• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 24 Oktober 2014
Tribunnews.com

Bawa Karinding Cisero Hingga Meksiko

Selasa, 5 Februari 2013 09:15 WIB
Bawa Karinding Cisero Hingga Meksiko
Net
karinding

TRIBUNNEWS.COM -- KARINDING merupakan alat kesenian tradisional Sunda buhun yang terbuat dari bambu. Salah satu tempat pembuatan alat musik tiup itu berada di RT 03/RW 04 Kampung Cisero, Desa Sudi, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung.

Di teras sebuah rumah, enam orang pria duduk bersila. Mereka asyik memainkan lagu bernuansa Sunda ciptaan mereka sendiri yang berjudul Mangsa Nu Bakal Datang.

Keenam pria ini pun memamerkan kemahiran memainkan alat musik tradisional berbahan bambu yang mereka buat sendiri. Tiga di antaranya memainkan karinding, sedangkan dua lainnya memainkan suling bambu dan celempung.

Saru dari ketiga pria yang memainkan karinding itu merupakan pembuat semua alat musik yang mereka mainkan. Adalah Aldian (29) yang membuat alat musik Sunda tradisional, seperti karinding, celempung, toleat, gambang, gong tiup, saluang, celempung renteng, suling bambu, calung, kohkol, dan semua alat musik lainnya yang berbahan bambu.

"Sejak tahun 1998 saya sudah membuat semua alat musik berbahan bambu, termasuk karinding," ujar Aldian.

Aldian mengatakan semua karyanya merupakan hasil belajar selama dua bulan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung. Awalnya, mantan pemain band Death Metal Bandung ini hanya melihat mahasiswa STSI memainkan karinding. Ia kemudian tertarik hingga akhirnya meninggalkan grup bandnya dan mencoba membuat karinding di rumah meski buatan pertamanya tak sepenuhnya berhasil.

"Sebagai urang Sunda, saya terdorong ingin meneruskan sekaligus melestarikan seni dan budaya Sunda yang mengalir di tubuh saya," ujar Aldian, yang mengaku kakeknya, almarhum Aki Aja, merupakan pemain kecapi terkenal di Kecamatan Paseh pada masanya.

Seiring dengan berjalannya waktu, Aldian makin mahir membuat karinding. Ia pun mahir memainkan alat musik tersebut. Bersama sejumlah pemuda di kampungnya, Aldian kerap berlatih bersama. Tujuannya ingin mengenalkan alat musik asli Sunda tersebut kepada para pemuda dan masyarakat yang mulai berpaling terhadap alat musik ini.

"Alat-alat musik ini dibeli anak-anak sekolah yang kebetulan berlatih bersama saya di sanggar. Mereka ingin membeli karena tertarik bermain karinding bersama dan berlatih di rumah," kata Aldian.

Lantas Aldian pun mencoba menjual karinding buatannya ke tempat lain. Tujuannya pun tak berbeda ketika menjual karindingnya ke galeri-galeri di tempat wisaya yang ada di Kabupaten Bandung, seperti Ciwidey dan Tangkubanparahu yang kini berada di Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Kegigihan Aldian mengenalkan budaya Sunda ke masyarakat dengan menjual karinding pun terjawab. Karindingnya bisa sampai Manado di tahun 2001. Waktu itu wisatawan Manado melihat karinding buatannya di Tangkubanparahu. Wisatawan tersebut menemuinya untuk membuatkan karinding untuk dibawa ke Manado.

"Katanya buat perbandingan karinding Sunda dengan karinding Manado. Waktu itu memang ada kegiatan kebudayaan di Manado," ujar Aldian.

Tak hanya Manado, Aldian juga mengaku karinding buatannya juga sampai ke Meksiko. Ia menjual karinding buatannya itu berdasarkan perintah tokoh kesenian asal Ciparay, yakni Ali Suta yang memintanya untuk membuat karinding sebanyak 200 buah. Selain itu Aldian juga diminta membuat beberapa celempung untuk mengenalkan seni dan budaya Sunda yang dipertontonkan di acara musik etnik di Meksiko.

"Waktu itu saya hanya membuatnya, sedangkan bahannya, gombong dari Kang Ali," ujar Aldian seraya mengaku kerap memakai bambu tamiang maranganani sebagai bahan pembuatan alat musik tradisional Sunda termasuk karinding.

Banyak kendala yang ditemuinya ketika membuat karinding. Bahan baku bambu tamiang, misalnya. Bambu itu cukup sulit ditemukan karena tumbuh di tengah rawa-rawa. Di Kabupaten Bandung bambu tersebut baru diketahui ada di tengah hutan Ciwidey. Selain itu ada di Garut, Sukabumi, dan Cianjur.

"Kalau pakai bambu biasa memang bisa, tapi kurang nyaring karena ketebalannya berbeda," ujarnya.
Harga bambu tamiang biasanya berkisar Rp 50 ribu untuk satu batangnya. Satu batang bambu itu bisa dibuat sekitar 150 karinding. Namun jumlah itu juga sangat tergantung dengan cuaca. Menurutnya kualitas bambu di musim hujan ini banyak yang turun.

Dalam sebulan, paling besar pemasukannya sebanyak Rp 500 ribu. Uang itu dibelikannya lagi sejumlah bambu untuk dibuat karinding. "Mau rugi mau untung yang penting kesenian tradisional Sunda tak mati," katanya.

Aldian berharap besar kepada pemerintah terutama Dinas dan Kebudayaan Kabupaten Bandung untuk membantu berkembangnya kesenian ini. Jangan sampai orang Sunda sendiri malah tak bisa memainkan alat musiknya.

"Jangan sampai karinding ini diaku-aku negara lain seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Sebab kesenian karinding ini memang tak hanya ada di Sunda saja. Di Prancis pun ada meski namanya berbeda," ujar Aldian, yang bercita-cita menjadikan kampungnya sebagai kampung seni. (*)

Baca juga:

Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Tribun Jabar
0 KOMENTAR
1405702 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas