KA Bandung-Cianjur Berhenti Beroperasi Karena Kekurangan Subsidi Pemerintah

Menurut Bambang, lokomotif BB yang sekarang mengalami kerusakan

KA Bandung-Cianjur Berhenti Beroperasi Karena Kekurangan Subsidi Pemerintah
Tribunnews.com/Willy Widianto
Kereta api

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Kepala Humas PT KAI Daerah Operasional (Daop) II Bandung, Bambang Setiyo Prayitno, menyebutkan, pihaknya menghentikan operasional KA Cianjuran sejak lima bulan lalu karena beberapa faktor, walaupun jalur tersebut sudah beroperasi sejak abad ke-19 silam.

"Alasan pertama, karena tidak adanya lokomotif yang cocok pada rute itu. Lokomotif yang cocok pada jalur itu adalah tipe BB. Lokomotif tipe BB mempunyai tekanan gandar 12 ton lebih ringan daripada CC dengan tekanan gandar lebih berat, yaitu 14-15 ton, yang kini diandalkan PT KAI pada rute-rute yang masih beroperasi saat ini, seperti KA Argo Parahyangan, Argo Wilis dan lainnya," kata Bambang, Rabu (10/4/2013).

Menurut Bambang, lokomotif BB yang sekarang mengalami kerusakan. Pihaknya, ujar Bambang, kesulitan memperoleh suku cadang untuk memperbaiki lokomotif jenis BB.

Penggunaan lokomotif jenis BB, jelasnya, karena jalur wilayah Cianjur-Bandung ada petak jalan antara stasiun Tagog Apu-Cipatat yang memiliki tingkat kelandaian tergolong ekstrem sekitar 40 per mil, dan juga lintas Padalarang Cianjur ada beberapa titik rawan pergerakan tanah.

Faktor lainnya, ujar Bambang, infrastruktur pendukung, seperti sistem persinyalan, yang tidak memadai. Diungkapkan, saat ini sistem persinyalan pada jalur itu banyak yang rusak bahkan tidak berfungsi, sebagai efek cukup banyaknya aksi pencurian.

Ketika masih beroperasi, tuturnya, untuk berkomunikasi, pihaknya menggunakan sistem radio antarstasiun. Dahulu, pihaknya mengoperasikan dua perjalanan KA, masing-masing pemberangkatan dari Cianjur mapun Bandung.

Namun, adanya kerusakan persinyalan, karena tidak memenuhi regulasi akhirnya berjalan hanya satu KA saja dan menggunakan komunikasi radio antarstasiun untuk warta perjalanan KA.
"Sangat berbahaya jika kami tetap mengoperasikan dua rute," jelasnya.

Faktor lainnya, lanjut Bambang, pihaknya tidak menerima Public Service Obligation (PSO) atau subsidi pemerintah. Dia berpendapat, biaya operasional Cianjur-Bandung tergolong tinggi, karena antara daya angkut penumpang yang hanya dua gerbong atau kereta, sementara biaya lainnya juga harus dipenuhi.

Menurut Bambang, pihaknya tidak hanya harus menutupi biaya operasional KA, tetapi juga biaya SDM, perawatan KA dan jalurnya, pemeliharaan jaringan, dan lainnya.

Memang, kata Bambang, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Cianjur, terakhir pihaknya mengoperasikan KA Cianjur-Padalarang kelas bisnis atau KA komersial. Namun, kata Bambang, tidak seluruh masyarakat menerimanya karena warga menilai tarif tiket yang terlalu tinggi.

Bambang mengungkapkan, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan memang sedang merevitalisasi Sukabumi-Cianjur-Padalarang, termasuk perbaikan infrastrukturnya. Namun sampai kemarin belum ada berita acara serah terima operasi.

Mengenai adanya keinginan masyarakat yang ingin rute Cianjur-Bandung diaktifkan kemablai, Bambang mengakui menerimanya.

"Tapi, tentunya, untuk mengaktifkan rute itu bukan perkara mudah. Butuh waktu dan berbagai upaya, faktor keamanan yang kami utamakan sebagai operator KA. Jadi hal ini bergantung pada putusan pemerintah sebagai regulator, ya mudah-mudahan revitalisasi maupun reaktivasi bisa cepat selesai. Prasarana mapun sarana bisa sesuai yang diharapkan," katanya.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved