• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 1 Oktober 2014
Tribunnews.com

Ekspor Kopi Sumut Mulai Pulih

Minggu, 14 April 2013 23:38 WIB
Ekspor Kopi Sumut Mulai Pulih
SERAMBI INDONESIA/M ANSHAR
Pekerja mempersiapkan kayu untuk bahan bakar di salah satu tempat pengolahan biji kopi secara tradisional di Desa Ie Masen Ulee Kareng, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh, Senin (25/3/2013). Permintaan kopi yang diolah secara tradisional masih sangat diminati karena dianggap memiliki cita rasa tersendiri. SERAMBI/M ANSHAR

TRIBUNNEWS.COM, MEDAN - Sempat anjlok di awal tahun, ekspor kopi asal Sumatera Utara mulai pulih pada awal Maret 2013.

Kasi Ekspor Pertanian dan Pertambangan Disperindag Sumut, Fitra Kurnia mengatakan, peningkatan kinerja ekspor kopi ini cukup menggembirakan. Karena kopi kini dapat menjadi salah satu pendorong pencapaian devisa di tengah tergerusnya kinerja ekspor komoditas unggulan Sumut, seperti CPO dan karet.

"Kinerja ekspor kopi kita memang cukup menggembirakan. Apalagi terjadi di saat hampir seluruh komoditas unggulan kita mengalami penurunan. Berdasarkan Surat Keterangan Asal yang kita terbitkan, nilainya meningkat 23,63 persen," katanya, Minggu (14/4) di Medan.

Pertumbuhan kinerja ekspor ini, katanya, semakin positif karena jika dilihat dari sisi jumlah, peningkatan kinerja ekspor bukan hanya didorong kenaikan volumenya, tapi juga karena kenaikan harga.

Aktivitas ekspor kopi Sumut yang dikapalkan melalui terminal peti kemas Belawan International Container Terminal (BICT) juga mengalami peningkatan yang signifikan. Tercatat hingga akhir triwulan I tahun ini, Ekspor kopi Sumut sudah mencapai 20.725 ton atau meningkat sekitar 18,89 persen dibanding periode serupa 2012 yang berjumlah 17.432 ton.

"Kenaikan ini merupakan kebangkitan ekspor kopi Sumut pasca terjadinya krisis finansial. Sebab sebelumnya ekspor kopi Sumut yang banyak diproduksi di Sidikalang mengalami penurunan yakni selama tahun 2012 jumlahnya 85.470, sedangkan tahun 2011 berjumlah 92.667 ton atau turun sekitar 7,76 persen," ujar Suratman, Humas BICT.

Di awal tahun, eksportir kopi Sumut memang mengaku masih kesulitan ekspor karena harga lokal masih tetap menguat atau hampir sama dengan penjualan ke luar negeri.

"Harga lokal di kisaran Rp 40.000 - Rp 41.000 per kg sementara harga ekspor hanya Rp41.000-Rp 42.000 per kg. Dengan kondisi itu, pengusaha masih sulit bertransaksi," kata Andryanus Simarmata, Ketua Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Sumut.

Akibat harga beli dan ekspor hampir sama itu, eksportir cenderung melakukan wait and see sembari menunggu stabilnya harga. Menurutnya, masih mahalnya harga jual di pasar lokal karena stok yang masih belum terlalu banyak di tangan petani dan pedagang.

Namun belakangan permintaan kopi dari Amerika Serikat dan Jepang ke Sumut semakin menguat dan itu membuat harga ekspor bertahan lumayan tinggi di kisaran 3,9 dolar AS per kg meski produksi melimpah akibat masuk masa panen.
"Eksportir kopi Sumut mulai lega. Tingginya nilai ekspor membuat perdagangan kopi kembali menguntungkan apalagi harga kopi di pasar lokal tren menurun menjadi Rp32.000,00-Rp33.000,00 per kg dampak masuknya masa panen," ujarnya. (ers)

Editor: sanusi
Sumber: Tribun Medan
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
1668582 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas