetangga," ujarnya.

Masalah lain terkait human trafficking dijelaskan Suarni, adalah banyak ditemukanya kasus perdagangan orang di dalam kota termasuk Pontianak. Lebih khususnya adalah seks trafficking, (perdagangan seksual) yang melibatkan anak-anak usia SMP dan SMA. Hal ini menjadi penting karena Pontianak dua kali mendapat penghargaan Kota Layak Anak (KLA).

"Kita ingin semua pihak peduli karena ini termasuk pada perdagangan manusia yang terjadi, kita ungkapkan agar semua pihak ambil bagian. Mulai dari sekolah, pemerintah dan masyarakat turut memerangi hal tersebut," tandas Arni, panggilan Suarni.

Arni mengungkapkan, sejak Maret 2012 sampai akhir tahun, tercatat 34 kasus human trafficking yang ditindaklanjuti dengan penanganan di kepolisian. Sebanyak 29 kasus di antaranya dengan korban perempuan, selebihnya korban laki-laki.

Dari 29 kasus human trafficking dengan korban perempuan, 16 kasus di antaranya dengan korban anak di bawah umur. Dan, dari jumlah ini, sebanyak 6 kasus merupakan sex trafficking yang melibatkan anak sekolah, dalam hal ini SMP.

Junaidi Bustam, Dewan Pembina YNDN Pontianak, bahkan menyebut, selama 2011, anak sekolah yang terpantau melakukan sex trafficking jumlahnya luar biasa: 128 anak. Angka ini, sekali lagi, adalah yang terpantau, bukan kasus yang telah mendapat penanganan dari aparat penegak hukum.

Arni kemudian mengingatkan, human trafficking, dan tentunya termasuk sex trafficking, merupakan fenomena gunung es. Apa yang terlihat di permukaan, belum seberapa dengan apa yang tersimpan di bawah permukaan.

Angka 128 anak yang terpantau selama 2011 melakukan sex trafficking bisa jadi hanya sebagian kecil dari jumlah sebenarnya. Demikian pula jumlah 34 kasus human trafficking selama 2012 yang sudah mendapat penanganan hukum, bisa jadi angka sebenarnya justru berlipat-lipat. Junaidi, Arni, maupun Edo mengingatkan perlunya penguatan di tingkat

Senada dikatakan pengurus YNDN Pontianak Edho Sinaga, dirinya mengatakan seks trafficking di Pontianak memang sudah memprihatinkan. Bahkan anak SMP kelas II, III dan SMA kelas I dan II juga terlibat. Rata-rata penjualnya adalah kawan mereka sendiri yang sudah berpengalaman terlebih dahulu.

"Ini nyata terjadi, dan sepanjang 2012 ada sedikitnya enam kasus yang sudah kita tangani. Namun kita yakin ini seperti fenomena gunung es, di mana yang tampak di permukaan tidak seberapa dibandingkan dengan yang ada di bagian bawah," tandasnya.

Keberadaan media seperti halnya Tribun Pontianak dijelaskan Edo, sangat membantu penanganan kasus yang dilakukan YNDN Kalbar. Bahkan ada beberapa kasus yang bisa terungkap dengan keberadaan media yang ada. (Tribun Pontianak/sbs/asm)

Baca juga:

Editor: Hendra Gunawan
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
1317111 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas