Rabu, 28 Januari 2015
Tribunnews.com

Trafficking Kalbar Peringkat Kedua Nasional

Sabtu, 12 Januari 2013 16:55 WIB

Trafficking Kalbar Peringkat Kedua Nasional
lustrasi Trafficking

TRIBUNNEWS.COM, PONTIANAK - Angka perdagangan manusia (human trafficking) di Kalimantan Barat mengalami peningkatan cukup signifikan pada tahun 2012. Saat ini Kalbar menempati peringkat kedua. Padahal pada 2011 yang lalu menempati posisi ke-empat.

Project officer International Catholic Migration Commission (ICMC) Indonesia Suarni mengatakan, naiknya peringkat Kalbar tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya saat ini Kalbar bukan hanya menjadi wilayah penerima dan transit TKI saja, tapi juga menjadi pengirim TKI yang kemudian bermasalah di luar negeri.

"Peringkat pertama masih Batam, peringkat kedua Pontianak dan peringkat ketiga Makasar. Naiknya peringkat ini mestinya menjadi warning bagi kita semua bahwa Kalbar saat ini juga sudah menjadi pengirim banyak TKI keluar negeri yang sebelumnya tidak terjadi," ujarnya ketika berkunjung ke Tribun Pontianak bersama pengurus Yayasan Nanda Dian Nusantara (YNDN) Pontianak, Jumat (11/1/2013).

Satu di antara indikasi bahwa Kalbar sudah menjadi wilayah pengirim TKI korban human trafficking adalah dengan ditemukanya warga Pontianak Kalimantan Barat di Batam. Warga tersebut sebelumnya bekerja di Malaysia kemudian melarikan diri karena diperlakukan tidak selayaknya.

"Masalah lain terkait TKI ini juga terkait pengurusan paspor, karena banyak di antara mereka yang rupanya sudah puluhan kali bertukar nama sehingga lupa dengan nama terakhir. Tidak jelasnya identitas ini juga menyulitkan kita mengurus ketika ada TKI yang ditelantarkan dan mengalami kekerasan di negara tetangga," ujarnya.

Masalah lain terkait human trafficking dijelaskan Suarni, adalah banyak ditemukanya kasus perdagangan orang di dalam kota termasuk Pontianak. Lebih khususnya adalah seks trafficking, (perdagangan seksual) yang melibatkan anak-anak usia SMP dan SMA. Hal ini menjadi penting karena Pontianak dua kali mendapat penghargaan Kota Layak Anak (KLA).

"Kita ingin semua pihak peduli karena ini termasuk pada perdagangan manusia yang terjadi, kita ungkapkan agar semua pihak ambil bagian. Mulai dari sekolah, pemerintah dan masyarakat turut memerangi hal tersebut," tandas Arni, panggilan Suarni.

Halaman123
Editor: Hendra Gunawan
KOMENTAR ANDA

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas