Minggu, 21 Desember 2014
Tribunnews.com

Lampu Pagar Lapas Sempat Padam Saat Terjadi Penyerbuan

Kamis, 28 Maret 2013 20:55 WIB

Lampu Pagar Lapas Sempat Padam Saat Terjadi Penyerbuan
TRIBUN JOGJA/HASAN SAKRI GHOZALI
PENYERBUAN LAPAS CEBONGAN - Salah seorang sipir Lapas Cebongan yang mengalami luka saat terjadi penyerangan di Lapas Cebongan, Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (23/3/2013). Pada Sabtu dini hari terjadi penyerangan yang dilakukan oleh sekelompok orang bersenjata yang menewaskan empat orang tersangka pelaku pembunuhan di Hugos Cafe yang ditipkan oleh Polda DI Yogyakarta di Lapas tersebut. (TRIBUNJOGJA/HASAN SAKRI GHOZALI)

TRIBUNNEWS.COM SLEMAN, - Hingga kini belum jelas berapa jumlah kendaraan yang digunakan kelompok bersenjata dalam peristiwa penyerangan ke Lapas Kelas 2B, Sleman pada Sabtu (19/03/2013) dini hari silam.

Selain karena nyaris tidak ada saksi mata di luar areal lapas, penyerangan itu juga berlangsung singkat dan pada waktu warga sekitar tengah terlelap tidur. Hal itu kemudian diperparah pula dengan kondisi lampu di pagar depan lapas yang ternyata dalam kondisi padam.

Kepala Lembaga Permasyarakatan (Kalapas) Sleman, Sukamto Harto Kamis (28/03/2013) sore, membenarkan bahwa lampu tersebut padam. Namun dirinya tidak tahu bagaimana lampu-lampu itu bisa padam. Hanya saja, lampu tersebut kembali menyala pada pagi harinya.

Kondisi itu, tambah Sukamto, membuat pandangan terbatas sehingga tidak bisa begitu jelas melihat kondisi lapas saat itu. Selain itu, saat itu dirinya juga fokus untuk memastikan kondisi di dalam areal lapas beberapa saat setelah para penyerang pergi.

Pun demikian halnya dengan beberapa warga sekitar yang coba diminta bercerita, nyaris tak mendengar kedatangan kendaraan yang digunakan para penyerang, mereka justru baru sadar ketika peristiwa itu berakhir. Ditemui belum lama ini, seorang warga berusia sekitar 30-an tahun yang tinggal tak jauh dari kompleks lapas, mengaku tak menyadari kedatangan para penyerang.

Sebagaimana diceritakan sebelumnya, pada saat itu Sukamto datang tak lama setelah sambungan telepon dari Kepala Keamanan Lapas Margo Utomo diputus secara tiba-tiba. Ia yang merasa ada sesuatu yang salah. Ia kemudian mendatangi kompleks lapas, dengan memarkir kendaraannya jauh dari areal lapas. Ia kemudian berjalan memutar melewati areal pesawahan yang berada di seberang lapas, dipisahkan oleh Jalan Lapas dan dua unit rumah warga yang ada tepat di depan lapas.

Cara demikian, menurut Sukamto untuk mengantisipasi jika terjadi hal-hal yang berada di luar kendalinya. Ia saat itu ingin memastikan bahwa kondisinya benar-benar aman. Setelah berjalan melewati pematang sawah, Sukamto baru bisa memastikan kondisi yang terjadi sebenarnya. Para sipir, saat itu terlihat sudah keluar dari gerbang lapas dengan kondisi luka-luka akibat penganiyaan.

Sardinar (44), istri dari Kepala Keamanan Lapas Margo Utomo yang tinggal di rumah dinas di samping kiri lapas juga baru berani mendekati gerbang lapas setelah para sipir keluar. "Sudah pada diluar, terus saya membantu membukakan gerbang pagar yang masih terkunci," jelasnya, Rabu (28/03/2013).

Terhitung 15 menit kemudian, barulah datang polisi dari Polsek Mlati dan Koramil setempat. Sementara polisi dari Mapolda, menurut Sardinar baru datang sekitar satu jam kemudian. "Wah sudah langsung ramai, polisi berjaga semua, padahal waktu kejadian tidak ada sama sekali, sampai saya tidak mendengar apa-apa, suara mobil pun tidak terdengar," kisahnya. (mon)

Baca  Juga  :

Editor: Budi Prasetyo
Sumber: Tribun Jogja

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas