Senin, 22 Desember 2014
Tribunnews.com

Pembangunan Asrama UGM

Selasa, 7 Mei 2013 16:54 WIB

Pembangunan Asrama UGM
DOK
UGM Logo

TRIBUNNEWS.COM SLEMAN, – Universitas Gadjah Mada (UGM) merasa telah menderita kerugian material sekitar Rp 2,2 miliar terkait pembangunan asrama mahasiswa Cemara Lima. Pasalnya, pihak kontraktor, PT Wahyu Prima, dinilai tidak bekerja professional dan mengakibatkan bangunan asrama tersebut mangkrak.

Demikian disampaikan Sekretaris Eksekutif UGM, Gugup Kismono, Selasa (7/5/2013). Pihaknya pun akhirnya memutus kontrak dengan PT Wahyu Prima terkait pembangunan asrama yang berlokasi di Karanggayam, Caturtunggal, Depok, Sleman itu.

“Dengan terbengkalainya pekerjaan Asrama Cemara Lima ini, kerugian UGM secara material sekitar Rp 2,2 miliar, karena kami kehilangan kesempatan untuk memanfaatkan dana renovasi tersebut,” katanya.

Gugup menjelaskan, selama pelaksanaan pembangunan Asrama Cemara Lima, UGM senantiasa memegang asas ketaatan terhadap peraturan yang berlaku dan telah disepakati sebelumnya. Termasuk memenuhi hak dan kewajiban yang telah tertuang dalam kontrak antara kedua belah pihak.

Namun, PT Wahyu Prima disebutnya tidak bekerja secara professional lantaran pembangunan mengalami beberapa kali keterlambatan. Ia menjabarkan, keterlambatan pekerjaan tersebut terjadi sebanyak tiga kali.

Lebih lanjut ia menjelaskan, pihaknya juga telah memberikan tiga kali peringatan sesuai aturan yang berlaku.  Setiap surat peringatan juga dilengkapi dengan rekomendasi terkait apa yang seharusnya dilakukan kontraktor, agar pekerjaan dapat berjalan sesuai standar kualitas dan waktu yang ditetapkan.

“Rekomendasi yang disampaikan tidak mengindahkan dan dilaksanakan oleh PT Wahyu Prima, jadi kami putuskan untuk melakukan pemutusan kontrak, karena saat itu kontraktor baru menyelesaikan pekerjaan sebesar 51 persen, dan menurut analisa tidak mungkin dapat menyelesaikan pekerjaan pada waktu yang ditetapkan,” tandasnya.

Tak hanya kerugian material, UGM juga mengaku menderita kerugian non-material yang sangat besar. Menurut Gugup, ketidakprofesionalan kontraktor membuat bangunan asrama menjadi mangkrak dan tidak dapat dipergunakan sebagaimana mestinya

Mahasiswa UGM pun akhirnya tidak bisa memperoleh fasilitas asrama yang mestinya telah dapat dinikmati. Selain itu, manajemen asrama juga  kesulitan untuk membuat perencanaan pengelolaan asrama.

 
“Saat ini UGM juga sedang mempertimbangkan untuk menuntut PT Wahyu Prima atas kerugian material dan immaterial tersebut,” pungkasnya. (ton)

Editor: Budi Prasetyo
Sumber: Tribun Jogja

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas