• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 18 April 2014
Tribunnews.com

Implementasi Kurikulum 2013 Menjadikan Guru-guru Seperti Robot

Sabtu, 13 April 2013 01:48 WIB
Implementasi Kurikulum  2013 Menjadikan Guru-guru Seperti Robot
Pos Kupang
Suasana diskusi

Laporan Wartawan Pos Kupang, Oby Lewanmeru dan Novemy Leo

TRIBUNNEWS. COM, KUPANG - Perwakilan guru di Kota Kupang menilai implementasi kurikulum pendidikan 2013 akan menjadikan guru-guru seperti robot. Alasannya, semua Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Silabus disusun oleh pemerintah pusat. Sedangkan guru hanya siap untuk mengajar dengan RPP yang ada.

"Silabus dan RPP sesuai Kurikulum 2013 ini, semuanya disusun atau disiapkan pemerintah pusat. Kondisi ini sama saja guru dijadikan seperti robot," ujar Pembantu Rektor I Bidang Akademik Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, Drs. Kristianus Manek, M.Sc, pada acara Focus Group Discussion (FGD) di Kampus Unwira Kupang, Jumat (12/4/2013).

Diskusi terbatas dengan tema "Kurikulum 2013 dan Kualitas Pendidikan," ini diselenggarakan Litbang Harian Kompas. Hadir pada diskusi itu beberapa guru, yakni Alex Kapitan Langkeru (guru SMPN 11 Kupang), Yustinus Darmo Tukan (guru SMPN 1 Kupang), Wilem Beribe (guru SMA Giovanni Kupang), Dorce Aiyal (guru SDI Fatufeto 1 Kupang), Rosalin Toi (Kepala SDI Oeleta Kupang) dan Imam Nawawi (Kepala Madrasah Ibtidayah Fathul Mubin Namosain). Moderator dari Litbang Kompas, M. Toto Suryaningtyas dan BI Purwantari.

Menurut Manek, proses sosialisasi kurikulum 2013 di sekolah dan implementasinya perlu melalui kajian, terutama evaluasi terhadap kurikulum 2006 lalu.

"Untuk kurikulum 2013, silabus, RPP disiapkan atau disusun dari pusat. Kalau itu kondisinya, maka kita jadi seperti robot. Seharusnya kurikulum yang dibuat bisa mempertimbangkan karakteristik wilayah," tegas Manek.

Dia menjelaskan, dalam kurikulum 2006 para guru tidak siap untuk mengimplementasikannya karena berkaitan dengan keterbatasan persiapan perangkat pembelajaran.

"Selain itu, pendidikan dan latihan (diklat) tidak intens. Waktu yang dialokasikan satu minggu biasanya dibuat dua atau tiga hari saja, sehingga dari segi kemampuan guru menafsir saja apa yang diperoleh dari diklat itu dalam membuat instrumen pembelajaran," ungkapnya.

Manek juga mengatakan, perubahan kurikulum pendidikan harus disesuikan dengan perkembangan minimal 5 -10 tahun. Apabila program dalam kurikulum itu bisa terarah, maka diperlukan evaluasi.

"Lalu kapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) atau kurikulum 2006 dievaluasi, efektivitasnya bagaimana?" tanya Manek.

Editor: Toni Bramantoro
Sumber: Pos Kupang
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
1663581 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas