Sabtu, 20 Desember 2014
Tribunnews.com

BBPOM Sita Ratusan Kosmetik Ilegal

Selasa, 23 April 2013 01:12 WIB

BBPOM Sita Ratusan Kosmetik Ilegal
TRIBUNNEWS,COM/HERUDIN
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menguji sejumlah makanan, jamu, dan obat-obatan di Pasar Perumnas Klender, Jakarta Timur, Rabu (20/3/2013). Pengujian dilakukan untuk mengetahui zat berbahaya pada makanan yang biasa dikonsumsi masyarakat.

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Bandung meminta masyarakat mewaspadai penggunaan suntik hormon untuk keperluan kecantikan. Ditengarai, produk-produk yang dipakai di sejumlah salon kecantikan itu tidak memiliki izin edar, belum diketahui kandungannya, dan penggunaannya tidak seusai dengan aturan.

Belum lama ini, BBPOM Bandung bersama kepolisian dan Dinas Kesehatan Kota Bandung melakukan operasi dengan sasaran sebuah tempat praktik kecantikan di Bandung selatan. Tempat ini memiliki banyak pelanggan dan telah mengiklankan produk perawatan obat dan kosmetik tanpa izin edar secara online. Dari hasil investigasi serta didukung dari laporan masyarakat, BBPOM melakukan penyidikan dan menemukan tempat penyimpanan obat dan kosmetik tanpa izin edar, seperti Progesteron Cream, Testosteron Cream, Tationil 600, Essen C, Vit C Inj, Face Mask, dan produk lainnya yang total mencapai 116 item.

"Awalnya saat dilakukan pengawasan, produk-produk ini tidak ada, tapi setelah dilakukan investigasi kembali, ditemukanlah produk ilegal ini karena jelas tidak izin edarnya," kata Kepala Badan POM RI, Lucky S Slamet, saat melakukan jumpa pers di Aula BBPOM Bandung, Jalan Pasteur, Senin (22/4/2013).

Produk-produk yang ditemukan ini, menurut Lucky, tidak mempunyai nomor keamanan dan izin mutunya belum dijamin. Menurut hasil temuan, ujarnya, kebanyakan bukan kosmetik, tapi justru obat injeksi yang mengandung hormon. Hal ini jelas sudah melanggar definisi kosmetik sendiri, yakni hanya untuk pemakaian di luar kulit, sedangkan injeksi langsung masuk ke tubuh.

"Keinginan tampil cantik dimanfaatkan banyak orang. Sudah jelas injeksi tidak boleh ada di tempat praktik seperti itu," katanya.

Lucky mengatakan, produk ini bukan barang baru di dunia obat. Namun menjadi barang baru untuk produk kosmetik. Produk injeksi ini dimanfaatkan untuk meremajakan kulit atau reduce (memudakan) kulit. Di antara produk-produk tersebut ada yang harganya Rp 850 ribu. Dengan iming-iming serta dipromosikan melalui situs internet, produk ini disinyalir sudah digunakan oleh konsumen.

BBPOM, yang baru menemukan produk ini pada Kamis lalu, belum melakukan pengujian kandungannya. Namun untuk kehati-hatian, kemungkinan produk ini mengandung bahan-bahan dilarang, bahkan dikhawatirkan ada bahan pemutih yang dilarang, yakni merkuri.

"BBPOM akan segera melakukan pengujian kandungannya. Namun yang jelas, produk ini sudah jelas peruntukannya bukan untuk kosmetik, terlebih di tempat praktik semacam salon ini," katanya.

Ia juga menambahkan, temuan ini masih akan dikembangkan. Dari hasil penyelidikan ini, pihaknya mengamankan seorang perempuan dari tempat praktik kecantikan tertsebut. Diharapkan, penangkapan ini mengungkap kasus lain. (tif)

Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Tribun Jabar

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas