• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 24 Oktober 2014
Tribunnews.com

Guru Matematika Cabuli Siswi Bermodus Les Tambahan

Minggu, 5 Mei 2013 23:12 WIB
Guru Matematika Cabuli Siswi Bermodus Les Tambahan
NET
ILUSTRASI

Laporan Wartawan Pos Kupang, John Taena

TRIBUNNEWS.COM, WAINGAPU - Hermanto (31) diciduk aparat Polres Sumba Timur, Sabtu (4/5/2013) sekitar pukul 01.00 dini hari.

Hermanto diduga melakukan pelecehan seksual terhadap Melati (16), siswi kelas XI di sekolahnya.

Penahanan pria asal Wolowaru, Ende, NTT yang berprofesi sebagai guru Matematika pada salah satu SMA di Waingapu, berdasarkan laporan orangtua korban.

Kepada aparat di RSPK Polres Sumba Timur, Melati (bukan nama sebenarnya), yang didampingi orangtua dan kerabatnya menjelaskan, peristiwa pelecehan bermula ketika ia diminta mengikuti les tambahan di sekolah oleh tersangka.

Sebagai seorang murid, Melati tidak menaruh curiga apapun. Namun, sang guru yang sudah memiliki rencana jahat, mulai melancarkan aksi bejatnya pada Melati di ruang laboratorium, Senin (29/4/2013) sore.

Saat melakukan aksinya, sang guru menodongkan sebilah pisau kepada Melati. Ini membuat Melati merasa takut dan tidak melawan. Dengan leluasa, Hermanto meraba payudara serta kemaluan Melati.

"Dia suruh datang les sore, untuk bisa meningkatkan kemampuan dan menaikkan nilai matematika. Saya tidak curiga, ternyata kemudian saya dilecehkan," kisah Melati di Mapolres Waingapu.

Ayah korban kepada wartawan di RSPK Polres setempat menuturkan, pelecehan seksual oleh oknum terhadap anaknya, baru diketahui Jumat (3/5/2013) malam.

Sebab, setelah kejadian, Melati dilarang melaporkan peristiwa tersebut kepada aparat dan orangtuanya.

"Kami juga tidak tahu. Untung ada yang beritahu kami. Menurut anak-anak, masalah ini sudah ditangani pihak sekolah diam-diam. Para guru juga melarang anak-anak tidak lapor ke kami, karena sudah diselesaikan kemarin," ungkapnya.

Ayah korban menjelaskan, setelah mendapat laporan dari kerabat dan rekan korban, sebagai orangtua mereka menanyakan kebenaran informasi itu kepada anaknya.

Saat itu, sang anak hanya bisa menangis dan menceritakan semua peristiwa yang dialaminya, dan proses penyelesaian yang difasilitasi kepala sekolah.

"Kami sebagai orangtua sangat kecewa. Kami kesal dengan sikap yang diambil kepala sekolah. Kenapa mereka mau menutupinya?" ujarnya.

"Saya sebagai orangtua justru baru tahu sore tadi. Saya kemudian diceritakan oleh anak saya bahwa dia ditekan kepala sekolah untuk jangan bicarakan kasus ini ke orangtua, atau jangan dilaporkan, karena mencemari nama baik sekolah. Ternyata guru kurang ajar itu ditampung di rumah kepala sekolah. Untung saja polisi cepat tangkap, kalau tidak kami dapat informasi dia mau kabur ke Flores dengan ferry siang nanti," beber ayah korban.

Pantauan Pos Kupang (Tribunnews.com Network), Jumat (4/5/2013) dini hari, saat melaporkan kasus tersebut, korban ditemani kerabat dan kedua orangtua.

Usai menerima laporan kasus pelecehan seksual oleh guru terhadap muridnya, di bawah pimpinan Kepala RSPK Polres Waingapu Yulius Retang bersama sekitar 10 anggota yang terdiri dari intel dan buser, menjemput tersangka.

Para petugas menggunakan sepeda motor dan satu unit mobil patrol. Tersangka dijemput dari rumah kepala sekolah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya di Waingapu.

Ketika tiba di Mapolres, tersangka langsung ditangani pihak berwajib. Kepada petugas, tersangka mengakui perbuatannya. Hermanto juga menjelaskan kasus tersebut sudah diselesaikan secara kekeluargaan, yang difasilitasi kepala sekolah. Tersangka juga telah mengundurkan diri sebagai guru Matematika dari sekolah tersebut. (*)

Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Pos Kupang
0 KOMENTAR
1749611 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas