• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 24 April 2014
Tribunnews.com

Jasa Tukang Parkir Bisa Pesan Purel Polos

Rabu, 10 April 2013 15:16 WIB
Jasa Tukang Parkir Bisa Pesan Purel Polos
IST
ILUSTRASI

Laporan Wartawan Surya, Tim surya

TRIBUNNEWS.COM,KEDIRI - Perlu diketahui, sejak tahun 1998 Kota Kediri sebenarnya tak lagi punya lokalisasi sebagai tempat mangkal pekerja seks komersial (PSK). Itu karena lokalisasi Semampir sebagai satu-satunya tempat mangkal secara resmi ditutup melalui SK Wali Kota.

Meski begitu, bisnis prostitusi di Kota Tahu bukan malah surut. Sejumlah wisma yang dulunya menjadi tempat mangkal PSK, sejak lama disulap oleh pengelolanya menjadi rumah karaoke. Sejumlah wanita yang dipekerjakan sebagai purel, nyambi melayani nafsu birahi tamu yang datang.

Celakanya bisnis prostitusi terselubung di Kota Kediri menyebar luas di tempat-tempat lain dengan berkedok cafe dan rumah karaoke. Sejumlah rumah karaoke terkenal yang memiliki cabang di kota besar juga menjadikan 'bisnis haram' tersebut sebagai bentuk usaha lain. Bahkan sejumlah rumah karaoke keluarga kini nekat menjalankan bisnis ‘menyimpang’ dengan menyediakan purel plus-plus.

Di Mojokerto, tempat-tempat hiburan malam juga seolah berlomba memenangkan hati pelanggan. Selain menyediakan purel pelajar, para pengelola cafe dan rumah karaoke di sana kini juga menyuguhkan layanan penari telanjang (striptease).

“Tarifnya minimal satu juta,” kata Wahyu, sebut saja demikian, seorang profesional muda yang pernah menikmati layanan striptease di sebuah tempat hiburan di Mojokerto.

Sama dengan di Kediri, para pelaku bisnis ini juga memanfaatkan jasa para tukang parkir untuk mengabarkan adanya layanan plus-plus di tempat hiburan yang mereka kelola. “Tanya saja para tukang parkir itu, mereka semua pasti tahu,” katanya.

Sosiolog Universitas Airlangga (Unair) Bagong Suyanto menilai fenomena berburu purel ‘lugu’ dan 'polos' menunjukkan, laki-laki penikmat dunia ini kini memilih wanita penghibur yang tidak terkenal. Mereka semakin tahu kalau wanita penghibur semakin terkenal , risiko medisnya (penyakit kelamin) semakin tinggi.

“Karena itu mereka memilih perempuan penghibur yang tidak begitu terkenal yang ada di daerah-daerah. Mungkin juga perempuan penghibur di sana tidak neko-neko, lebih sopan, tidak terlalu mahal dan masih polos. Wajah relatif, karena yang penting pelayanan,” katanya.

Editor: Yoni Iskandar
Sumber: Surya
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
1652561 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas