• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 24 April 2014
Tribunnews.com

Mama Aleta, Pahlawan Lingkungan Asal Flores Mendunia Hingga San Fransisco

Senin, 15 April 2013 16:07 WIB
Mama Aleta, Pahlawan Lingkungan Asal Flores Mendunia Hingga San Fransisco
Istimewa
Mama Aleta, pahlawan lingkungan dari Flores.

TRIBUNEWS.COM, FLORES - Tahun 1996, kehidupan masyarakat suku Molo, Nusa Tenggara Timur terusik oleh kedatangan beberapa perusahaan tambang marmer.

Perusahaan tersebut siap mengeksplorasi gunung Bukit Naususu, gunung yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat.

Buat suku Molo dan sebagian besar rakyat NTT, alam memang dianggap sakral. Alam juga menjadi sumber minuman dan makanan, obat-obatan termasuk mata pencaharian mereka.

Bukan dengan merusaknya, melainkan memanfaatkannya secara bertanggungjawab dengan merawat dan menanam kembali.

Seiring perjalanan waktu, hutan-hutan di area pegunungan mulai ditebang. Alhasil, bencana alam seperti longsor sering menimpa mereka. Debit air pun berkurang.

Siapa yang tidak geram ketika rumahnya dirusak oleh "orang asing".

Muncullah sosok Aleta Baun, seorang pribumi Molo, yang menolak keras kehadiran perusahaan tersebut dan kaum kapitalis lainnya yang ingin mengeksploitasi alam mereka.

Perempuan kelahiran Desa Lelobatan, Molo, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, 16 Maret 1963 itu pun beraksi.

"Kami bersemboyan bahwa 'tanah merupakan daging, air merupakan darah, batu merupakan tulang, hutan merupakan pembuluh darah dan rambut'. Maka kami percaya bila atau jika salah satu dari unsur-unsur ini sampai rusak, kami memulai proses kematian dan kehilangan jatidiri kami, maka amatlah penting bagi kami untuk melindungi tanah kami," katanya dalam siaran pers yang diterima TRIBUNnews.com.

Mama Aleta, begitu ia dikenal warga, bukan memprotes dengan spanduk, banner atau aksi brutal seperti yang dilakukan pemrotes biasanya, melainkan dengan menenun.

Aksinya itu dimulai pada tahun 1999.

Awalnya hanya tiga orang yang berpartisipasi. Bermodalkan keprihatinan dan kegigihan, Mama Aleta mencari dukungan dari kampung-kampung.

Perjalanannya hanya mengandalkan kaki. Jarak tempuh dari kampung ke kampung bisa menghabiskan waktu enam jam. Namun itu bukanlah halangan.

Dari tiga orang, sekarang menjadi ratusan orang.

Bersama-sama, mereka menenun di depan kantor pertambangan. Tidak berbicara sama sekali dan hanya menenun. Aksinya itu bisa berlangsung sebulan, dua bulan, bahkan hingga setahun membuat mereka terpaksa terpisah lama dari sanak keluarga tercinta. Semuanya demi kelestarian alam dan kehidupan bersama.

Teror juga menjadi harga yang harus dibayar.

Ancaman pembunuhan rasanya sudah sering mewarnai perjuangan mereka. Tak terkecuali Mama Aleta. Pada tahun 2004, rumah Mama Aleta sering didatangi preman dan sering dilempari batu.

Di rumah itu, tinggal Mama Aleta dan suami, serta anak-anaknya. Keselamatan keluarga pun tergadaikan.

Namun perjuangan Mama Aleta tidaklah sia-sia. Pada tahun 2007, beberapa perusahaan tambang mulai hengkang dari tanah sakral mereka.

Namun perjuangannya tidak berhenti di situ saja. Mama Aleta terus membangun kerja sama dengan berbagai pihak seperti kepala adat untuk memastikan daerah mereka bersih dari penambang.

Mama Alete juga didukung oleh beberapa organisasi non-profit seperti  Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) dan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam).

"Saya bekerja sama dengan suku adat Molo dan berbagai komunitas pribumi lain di kawasan ini dalam memetakan wilayah kami. Tujuannya ialah untuk memulihkan hak atas tanah kami dan memastikan bahwa tanah itu dilindungi oleh undang-undang, serta melestarikan dan melakukan rehabilitasi di area-area yang dirusakkan oleh perusahaanperusahaan pertambangan," tuturnya.

Dedikasi penuh Mama Aleta untuk menyelamatkan dan melestarikan lingkungan itu juga mendapat apresiasi di negara Paman Sam.

Mama Aleta akan diberi penghargaan The Goldman Environmental Prize.

Penghargaan ini diberikan untuk mendukung orang-orang yang berjuang memenangkan menyelamatkan lingkungan hidup dari ancaman-ancaman.

The Goldman Environmental Prize. dirintis dalam tahun 1989 oleh pemimpin masyarakat dan dermawan Richard N. Goldman dan istrinya, Rhoda H.
Goldman.

Penghargaan ini diharapkan dapat mengilhami orang-orang biasa untuk mengambil tindakan-tindakan luar biasa demi melindungi dunia ini.

Upacara penghargaan akan berlangsung di San Fransisco, AS, Senin (15/4/2013) siang waktu setempat.

Daniel Ngantung

Penulis: Daniel Ngantung
Editor: Agung Budi Santoso
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
1671702 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas