Minggu, 23 November 2014
Tribunnews.com

UGM akan Bangun Asrama Mahasiswa Lintas Etnis

Rabu, 27 Maret 2013 05:01 WIB

UGM akan Bangun Asrama Mahasiswa Lintas Etnis
IST
Universitas Gadjah Mada

Laporan Wartawan Tribun Jogja, M Fatoni SS

TRIBUNNEWS.COM, SLEMAN – Universitas Gadjah Mada (UGM) berencana membangun asrama mahasiswa, yang dapat menampung seluruh mahasiswa baru dari berbagai daerah.

Rencana itu dimaksudkan untuk menciptakan suasana harmonis, dan menghindari sentimen antardaerah.

Menurut Rektor UGM Pratikno, Selasa (26/3/2013), dengan keberadaan asrama tersebut, nantinya mahasiswa UGM yang berasal dari berbagai daerah bisa saling berinteraksi, sekaligus meningkatkan semangat menghargai keberagaman.

“Bila mahasiswa dari berbagai daerah tinggal dalam satu asrama, rasa ke-Indonesiaan nantinya dapat ditumbuhkan selama mereka tinggal di Yogya,” tuturnya.

Jika terealisasi, Pratikno berharap dan berencana mewajibkan mahasiswa baru UGM bisa tinggal di asrama tersebut, pada tahun pertama mereka kuliah di Yogya. Ia menilai, selain sebagai tempat tinggal, asrama mahasiswa juga akan berfungsi sebagai sarana pembelajaran nyata bagi mahasiswa, terutama tentang budaya antardaerah.

“Dengan begitu, semangat kedaerahan dan sikap saling menghargai terhadap masing-masing etnik antardaerah bisa terjalin dengan baik,” ujarnya.

Pratikno menilai, sejumlah gesekan antaretnis yang terjadi beberapa waktu belakangan, disebabkan lantaran kurangnya pengenalan antara satu etnis dengan yang lain. Sebab, selama ini mahasiswa lebih banyak tinggal di asrama mahasiswa daerah masing-masing, sehingga kurang ada proses berbaur antar mahasiswa lain daerah.

Rencananya, UGM membangun asrama yang berkapasitas 400 mahasiswa. Saat ini, UGM juga telah merintis upaya tersebut, dengan mulai menyusun proposal dan rancangan pembangunan asrama baru.

Pratikno mengungkapkan, pihaknya mendapat respons positif dari Kementerian Pekerjaan Umum untuk merealisasikan rencana itu. Meski demikian, ia belum bisa memastikan waktu untuk memulai proyek, yang setidaknya membutuhkan dana minimal sekitar Rp 80 miliar.

“Yang jelas ini bagian dari upaya dan kepedulian UGM untuk meminimalisasi dan mengurangi gesekan antaretnis, serta bisa jadi sarana bagi mahasiswa lintas daerah untuk memupuk rasa kekeluargaan,” paparnya. (*)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribun Jogja

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas