• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Senin, 21 April 2014
Tribunnews.com

Apmiso Jateng Bakal Impor Daging Sapi 10 Ton

Selasa, 22 Januari 2013 19:02 WIB
Apmiso Jateng Bakal Impor Daging Sapi 10 Ton
WARTA KOTA/ANGGA BN
Pedagang daging sapi tengah menunggu konsumen di Pasar Senen, Jakarta Pusat, Selasa (8/1). Kebutuhan daging sapi di Pasar Senen mencapai 8-10 ekor per hari, pedagang mengaku akhir-akhir ini mengalami penurunan pasokan daging. ANGGA BN

TRIBUNNEWS.COM SEMARANG, Hingga kini, Asosiasi Pedagang Mi dan Bakso (Apmiso) Jawa Tengah masih pusing dengan harga sapi yang tinggi. Harga daging sapi yang mencapai Rp 80 ribu ke atas membuat Apmiso terus memutar otak untuk mengakali biaya produksi yang membengkak.

"Dulu pas harga daging sapi Rp 65 ribu sekilogram kami bisa ambil untung sampai 20 %. Kini ambil untung 10% saja susah. Kami selalu jual Rp 7.000 hingga Rp 8.000, tidak mungkin naik," kata ketua Apmiso Jateng Lasiman kepada tribun jogja, Selasa (22/1/2013).

Pembengkakan harga itu membuat asosiasinya memilih mengimpor daging sapi dari Australia sejak dua bulan lalu. Ia beralasan bahwa harga daging impor yang lebih murah menjadi solusi terbaik saat ini. Harganya pun murah yaitu Rp 60 ribu perkilogram.

Pemilik warung bakso 'Punokawan Petruk' itu menambahkan, pihaknya sudah mengimpor daging sapi dua kali. Pertama sebanyak 2,7 ton dan kedua lima ton. Jumlah itu untuk mencukupi kebutuhan daging sapi untuk pedagang bakso di kota Semarang.

"Kami pakainya 50-50. Maksudnya separuh daging impor dan separuhnya daging lokal," ucap Lasiman.

Komposisi itu selain untuk membuat pedagang bakso bertahan juga tidak meninggalkan penjual daging sapi langganan. Ia berjanji akan kembali menggunakan daging lokal jika harga daging sapi sudah turun.

Sebenarnya, pada pertengahan Januari pihaknya ingin mengimpor lagi. Namun, karena kendala cuaca, pengiriman daging tidak bisa. Kemungkinan pada Februari impor akan dilanjutkan.

"Rencananya kami akan impor 10 ton. Itu untuk kota Semarang saja lho," ucapnya.

Lasiman menjabarkan bahwa ada 30 ribu pedagang bakso di Jateng yang terpengaruh oleh tingginya harga daging sapi. Sekitar 60 % nya merupakan pedagang keliling.

Ia berharap pemerintah benar-benar memerhatikan harga daging sapi. Pihaknya tidak ingin para pedagang bakso kolaps hingga menyebabkan banyak pengangguran.

"Bayangkan saja, satu pedagang punya karyawan berapa. Lalu apa karyawannya tidak punya keluarga?" imbuhnya.

Saat ini, pemasukan terbesarnya justru bukan dari bakso melain minuman yang dijualnya. Ia mencontohkan, segelas es teh bisa untung Rp 500 rupiah, sedangkan semangkuk bakso tidak bisa. (bbb)

Baca   Juga  :

Editor: Budi Prasetyo
Sumber: Tribun Jogja
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
1357461 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas