• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 30 Oktober 2014
Tribunnews.com

Ratusan Pedagang Demo Bupati Ngada

Senin, 25 Februari 2013 18:43 WIB

Laporan Wartawan Pos Kupang, Teni Jenahas

TRIBUNNEWS.COM, BAJAWA - Ratusan pedagang kecil yang terdiri dari kaum ibu (mamalele) menolak rencana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngada memindahkan semua pedagang sembako dan pedagang ikan atau pedagang non tekstil dari Pasar Inpres Bajawa ke Pasar Bobou.

Penolakan itu disampaikan saat melakukan aksi demo di Kantor Bupati Ngada, Senin (25/2/2013). Para pedagang menilai Pasar Bobou belum layak difungsikan.

Pantauan Pos Kupang, para pedagang yang terdiri dari pedagang sembako dan pedagang ikan basah sebelum menuju Kantor Bupati Ngada, terlebih dahulu berkumpul di Pasar Inpres Bajawa sekitar pukul 08.00 Wita.

Beberapa menit kemudian mereka terus berjalan menuju Kantor Bupati Ngada dibawa kawalan aparat keamanan dari Polres Ngada. Setibanya di halaman Kantor Bupati Ngada, mereka diterima Bupati Ngada, Marianus Sae; Wakil Bupati Ngada, Paulus Soliwoa; Sekda Ngada, Drs. Meda Moses; Wakil Ketua DPRD Ngada, Paulinus No Watu, S.Sos; Anggota DPRD Ngada, Serilus Pati Wuli; dan Kapolres Ngada, AKBP Daniel Yudo Ruhoro.

Ratusan pedagang tersebut datang dengan memakai selebaran kain putih yang diikat di kepala dan membawa spanduk bertuliskan: "Pasar pindah rakyat melarat dan kami butuh keadilan."

Di hadapan Bupati Ngada, salah satu perwakilan para pendemo, Deta Wona menyampaikan beberapa alasan, antara lain Pasar Bobou dinilai belum layak digunakan karena akses jalan masuk dan keluar hanya satu jalur.

Selain itu, pembuangan air berada pada posisi yang tidak tepat sehingga saat hujan lebat air mengalir melalui tangga dan akan menjadi genangan air.

Daya beli masyarakat juga sangat rendah karena letak pasar di hutan dan jauh dari pemukiman.

Para pedagang juga menilai lapak yang disediakan di Pasar Bobou ukurannya sangat kecil, sedangkan barang dagangan mereka banyak.

Karena itu, mereka menilai proses relokasi yang dilakukan pemerintah justru tidak membangun masyarakat Ngada.

Para pedagang juga mengeluhkan terbatasanya sarana lain, seperti ketersediaan kios di Pasar Bobou yang sangat sedikit, tidak sebanding dengan jumlah pedagang kios di Pasar Inpres Bajawa yang saat ini berjumlah lebih dari 30 orang.

Para pendemo meminta kepada pemerintah agar di Pasar Bobou perlu disediakan sarana dan prasarana lainnya, seperti listrik, air, keamanan 1X24 jam serta pembagian tempat harus sesuai dengan tempat yang sedang mereka gunakan saat ini di Pasar Inpres Bajawa.

Para pedagang mengancam tidak akan pindah ke Pasar Bobou pada 28 Februari 2013, apabila tuntutan mereka tidak dipenuhi.

Mereka baru pindah setelah tuntutan direalisasi 100 persen.

Para pedagang juga menyayangkan sikap pemerintah yang melakukan pemindahan secara bertahap.

Menurut mereka, sangat tidak benar jika sembako ditempatkan jauh dari pusat kota. Karena sembako merupakan kebutuhan setiap saat dibandingkan dengan tekstil yang merupakan kebutuhan sesaat.

Karena itu mereka meminta agar proses relokasi tidak hanya dikhususkan bagi mereka tetapi termasuk pedagang tekstil.

Bupati Ngada, Marianus Sae, di hadapan para pedagang mengatakan, semua aspirasi yang telah disampaikan akan dipertimbangkan oleh pemerintah.

"Pemerintah sudah mendengar semua aspirasi, dan akan melengkapi semua fasilitas di Pasar Bobou," kata Marianus.

Editor: Anwar Sadat Guna
Sumber: Pos Kupang
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas