Kamis, 2 Juli 2015
Tribunnews.com

Aksi Perampasan Debt Collector Menuai Protes LSM

Kamis, 11 April 2013 14:45 WIB

Aksi Perampasan Debt Collector Menuai Protes LSM
Tribun Medan/Feriansyah
Seratusan massa dari LSM Perintis bersama pihak yang merasa menjadi korban penarikan sewenang-wenang menyeruduk perusahaan multi finance PT Internusa Tribuana Citra (PT ITC) yang berkantor di Jalan SM Raja, Medan, Kamis (11/4/2013) siang.

Laporan Wartawan Tribun Medan, Feriansyah Nasution

TRIBUNNEWS.COM, MEDAN - Penarikan kendaraan ala premanisme dilakukan debt collector mengundang reaksi protes dan kecaman dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Medan.

Seratusan massa dari LSM Perintis bersama pihak yang merasa menjadi korban penarikan sewenang-wenang menyeruduk perusahaan multi finance PT Internusa Tribuana Citra (PT ITC) yang berkantor di Jalan SM Raja, Medan, Kamis (11/4/2013) siang.

Muliady (36), pengusaha jasa pengangkutan ini mengaku menjadi korban perampasan dilakukan debt collector yang bekerja di PT ITC. Warga Tanjung Sarang, Dusun Abadi, Kec Panai Hulu, Rantau Prapat, Labuhan Batu itu menceritakan, sekitar tahun 2011, dengan agunan dua bus Marcedes Benz Nopol BL 7533 A dan BL 7605 PB dirinya meminjam uang ke PT ITC Multi Finance sebesar Rp 150 juta. Pinjaman tersebut disertai syarat agar ia memutasi lebih dahulu plat bus dari BL ke BK dengan biaya pengurusan Rp 20 juta. Ia pun menyepakatinya sehingga hanya menerima uang kontan pinjaman sebesar Rp 110 juta.

Seiring berjalannya waktu, setelah 10 bulan pinjaman berjalan, mutasi plat seperti yang dijanjikan PT ITC harusnya selesai satu bulan, malah tidak kunjung usai. Ironisnya, lanjut pria berkulit sao matang ini, pada 22 Oktober 2012, bus miliknya yang saat itu dikemudikan Marolop Sitanggang ketika mengisi BBM di SPBU kawasan perbaungan dirampas oleh Yos Sihombing dan empat rekannya mengaku karyawan PT ITC. Keesokan harinya, bus tersebut sudah disimpan di gudang PT ITC tak jahu dari kawasan Amplas.

"Padahal, karena menunggu mutasi itu, dua bus saya itu tidak bisa beroperasi karena STNK masih digunakan untuk keperluan mutasi. Kemudian saat berjalan empat bulan, saya sempat menemui Darwin Anggoro (Manajer PT ITC Multi Finance) disini (Jalan SM Raja). Anehnya, diakui Darwin saat itu uang Rp 20 juta masih di tangannya. Ku duga uang pengurusan mutasi digelapkan, karena surat perjanjian kontrak dan STNK asli masih terlihat diklip bergandengan," kata Muliady kepada wartawan di lokasi unjuk rasa.

Atas perampasan bus miliknya, Muliady yang mengaku baru menunggak pembayaran angsuran selama dua bulan itu, melaporkan kasus tersebut ke Polresta Medan. Namun sayang, hingga saat ini laporan tentang pencurian pemberatan serta penggelapan yang tertuang pada tanda bukti lapor STTLP 3313/XII/2012/Resta Medan mengendap tak jelas nasibnya.

Halaman12
Editor: Dewi Agustina
Sumber: Tribun Medan
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas