Minggu, 23 November 2014
Tribunnews.com

Bobol Situs SBY, Mabes Polri Rekrut Wildan

Kamis, 25 April 2013 03:24 WIB

Bobol Situs SBY, Mabes Polri Rekrut Wildan
rawstory.com
Hacker.

TRIBUNNEWS.COM, JEMBER - Penyidik Cyber Crime Mabes Polri mengaku kaget ketika mengetahui Wildan Yani Ashari yang berhasil membobol situs pribadi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, hanyalah lulusan STM jurusan Teknik Bangunan. Lebih kaget lagi ternyata pemuda asal Desa Balung Lor, Kecamatan Balung, Kabupaten Jember itu masih berusia muda (19 tahun) namun mempunyai bakat luar biasa di bidang teknologi informasi (TI).

Demikian kesaksian yang disampaikan Iptu Grawas Sugiarto, seorang penyidik Cyber Crime Mabes Polri yang dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) dalam persidangan lanjutan kasus peretasan dengan terdakwa Wildan Yani Ashari di Pengadilan Negeri (PN) Jember, Rabu (24/4/2013).

Grawas adalah salah satu perwira yang ikut menangkap Wildan pada 25 Januari 2013 di Warnet Surya.Com di Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, Jember. Ia juga mengaku menyamar sebagai hacker anggota Jember Hacker Team (JHT) ketika berada di warnet tersebut.

Kepada majelis hakim, Grawas mengungkapkan bahwa Mabes Polri memutuskan untuk membina Wildan, setelah bebas kelak, agar dia menggunakan bakatnya secara benar. "Yang membuat kami kaget Yang Mulia, ternyata Wildan ini  masih sangat muda, anak lulusan STM Bangunan tetapi sangat berbakat di bidang IT. Karenanya, kami dari Mabes Polri akan membina ia kembali ke jalan yang benar, supaya kemampuannya dipergunakan secara benar," ujar Grawas.

"Berarti Wildan nanti akan direkrut, jadi apa, apa jadi polisi?" Tanya ketua majelis hakim, Syahrul Machmud.

Grawas tidak menjawab secara detail, ia hanya mengatakan kalau itu sudah dibahas di tingkat pimpinan Cyber Crime Mabes Polri.

Usai persidangan, kepada wartawan, Grawas memastikan bahwa Mabes Polri memang akan mengarahkan bakat yang dipunyai Wildan. Ia tidak membantah bahwa Mabes Polri akan merekrutnya. "Kami akan bina agar bisa tersalur secara baik sehingga tidak menjadi liar. Bisa sekolah dan mendapat penghasilan dari bakatnya itu," tegas Grawas.

Namun Grawas tidak menjelaskan secara rinci, di mana Wildan akan disekolahkan atau tugas seperti apa yang akan diberikan kepadanya.

Kabar Wildan akan disekolahkan dan direkrut Mabes Polri pertama kali diungkapkan orang tuanya, Ali Jakfar dan Sri Hariyati, beberapa waktu lalu. Orang tua Wildan mendapat informasi itu dari Kepala Sub-Direktur IT dan Cyber Crime Polri, Komisaris Besar Winston Tommy Watuliu, bahwa anaknya akan diikutkan pendidikan khusus di bidang teknologi informasi. Wildan dijanjikan menjadi staf Tim Cyber Crime Mabes Polri. Namun demikian, kata Ali, proses hukum Wildan tetap dilanjutkan.

Wildan sendiri ketika ditanya tentang harapannya setelah menyelesaikan proses hukum, menjawab ingin menggunakan keahlian secara baik. Dia enggan menanggapi kabar dirinya bakal direkrut Mabes Polri. “Saya tidak mau menjawab sesuatu yang belum pasti. Kalau sudah pasti, tentu akan saya jawab,” kata Wildan kepada Surya beberapa hari lalu.

Tak Mencuri Data

Eman memastikan Wildan Yani Ashari tidak merusak ataupun mencuri data dari website presidensby.i=fo yang diretasnya. Ia hanya membelokkan DNS (Domain Name Server) situs Presiden SBY.

Hal itu membuat pengguna internet tidak bisa mengakses laman berisikan infromasi tentang kegiatan Presiden SBY. Ketika mengklik www.presiden­sby.info, maka akan muncul tampilan hitam bertuliskan 'Jember Hacker Team' da= logonya.

Lalu saat ditanya kerugian apa yang dialami sehingga melaporkan Wildan ke Mabes Polri, Eman menjawab perbuatan Wildan bisa memengaruhi kepercayaan klien. "Kalau kerugian yang saya alami, kepercayaan pelanggan dan calon pelanggan saya bisa turun," ujar Eman. "Hanya itu?' tanya anggota majelis hakim, Nur Kholis. "Ya Pak Hakim hanya itu," ujar Eman.

Nur Kholis juga mencecar Eman apakah keamanan di perusahaan Eman selaku penyedia layanan ISP dan webhosting tinggi. Eman menjawab dalam dua tahun terakhir, servernya tidak pernah kebobolan.

"Namun ternyata bisa dibobol sama Si Wildan, kok katanya pengamanannya tinggi," kata Nur Kholis yang hanya ditanggapi dengan senyuman oleh Eman. Wildan pun juga ikut tersenyum.

Sementara itu, penyidik Mabes Polri Iptu Grawas Sugiarto mengatakan pihaknya mengetahui perbuatan Wildan yang memiliki nama samaran MJL 007 dari temuan tim Cyber Crime sendiri, juga dari laporan Eman. Setelah itu, tim melakukan penelusuran forensik terhadap nama MJL 007. Penelusuran itu mengarah pada IP Address sebuah warnet di Jalan Letjen Suprapto, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, Jember. Polisi pun menyamar untuk mendapatkan nama asli MJL 007. Penyamaran dilakukan di dalam warnet pada 25 Januari 2013 mulai pukul 18.00 WIB.

Setelah identitas MJL 007 terungkap, pukul 23.00 WIB, polisi yang telah membawa surat penangkapan, penggeledahan dan penyitaan langsung menangkap Wildan. Ia kemudian diterbangkan ke Mabes Polri.

Senada dengan Eman, Grawas menerangkan bahwa tidak ada pencurian atau pengrusakan terhadap situs Presiden. "Tidak ada yang dirusak atau data yang dicuri. Dia melakukan apa yang kami sebut DNS re-direction (pembelokan)," tegas Grawas.

Lebih lanjut Grawas mengungkapkan bahwa berdasarkan jejak di CPU warnet yang disita, Wildan telah meretas lebih 5.000 situs. Atas keterangan para saksi, Wildan tidak keberatan ataupun membantah. (uni)

Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Surya

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas